Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 3 Juli 2018   18:13 WIB
Bagaimana Aku tentang Menikah? - Part 1

     Ini adalah coretan-coretan fikiran ku tentang "menikah". Menikah yang aku dan semua orang di dunia ini ingin merasakan nya dalam hidup, waktu umur ku 17 tahun aku sepakat menerima ideologi bahwa "menikah itu bukan hanya merasakan tapi melaksanakan". Saat menginjak kepala 2 aku sudah berpaham "menikah itu ibadah". Bagaimana aku? Kapan aku melakukan nya? Apakah ideologi ku soal menikah itu benar?

     Nama ku Nita, saat ini umur ku 22 tahun dan seorang karyawan biasa, aku pernah mempunya hubungan dengan seorang laki-laki yang umur nya 2 tahun di atas ku. Sebut saja namanya Baim. Walaupun sebelum dengan Baim aku pernah punya pacar, tapi Baim lah yang selalu memulai membicarakan pernikahan dengan ku dari awal kami pacaran. Awalnya aku tak terlalu menggubris, karna dalam fikiran ku belum terlintas bagaimana gambaran kehidupan selanjutnya setelah menikah. Maklum saat ini umur ku baru  18 tahun, dimana aku berfikir bahwa menikah itu sesuatu yang harus dilaksanakan, tapi bukan sekarang untuk ku, lebih baik kami saling mengenal dahulu. Baim sepakat dengan kata-kata ku, walaupun dia tetap sering menyangkut hal tentang pernikahan.

     Hubungan kami mendekati umur 2 tahun, Baim dan aku memang kenal dari lokasi pekerjaan, dia juga rekan kerja ku. Jika di tempat kerja kami selalu cuek, walaupun kami masih sering curi- curi kesempatan bertemu. Hubungan aku dan Baim bisa dikatakan baik-baik aja, kami sering terlibat perang mulut, tapi tak lama berdamai lagi. Dia seringkali main ke rumah ku, maklum hubungan kami seperti anak muda lain nya, ingin selalu bersama. Sampai pada titik dimana aku merasa hubungan ku dan Baim akan lebih baik seperti apa yang pernah dikatakan nya dahulu, "menikah". Aku tak berfikir banyak tentang bagaimana nanti setelah menikah,yang ku tahu ku akan bertemu dengan nyas setiap saat dan kami akan jadi keluarga yang bahagia. Aku juga sudah dekat dengan Ibu nya Baim, dia menyukai ku. Bagi ku itu satu nilai plus yang aku dapatkan. Maka ku utarakan kepada Baim tentang kesiapan ku menyanggupi permintaan nya dulu. Sebelum bertemu dia, sudah ku bayangkan bagaimana ekspresi wajah bahagia nya. Kami bertemu di tempat kerja, dan ku utarakan pada nya saat kami pulang kerja. Ku lihat ekspresi kaget Baim, juga aku sengaja senyum-senyum menunggu jawaban dia. 

     Jawaban Baim tak seperti yang aku harapkan, ekspresi sedikit pun tak menggambarkan kebahagian, Baim bilang kita akan menikah tapi tak dalam waktu dekat ini. Aku sedih, hancur dan kecewa terlebih sebelum ku katakan pada Baim sudah ku katakan pada Ibu dan Abang ku, Ibu ku sangat mendukung karna tak ingin aku berlama-lama pacaran dan menjadi gosip tetangga. Apalagi abang ku, dia sudah banyak berhijrah pastilah tidak ingin aku berpacaran. Bagaimana aku sampaikan pada Ibu dan Abang ku? Ahh aku bukan hanya kecewa pada Baim, aku juga kecewa pada pekerjaan Baim yang biasa-biasa saja, sehingga itu menjadi alasan Baim untuk menunda rencana menikah itu.

     Aku sedih, wajah ku juga terlihat sedih dan tidak bersemangat. Rekan kerja ku menyadari itu, kami memang dekat, banyak yang bilang dia menyukai aku. Aku tak percaya, karna dia tahu aku dan Baim sudah 2 tahun berpacaran. Sampai saat dia mengajak ku ngobrol berdua di tangga menuju ruang atas, tempat nya memang sepi, tak ada orang berseliweran untuk berbicara kenapa aku yang murung. Bang Fahri memulai dengan menatap muka ku, dia hanya bertanya satu hal. Kenapa aku tak menegur nya lagi akhir-akhir ini, aku bilang padanya mungkin karna kita jarang bertemu. Padahal aku berusaha menghindari nya karna sering dia mengirim dakwah-dakwah tentang nikah muda pada chat BBM kami. Tapi jujur, konten yang dia kirim sering aku baca, dan menggerak kan hati ku untuk segera menikah, walaupun sejujurnya konten itu bukan acuan ku menikah. Acuan ku ingin menikah saat itu adalah ingin bahagia dan sama - sama setiap hari dengan Baim. 

