MENGAPA MEMBENCI KETIKA LEBIH MUDAH MENCINTAI?

Anita Ningrum
Karya Anita Ningrum Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Mei 2017
MENGAPA MEMBENCI KETIKA LEBIH MUDAH MENCINTAI?

Selepas Kei sembuh kemarin, entah kenapa tingkahnya luar biasa bikin ngelus dada. Yang diminta bersabar bukan cuma bundanya, tapi juga abang dan kakaknya. Soalnya Kei ini jadi sering sekali memukul dan melempar dengan tenaganya yang luar biasa tersebut.

Begitu juga pagi ini.
Berjam-jam anak ini bikin ulah dan nyaris bikin nangis Kakak Zora. Segala cara gak bisa melunakkan hati Kei. Diajak main, diajak baca, sampai dihukum tetap gak bikin Kei jera. Abang yang masih lemas selama pemulihan radang tenggorokan (lagi) udah mulai naik pitam dan siap melawan Kei begitu dia lihat Kei mulai mukul Zora. Abang memang sangat protektif ke Zora.

MasyaAllah.

Bunda menyerah. Akhirnya memutuskan ajak Kei keluar rumah. Kebetulan mau beli pulsa internet di kios pinggir jalan.
Harapannya sih, Kei jadi lebih baik mood-nya setelah jalan-jalan berdua.

Sama sekali gak menduga bahwa perjalanan singkat bersama Kei memberi ibrah sendiri justru buat Bunda.

* * *

"Bunda, jajan!"

Teriak Kei di depan toko. Kei menunjuk-nunjuk aneka minuman dingin di mesin pendingin.

Kei mengambil satu gelas minuman dingin murah. Biasanya dia cuma hobi beli tapi gak pernah menghabiskan minumannya. Jadi saya agak santai. Beli cuma untuk menyenangkan hati anaknya aja.

"Eh, buat Kakak belom, Buna.. "

"Ndak. Kakak ndak suka minuman kayak itu."

"Buat Abang?"

"Abang sakit lehernya (tenggorokannya), gak boleh minum kayak itu lagi."

Kami pun berjalan pulang selepas membayar.

* * *

Kei, bukankah ia baru saja bertengkar dengan Abang dan Kakak sepagian ini sampai menjelang pergi tadi?

Bukankah tadi Kei baru saja bilang bahwa ia masih menyimpan marah karena kemarin Kakak mengguncang-guncang tubuhnya saking kesalnya si Kakak karena Kei mengganggunya bermain.
Kakak gak ingin memukul Kei jadi Kei ia guncang-guncang. Tetap saja Kei luka hatinya. Menangis. Sedih. Dan pagi ini Kei masih marah karena itu.

Tapi Kei tetap mengingat Abang dan Kakaknya saat membeli jajanan tadi.

Ke mana kesalnya meluap?
Ke mana marahnya menghilang?

* * *

Rumit ya jadi orang dewasa.

Sebab kita jadi terlampau memikirkan bagaimana omongan orang di luar hidup kita.
Sebab kita jadi terlalu sering bertindak atas nama gengsi, harga diri atau apapun namanya yang sebetulnya juga perlu kita pertanyakan lagi.

Suatu hari saya sempat kena tegur seorang teman karena menulis status yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana perasaan saya kepada suami saat ini.

Saya membalasnya dengan: saya memang peduli atas nama saya sendiri, bukan atas nama ibu dari anak-anak kami. Sebelas tahun tidak akan dengan mudahnya terhapus dengan sekian bulan belakangan.

Ah, mengapa harus menyembunyikan peduli kepada orang yang bahkan sedang berperkara dengan kita?
Mengapa kita harus berpura-pura penuh benci padahal jauh di lubuk hati kita masih jatuh hati?

Mengapa kita lebih mudah menyembunyikan cinta dan menebarkan kebencian dengan begitu terbuka?

Bukankah justru harusnya kita bersyukur jika ternyata kita masih mampu menyayangi orang-orang yang begitu menyakiti? Karena itu artinya kita punya hati dengan luas tak terperi.

Jadi, mari duduk sejenak.
Menyesapi secangkir minuman kesukaan.
Menatapi hingar di luar jendela.
Bertanya pada diri.
Sungguhkah hanya ada benci?

  • view 56