FILASOFI JATUH CINTA

FILASOFI JATUH CINTA

Anita Rahayu
Karya Anita Rahayu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Desember 2017
FILASOFI JATUH CINTA

Aku tak bisa tidur lagi malam ini, gelisah, panas-dingin, mulut ku komat-kamit entah berkata apa. Kaki-kaki ku saling bergesekan di dalam selimut, airmuka ku tetap tak terkendali. Berkali-kali ku buka profile pesan wanita itu, gambar TDP 12 juta sudah berubah menjadi softcopy informasi bazar dan donor darah di salah satu Mall di selatan Jogja. Aku kecewa, entah apa yang membuat aku kecewa, yang jelas ada perasaan sedih ketika foto nya diganti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 8 : Pernah Jatuh Cinta

                Ku ceritakan pada Mbah Kisman, Herman, dan Gembulan tentang pertama kali aku jatuh cinta pada gadis. Bagaimana aku dulu mengajak nya malam minggu, bagaimana aku menyatakan perasaaan ku dan bagaimana cara ku menggandeng tangan gadis. Gembulan menarik ingus nya dalam sekali tarikan; artinya dia sedang menyimak ceritaku, Mbah Kisman menyerut cairan hitam pekat itu, menegak nya dan mengangguk-angguk, Herman berusaha menahan tawa nya, bernafas normal kembali kemudian dia berkata, “Bang kamu pernah pacaran kah?” . Sial anak kampret ini tak percaya aku pernah menaklukan gadis, ku kerutkan dahi ku “Maksud pertanyaan mu apa Her?” kakek tua itu membela cucu nya “Jika dari cerita mu, aku tak percaya jika gadis itu luluh padamu anak muda”. Satu yang ku salut Gembulan membesarkan pandangan nya walau alisnya dijatuhkan, diiringin tarikan ingus nya yang dalam; dia percaya aku pernah jatuh cinta.

                Setan alas datang atas undangan Herman, dibawa nya 3 bungkus rokok yang salah satunya untuk yang kami sepuhkan; Mbah Rani, istri Mbah Kisman. Kalian tahu kawan, Mbah Kisman tak segagahnya yang pernah diceritakan nya padaku tempo hari, dia sangat takut pada istrinya, seringkali dia yang mencuci asbak rokok istrinya, mengurut kaki istri nya, dan langsung datang jika istrinya teriak. Sekumpulan laki-laki yang sedang bermalam Jumat pasti ada saja suguhan yang diberikan Mbah Rani. Seringkali di malam Jumat minggu ke dua setiap bulan nya kami berkumpul duduk di teras, ditemani suasana khas kost mahasiswa dan karyawan milik mbah Kisman, dentuman lagu bahasa Jawa, lembut halus dan menenangkan, kopi serut hitam buatan Gemilang, lampu utama teras berwarna kuning di letakan di tengah teras, hangat dan remang menemani kumpul pria bulan ini, dan sebagai pengganjal perut dibuatkan Mbah Rani ubi rambat goreng yang sangat manis. Percayalah, jika laki-laki sedang kumpul; pasti bahasan nya tak hanya wanita, sering juga membahas ekonomi, politik, social, dan budaya dan jatuh cinta pertama kali.
 

Bab 9 : Penasaran Part 1

                Ku beritahu Herman dan Ken soal “Rain Sales Mobil”  yang sudah ganti foto profile, tak ku tampakan rasa kecewa ku hanya saja Herman tahu betul aku sedang jatuh cinta. Diusap nya punggung ku, ditepuknya tiga kali, sebenarya empat kali; tapi dia pelankan setelah aku menghadap ke muka nya. Daripada aku, Herman memang lebih mirip Ken hanya saja, dia hanya mengincar satu gadis di kampong ini, yang tak lain Sarita, anak tiri H. Hasbalah; tuan tanah kampong ini dan kampong sebelah.
                Ken beda lagi, tak setan alas jika bukan karna ide-ide gila nya, ku lihat dia melempar tatap kea rah Herman, tanda mereka punya pemikiran yang sama. Aku keheranan, mereka mengangguk-angguk, lempar tawa, tukar tatapan menjijikan, menaik-naikan alis, dan melempar hy five, sebutan kami untuk tost. Mereka sepakat mengajak ku menemui “Rain Sales Mobil” besok di pameran mobil dan bazar itu, dengan dalih donor darah kita akan menemui gadis itu Bim; ucap manusia  jelmaan itu.
               
Azan subuh masih 2 jam lagi, tapi aku sudah bangun lebih tepat nya aku tak bisa tidur. Indikasi sakit jiwa no 12 datang lagi. Kali ini bercampur hal yang aneh-aneh lagi, bagaimana menghadapi perempuan yuang kita suka, bagaimana cara mendengus harum nya, bagaimana menjabat tangan nya dan apa yang harus aku katakana jika bertatap mata. Ku telpon Ken, tak diangkat; kemudian aku keluar, mencari apa yang bisa ku makan. Ku lihat Mbah Kisman duduk di depan tv, menyisiri istri nya yang duduk di samping nya. Ku pikir Mbah Kisman sedang pesugihan, tapi salah; itulah cara nya mencintai istrinya yang kutu an. Mbah Rani punya rambut panjang dan berkutu. Jika sudah gatal luar biasa, dia tak bisa tidur dan minta disisirin suami nya. Mbah Kisman sadar aku berdiri di belakang nya, berguman dia padaku bahwa Jatuh cinta itu mudah anak muda, tapi bagaimana kau membuat cinta mu tak terjatuh dan tetap sejati. Aku diam, bukan karna aku terharu larut dalam kata-kata nya, tapi karna mata ku tak bisa diajak kompromi, perut lapar dan penasaran dengan kenapa Mbah Kisman hanya memakai celana dalam.

  • view 148