Merawat Kenangan: Tentang Ingatan

Anita Ningrum
Karya Anita Ningrum Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Mei 2017
Merawat Kenangan: Tentang Ingatan

Ada yang pernah nonton A Thousand Days Promises? Drama Korea entah produksi tahun berapa dan pemerannya siapa. Sebagai non-kdrama-lover, saya menyarankan teman-teman googling saja sendiri ya. Hehe..
Saya menontonnya gak sengaja, mengisi waktu di sela pemulihan kesehatan pasca dilarikan ke IGD dan didiagnosis cavernoma bertahun lalu.

A Thousand Days Promises berkisah tentang seorang perempuan--entah penulis, entah editor--yang kemudian didiagnosis menderita alzheimers. Ingatannya perlahan hilang. Tentang apapun. Termasuk ingatan tentang suami dan anaknya yang masih bayi.
Dalam beberapa episode, muncul adegan si tokoh utama perempuan ini kebingungan bahkan nyaris melukai anaknya sendiri saking bingungnya.

Yang menarik buat saya saat menonton drama ini adalah ketika saya mendapati bahwa satu-satunya orang yang tidak pernah si tokoh perempuan lupa hingga sakitnya makin parah "dimakan" alzheimers adalah adiknya, Mon-Kwon. Tuh kan saya sampai ingat betul nama adiknya.
Si perempuan bisa lupa dengan suami, anak, orangtua, tapi tidak pada adiknya. Kok bisa?

Dalam beberapa adegan kilas balik, saya kemudian menyimpulkan sedikit--sebab memang tidak pernah ada penjelasan kenapa sampai dramanya selesai. Kehidupan masa kecil si tokoh perempuan dan adiknya digambarkan sangat sulit dan sengsara. Dan mereka melewatinya berdua saja, literally, berdua. Mon-Kwon sebagai adik, adalah satu-satunya sosok yang menemani, hadir dalam tiap fase kehidupan si perempuan. Sejak susah hingga menikah-punya anak dan mapan.

Entah karena alurnya sangat lambat, banyak menampilkan kesunyian, pilihan backsong yang menyayat-nyayat hati, atau memang ceritanya yang sedih, selepas episode terakhir saya jadi melo sendiri. Kemudian bertanya dalam hati: siapa Mon-Kwon saya, yang akan saya tetap ingat meski ingatan dimakan usia nantinya?

Iya.
Siapa yang akan tetap kita ingat dan simpan dalam memori kita?
Orang yang membersamai dalam melampaui berbagai masa sulit atau orang yang mengisi sekadar hari-hari indah saja?
Orang yang begitu baik dan berjasa atau malah orang yang mengajarkan banyak pelajaran hidup melalui sikapnya yang menurut kita tega?

* *

"Ratusan orang pernah berada di ruangan ini. Meminta agar semua kenangan mereka dihapus. Tetapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan."

Pernah membaca Hujan-nya Tere Liye?

Kutipan di atas adalah salah satu cakapan yang disampaikan Elijah ketika Lail memutuskan datang ke pusat modifikasi ingatan untuk menghapus kenangan tentang Esok--yang disangka Lail meninggalkannya.
Dalam cerita tersebut, teknologi sudah demikian canggih hingga memori buruk mampu dipetakan dan ditandai seperti benang berwarna merah untuk kemudian dapat dihapus sehingga manusia dapat hidup dengan bahagia berbekalkan ingatan indah dan baik saja.

Yang menarik adalah ketika ternyata Lail keluar dari ruangan tersebut dengan tetap mengingat segala detail tentang Esok. Apa mesinnya rusak hingga ingatan Lail gagal dihapus? Ternyata tidak.

Pada detik terakhir, Lail mampu mengolah ingatan tentang Esok yang tadinya berwarna merah tersebut dan mengubahnya menjadi benang biru.

Dengan apa? Bagaimana?

Dengan memeluknya erat, menerimanya, karena itu adalah bagian dari hidupnya.

* *

Saya belajar, kenangan, pada akhirnya menjadi prerogatif kita semata, sebagai pemiliknya.
Apa yang ingin kita ingat, apa yang ingin kita kenang, apa yang ingin kita lupakan, apa yang ingin kita hapus, ditentukan oleh kita sendiri.
Pun bagaimana kemudian kita menyimpan setiap kenang dalam folder ingatan kita.
Kita penentunya, bukan orang lain.

Sebab kita bahkan bisa mengingat dan menghargai banyak hal baik dalam kondisi paling buruk sekalipun.
Sebab kita bahkan bisa saja mudah lupa pada berbagai hal menyenangkan yang terjadi ketika kita tidak mampu menangkap esensinya.
Kitalah pemilik ingatan tersebut.
Kitalah penentunya, bukan orang lain.

Maka mari mengingat setiap orang dengan cara yang baik. Jikapun ia menyakiti, catat saja perbuatannya sebagai pengingat diri, tapi terima pribadinya sebagai bagian dari hidup kita yang mengajarkan banyak hal.
Terimalah. Peluklah.

Sebab begitu pula kita ingin dikenang oleh orang lain, bukan?
Dari kebaikan kita, terlepas bahwa kita pasti punya alpa sebagai layaknya manusia.

  • view 48