FILASOFI JATUH CINTA

Anita Rahayu
Karya Anita Rahayu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Desember 2017
FILASOFI JATUH CINTA

Bab 10 :  Perasaan Jatuh Cinta

                Sial aku terbangun jam 4 sore, mata ku masih pitam, mulut ku penuh iler yang jika dibuka akan menyembur muka Gemilang, ku teriak in Herman dan Ken; kenapa dua bujang itu tak membangunkan ku. Mbah Kisman bilang mereka juga belum bangun, tidur di bawah kolong meja makan.

                        Singkat cerita kami jalan menuju pameran mobil itu jam 7 malam, jika dijabarkan disini mungkin cerita nya kami tak jadi berangkat. Ku kenakan setelan kemeja bahan jeans dan celana serupa. Jam tangan hitam dan potongan rambut belah kanan, dua kali semprotan parfum kenamaan dari Paris, ku beli itu dari lelang barang-barang tahanan bea cukai. Pertama ku semprot dibelakang leher tepat nya ditekuk leher dan kedua di telapak tangan ku lalu ku usap- usap satu baju. Jangan biarkan aku mendeskripsikan penampilan Ken dan Herman, karna kami benar- benar sudah telat. Kondisi jalanan yang macet diakhir hari minggu ini, rasanya ingin ku tabrak mobil-mobil di depan kami. Jangan  kalian merendahkan mobil tahun 86 milik Mbah Kisman ini, jika kau naik motor di belakang nya siap-siap saja muka mu gosong tidak menentu.

                           Sampai di mall sudah jam 20.11, pameran nya masih ramai, walaupun posko donor darah nya sudah tutup. Ahh sudahlah, aku hanya sekedar ingin bertemu sales mobil itu. Ingin melihat wajah yang belum pernah ku lihat namun sudah  mengobrak-abik hatiku. Satu-satu sales yang ada disitu ku perhatikan name tag nya, tak ada yang beranama Rein. Herman tak menemukan nya, apalagi Ken dia sibuk menggoda sales mobil lain. Aku pasrah menerima brosur-brosur promo tapi terpaku pada satu gadis, dia tak pakai nametag, seragam nya juga berbeda, gadis itu duduk sedang menjelaskan spesifik mobil itu pada customer. Balutan kemeja putih bercorak bunga ditutupi blazer coklat dan rok senada. Rambut pendek nya sangat pas dengan bentuk muka nya yang memanjang. Paling tak biasa adalah bentuk dagu nya, tak begitu lancip namun ada gerut pada dagu. Jika senyum gerutan dahi itu membentuk dan berkolaborasi dengan lesung pipi nya yang dalam, bibir merah nya tertarik; cantik sekali. Beruntung nya dia selalu tersenyum menjelaskan itu pada customer dan aku memandangi nya larut dalam khayalan ku. Penasaran siapakah dia, diakah yang aku cari; bagaimana warna suara nya. Kudekati dia; belum ada 5 langkah, indikasi sakit jiwa no 32 datang : organ tubuh tak berfungsi seperti biasa, mati kata kau tak terucap apapun, tuli tak bisa mendengar, kaki tak layak jalan, mata terpaku menahan pedih nya tak memejam. Semua tak lagi terkontrol oleh otak teman, perasaan jatuh cinta lah yang mengatur nya.
 

Bab 11 : Boleh aku telpon nanti ?

                “ Panjenengan lama, dekati saja tak berani. Di dunia ini mungkin hanya kamu yang tak berani mendekati wanita, Sampean dan teori yang sudah sampean sampaikan berbeda jauh, tak ada yang sesuai. Panjenengan sok ngajarin saya soal cinta, ini cinta nya sudah di depan mata, malah melongo” . Herman sudah merancau dari bahasa jawa kromo, halus sampai menggunakan logat Sumatra; meniru-nirukan aku berbicara.

                         Di tarik nya tangan ku, duduk kami di depan wanita itu, rasanya bak duduk di kursi pesakitan. Bukan terasa indikasi sakit jiwa lagi, tapi sudah tahap mematikan. Senyum nya buat mata ku tak sanggup berkedip. Aku ingin pulang her, guman ku dalam hati. Ken menghampiri, pasti-pasti dia akan to do point. Mati aku, jantung ku terasa mau berhenti. Bolehkan berhenti sebentar, pause kehidupan ini dulu. Ingin ku mengangumi dia lebih lama lagi.

                       ” Mba… saya to do point saja ya mba, teman saya ini berniat cari mobil baru dan cari istri baru. Ehhh maksud nya cari istri untuk masa depan yang baru. Kira-kira mobil apa yang cocok untuk dia”

                    Gadis itu tersenyum, pelan iya menjelaskan detail produk yang dijual nya, tak kedip ku pandang mata nya, sekarang focus ku pada bulu mata bawah nya, lentik dan dihiasin wewarnaan putih. Sampai dia menepuk tangan ku, membangun kan aku dari lamunan ku pertama kali tentang dia.