     Bang Fahri memancing ku cerita, dia mencoba memahami kesedihan ku sampai dalam dan aku pun tidak tahan untuk tidak bercerita. Pada akhir aku cerita dia menghela nafas panjang, badan nya yang semula diam ikut tertarik ke belakang. 

     "Itu sebab nya aku tak suka dengan cara laki-laki itu. Dia itu hanya ingin PHP in kamu. Sudah lah jangan kamu berharap dan sudahlah kamu tidak perlu ada hubungan dengan nya"

     Walaupun aku saat itu sedang sedih atas cerita ku ke Bang Fahri, tapi aku marah dia menjelek-jelekan Baim. Emang siapa dia, lelaki umur 30 tahun yang belum menikah, berarti dia tak pernah bukan mengajak wanita serius untuk menikah. Dia memang tergabung dalam remaja mesjid, salat nya tidak pernah tidak berjamaah dan tidak pernah telat waktunya. Namun bukan berarti dia lebih baik dari Baim bukan. Walaupun 2 tahun aku dengan Baim pacaran, belum pernah ku lihat dia salat kecuali salat jumat. 

     " Nita, bagaimana jika abang yang bertemu dengan Ibu dan Abang mu, kemudian menyanggupi keinginan mu untuk menikah." 

     Aku hanya diam, banyak yang bercampur di dalam otak ku ini, kebahagian bu ku jika aku menikah dengan orang yang salat nya tidak pernah ditinggalkan, juga Abang ku yang sangat merestui tapi aku tak mencintai Bang Fahri, terlebih umur kami beda jauh dan aku tak ingin mempunyai pasangan yang umur nya sangat jauh berbeda. 

     "Kamu bisa berfikir-fikir dulu Nit, Abang siap meminang mu dengan mahar 25 gram emas, dan resepsi yang kamu inginkan."

     Aku tak bergeming, karna bukan itu point yang aku inginkan.

     Setelah saat itu, Baim mulai berubah. Beberapa kali dia ketahuan dekat dengan wanita lain, ahh itu menyedihkan. Jika ketahuan dia minta maaf lalu nanti akan mengulangi nya lagi. Tapi tetap aku masih mencintai nya dan ingin terus bersama dia. Aku sering kemudian bertanya kapan dia siap dengan "menikah". Jawaban nya sembarang, kadang 2 tahun lagi kadang 3 tahun lagi, kadang tunggu dia mapan. Ahh tak ada kepastian dan tak pernah aku dapatkan jawaban yang meredahkan hati ku. Kemudian aku menemui Ibu Baim, mungkin terlihat seperti aku bukan wanita baik-baik yang mengejar seorang lelaki sampai ke Ibu nya. Fikiran ku  saat itu adalah, Baim lah yang duluan mengajak ku menikah dan tidak salah bukan jika aku kabarkan keinginan ku pada Ibu Baim. 

     Ternyata  dugaan ku juga salah pada Ibu Baim, Ibu Baim berkata jika tak baik jika kami menikah mudah. Waktu itu umur  Baim sudah 21 tahun padahal. Baim juga punya satu tanggungan adik lelaki yang masih sekolah di SMK yang harus di biayai dia. Kekecewaan ku saat itu karna Baim masih punya orang tua lengkap dan Ayah nya Baim masih bekerja serta sehat walafiat namun Ibunya kenapa berfikir seperti itu. 

     Baim kemudian menemui ku karna dia tahu aku sangat kecewa dengan semua apa yang dia lakukan dan katakan padaku. Dia menjanjikan ku nikah tahun depan, aku menolak dan tertawa. Karna aku tahu dia hanya bergurau sama seperti jawaban nya yang sudah-sudah. Sampai pada saat aku ingin putus saja dengan nya, namun dia menahan ku, kemudian menjanjikan akan menikahi ku sama seperti keinginan ku; akhir tahun ini. Aku memastikan ucapan dia, berkali-kali ku pastikan dan dia menjawab serta meyakinkan ku. 

Karya : Anita Rahayu