                         “Tertatik pada mobil yang mana mas?” Tanya nya

                    Sembarang ku tunjuk mobil yang ada disitu, tapi focus mata ku berpindah pada raut senyum nya, lumayan banyak kerutan.

                          “ Untuk manual nya atau matic nya?” sambung nya

                   Aku terdiam lama, bukan karna mengagumi tapi karna tak paham soal mobil. Herman menepuk ku, Ken berbisik rancau, bau mulut nya seperti aspal dibakar memaksa ku juga akhirnya.

                         “ Aku fikir-fikir dulu ya untuk type nya, nanti malam boleh aku telpon untuk kepastian nya?

                           Dia senyum sumringah, aku terpaku pada raut senyum nya.

 

 

 

 

Bab 12 : Kebanyakan mikir pun tak bagus, tak ada action nya.

                Di sepanjang jalan kami menuju parkiran, aku tak berhenti memikirkan kan nya. TIga kali langkah ku terhenti, ingin aku menawarkan tumpangan pulang pada gadis itu. Ken seakan tahu maksud ku, diraih nya tangan ku dan diseret nya menuju pameran itu. Tapi aku tak berani Ken, kutunjukan dengan langkah ku yang terhenti. Herman naik pitam; hidung nya kembang kempis, alis nya menyatu dan mata nya menajam.

                “ Panjenengan kebanyakan mikir, terlalu bertele-tele, tak bagus,tak ada action dan tak horas!” cerca Herman.

                Ku beranikan, disepanjang jalan ku bacakan ayat-ayat suci alquran, rapalan doa-doa yang pernah diajakarkan ibu ku dan kuusap tiga kali ke kepala ku. Kupandang dia dari jarak 3 meter, sedang rapih-rapih bersiap pulang juga. Langkah ku terhenti tapi hati ingin menyapa. Ken muak dengan tingkah ku, langsung ditarik nya, dipaksa nya aku berkata. Mungkin ini penjabaran dari sakit jiwa no 06. Indikasi nya nya candu akan tatapan yang merusak saluran pompa darah ke otak dan sebaliknya, rusak juga fikiran seperti disuntik morfin 54 mg 3 kali sehari.

Mozaik 13 : Mobil tua tahun 86

                Aku lupa dimana tadi memarkirkan mobil, bukan sekedar lupa aku bahkan tak ingat apakah tadi membawa mobil. Wanita itu kini disamping ku, ku tawarkan mengantar pulang dengan imbalan membahas mobil yang akan ku beli. Jangan tanya Ken dan Herman kemana, bau bakso barudak khas Bandung membawa mereka ke lesehan belakang mall dan meninggalkan ku. AKu terdiam sepanjang jalan, kaki ku gemetar, mata bagian bawah berkedip-kedip tak menentu; saraf muka ku seperti terkena stroke ringan, datar tak menentu. Sepanjang jalan dia diam, diraih nya tangan ku; digengam, lembut sekali, ternyata dia hampir jatuh karna heels nya terpelekok. Wanita, tinggi semampai ini tak pede pada tinggi badan nya.

                Dia kaget dengan mobil kijang tahun 80an ini, sekali lagi bukan karna tahun mobil dan kondisi mobil nya, tapi karna warna pink menyolok ulah Mbah Rani yang sangat suka dengan warna pink. Ekspresi nya lucu; tawa ringan, ditepuk nya pundak ku duduk dia manis setelah ku buka kan pintu reyot itu. Berjalan aku menuju kemudi, rasanya aku laki-laki paling tampan seantero Jogja bagian selatan. Sepanjang jalan, ku beranikan diri menunjukan sikap serius ku, bukan …. Sikap dewasa ku, berkali aku ingin tunjukan sikap santai tapi gagal karna ulah saraf-saraf motorik wajah ku tertarik tak menentu. Mungkin saraf mata menjepit bibir bawah sehingga bukan mata ku yang berkedut tapi bibir bawah ku. Bibir ku berkedut tak karuan, aku jadi tergagap-gagap ingin berbicara, mata ku pedes bukan main, sulit aku menatap ke samping; ke arah senyum gadis itu.

                Dia  mencairkan suasana karna tak tahan melihat sikap diam ku, dia mulai dengan hal yang ringan, pekerjaan ku, dimana aku kost, berapa umur ku, dan siapa namaku. Astaga, wanita ini bahkan berani ku antar pulang sebelum mengenal nama ku. Entah apa yang ingin ku sebut, kali ini aku merasa nama ku begitu norak, bahkan untuk sekedar menjadi nama panggilan. Mungkin “Bima? Bim.. Sakti?” Dia menjulurkan tangan duluan, mungkin jenuh menunggu ku, ”Reinita Anggrainy , executive sales” sebutnya. Aku tak abis fikir memutar otak, apapun itu sebutkan saja. “ Mas Sakti, Bima Sakti” ucapku lancang. Dia tertawa, gigi taring yang menduduki gigi seri nya; atau biasa di sebut ginsul. Manis sekali berpadu pada bibir tipis yang di cat dengan lipstick wardah warna peach pink. Aku terhenyak diam, benar… kali ini aku jatuh cinta dan ini bukan indikasi sakit jiwa nomor berapapun.

 

Bab 14 : Bagaimana Jika itu bukan aku?

                Paimo, bekas teman sekamar ku, sekarang dia berpindah dengan teman yang lain nya, karna merasa aku bukan partner yang baik dalam berbagi kamar kost. Seringkali aku melewati batas lemari tempat baju-baju dan seringkali ku dapati celana dalam ku berpindah ke dia. Namun tak pernah ku ributkan dengan nya. Hanya dia dan Tuhan nya yang paham kenapa dia pindah ke kamar lantai bawah.

                Sampai sekarang dia masih menegurku, aku pun juga; laki-laki tak seperti wanita suka meributkan hal-hal yang tidak penting. Seringkali apapun itu bahkan yang tak penting bisa di ributkan oleh perempua. Paimo berjualan parfum eceran, jangan salah; lulusan teknik kimia Universitas Indonesia ini jago meracik bakal bibit parfum. Dia pernah bekerja di pabrik obat di Solo tapi berhenti karna merasa itu tak sesuai dengan gaji, pria yang mangut-mangut saja mendengar pesanan parfum Herman itu lebih memilih berjualan.

                Ku pesan 2 parfum pada Paimo, aku tak tahu nama biang-biang parfum yang akan di racik Paimo, namun beberapa komposisi yang ku ingin kan seperti, bau menthol, aroma yang tidak nyegrak, nempel tahan lama, ada sentuhan harum coklat dan ku bisikan pada Paimo, tambahkan wewangian yang bisa memikat  wanita. Paimo tak tertawa, lelaki Jawa sepertinya memang asik untuk menyimpan rahasia, dia hanya mengangguk dan berbisik harga yang aku bayar.

 

                Kamis sore, aku berniat menjemput Rein, kali ini naik motor Mbah Kisman, bukan karna aku tak punya motor, tapi Ken menyuruh ku naik motor matic karna takut aku grogi membonceng wanita dengan motor sport 250 cc dan berujung jatuh. Ku bawakan helm, bau nya sudah ku selaraskan dengan parfum ku. Sengaja aku tak buat janji, Mbah Kisman bilang wanita suka dengan surprise kecil. Ku bawakan dia 3 potong kue buatan Mbah Rani, sudah rapi dengan juice jeruk yang ku bawakan di tas kecil.

                Melaju aku kencang, jam pulang nya 21.00 aku tak mau telat, jam 19.35 aku sudah berdiri di depan lobby Mall tempat dia bekerja di pameran Mobil bersama bungkusan kecil yang aku bawakan. Dari jauh ku perhatikan senyum manis wanita itu, lama aku termenung sampai tak sadar; mungkin pacar nya atau suami nya karna datang dan memeluk pinggang wanita itu dicium nya pipi kiri dan Rein membalas.

                Bukan hancur, atau indikasi sakit jiwa nomor berapapun, tapi aku tak mampu mendefenisikan nya. Binar mata ku, larut dalam tatapan ku. Apa ini aku atau mungkin ini halusinasi ku saja

Aku fikir itu konflik utama di dalam cerita ini, tentang bagaimana aku kecewa dengan jatuh cinta, sesederhana ini kah konflik dari “Filasofi Jatuh Cinta”. Hanya sebatas rasa kacau, antah berantah, tak menentu, uring-uringan, sedih membabi buta, serasa kurang asupan oksigen kedalam otak. Lantas jika ini konflik maka apa ide untuk menyelesaikan konflik nya?
 

 

 

Aku diam lama merenung, Ken masuk ke kamar ku; dia tau kemarin malam tak berjalan mulus. Aku tersenyum pada Ken, ku tatap bola mata nya, makin ku tatap dalam makin mngerut dahi dan alis nya, dia mundur perlahan; seperti pawang akan diterkam macan peliharaan nya. “Baik-baik saja kan Bim” ucap Ken. Aku membalas nya dengan senyum kecil, dia beranjak pergi

  • view 144