FILASOFI JATUH CINTA

FILASOFI JATUH CINTA

Anita Rahayu
Karya Anita Rahayu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Desember 2017
FILASOFI JATUH CINTA

                 Hari ini aku tertawa lebar, besok pagi tiba-tiba gejolak hati ini membara, siang nya aku deg-degan setengah mati, sehabis salat magrib ada perasaan tak menentu dan malam memejam mata aku semakin uring-uringan. Gejolak-gejolak seperti ini bak hantaman atom yang kusebut nano-nano. Tapi aku dan Ken sepakat kalau ini indikasi sakit jiwa no 12 : dimana semua perasaan bahagia akan jatuh cinta dan reaksi nya bersatu jadi satu. Dan apa yang aku alami sudah stadium 2A dimana seringkali aku bolak-balik mengecek pesan masuk dan mencoba membalas nya lama supaya timbul rasa penasaran.



Mozaik 4 : Apa yang kau tanam itu yang akan kau tuai

                Aku memberikan Gem kaos putih dengan corak garis hijau. Kubeli di pinggiran pasar malam, depan pertunjukan wayang Sri Mahendra. Mata nya tertawa, gembulan punya sorot mata yang bagus, apapun ekspresi nya mata nya ikut berbicara, jika dia tertawa bola mata nya dan raut alis  nya akan berpadu dengan dahi membentuk lambing tawa. Jika dia murung jangan harap kau bisa melihat mata nya, seringkali ditutup nya dan dikerutkan alisnya.

                Kaos itu membalut tubuh gembul nya, mewakili ekspresi dirinya yang sedang bahagia karna malam ini malam minggu. Ku pinjam kan motor ku untuk gembul, terselip uang 20 ribu diantara kunci motor dan STNK, gembul tertawa dan sorot mata nya ikut tertawa.

                “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai!!” teriak mbah Kisman sambil mengejar Herman yang mencuri kunci motor Mbah nya untuk bermalam minggu di lesehan pecel ayam Malioboro. Mbah Kisman mendengus macam sapi yang dipacu, liur nya sampai keluar dipinggir mulut.

                “Hey anak muda, apa yang kau tanam itu yang akan kau tuai” hentak nya pada ku kasar. Ku ajak dia duduk di angkringan depan jalan yang biasa aku lalui saat ngampus dulu. Kerut-kerut mata nya tertarik dalam saat  menegak kopi arang, dilahap nya 3 roti potong dan 2 gorengan yang baru diangkat. Dasar pak tua, sudah kenyang tak membendung mulut nya berhenti bicara. Dia memperhatikan penampilan ku, memencet tahi lalat di wajah ku, hadap kanan-belok kiri melihat potongan rambut ku. Disimpulkan nya orang Sumatra perantauan seperti ku akan susah menemukan jodoh di kota ini. Kualihkan pandangan ku dari Mbah Kisman, kesel; ingin ku damprat, apalagi saat dia menceritakan waktu seumuran aku, empat perempuan mengejar dia.             Handphone ku bergetar, kuabaikan pasti dari Ken yang mengajak ku bermain judi bersama teman-teman kost nya. Tapi tunggu dulu pesan yang super singkat, “Iya??” dan itu dari Rain Sales Mobil.

 

Mozaik 5 : Dibayar cash

                Walau aku dan Ken tak ubahnya pinang dibelah dua, pasti ada saja yang membedakan aku dan setan alas itu. Dia tampak seperti nama nya “Ken Bagus Prima” ; energik, ambisius dan akurasi nya kuat. Soal akurasi yang kuat Ken tak bisa diragukan, bekal ijazah s1 bidang computer, menghitung penjumlahan biner gampang bagi nya. Seringkali gigi-gigi nya rapat menggigit bibir bawah nya kalau sedang konsentrasi. Bola mata coklat milik nya memutar-mutar berlawanan menghitung angka-angka yang berputar di kepala nya. Kalau kau ajak dia mendekati wanita, dialah jagonya. Perempuan bisa termakan omongan manis nya, dengan modal sewa 25ribu didapatnya gitar milik Herman. Ada saja gadis yang mau diajak nya ke warung ayam bakar depan gapura kampung, gitar akustik menemin Ken menyanyikan lagu Michael Learn To Rock “Paint My Love” dan “Prakkkk” pipi tirus nya dapat salam dari perempuan yang mengantri warung bakso sebelah. Ken sudah punya pacar dan bernyali selingkuh. Aku tertawa di bangku belakang, ku ingat katanya nya tadi jika dia berhasil mendapatkan perempuan ini, lemparkan jempol untuk nya. Ku lemparkan ke arah dia sambil berteriak “ Ken.. dibayar cash”

Mozaik 6 : Si pasif bergadang

                Malam nya, ku rebahkan tubuh ku, tak juga terpejam. Lama aku melamun mencampurkan semua logika, mungkin ini indikasi sakit jiwa nomor 22, tapi ada yang aneh ada gejolak yang meletup-letup yang lama sudah hilang tak pernah aku rasakan. Mungkin karna ku lihat Ken dengan mudah jatuh cinta pada siapapun, seringkali berganti penunggu hati nya. Sedangkan aku 6 tahun tak juga mendapat pengganti, mengamini setiap kata-kata wanita yang dulu meninggalkan ku. Dalam.. karna itulah pertama kali aku punya pacar, ehh salah mungkin karna itu cinta pertama ku, atau aku yang tak pernah berani jatuh cinta lagi atau terlalu jelek untuk dipandang wanita. Ku berani kan memulai chat singkat tujuan nya singkat; menguji masihkah hati ku untuk wanita atau karna terus dan terus dengan Ken aku jadi alergi pada wanita.

                “Malam..” ketik ku singkat pada Rein Sales Mobil

                Dua puluh tiga menit aku menunggu, berkali-kali ku buka pesan singkat, sudah dibaca dan sedang online. Tak berbalas, lagi ku ulangi “Malam cantik” di baca dan dibalas “Malam mas..”

                Malam itu aku tak  bisa tidur, bukan karna terlibat percakapan tapi, indikasi sakit jiwa no 12 bercampur dengan rasa nano nano dicamnpur keju mozzarella keluaran pabrik Swedia, manis sekali jawaban nya tapi aku tahu harus lanjut dengan apa. Sampai tertidur aku tak juga membalas, tak berhenti menghayalkan gimana wajah gadis sales mobil itu.

 

Mozaik 7 : Tertawa lah setan maka kau akan tersedak

                Ken menelpon ku di jam makan siang, semangat aku mengangkat telpon nya, ingin ku muntahkan semua perasaan ku tentang sakit jiwa no 12 yang semalam ku rasakan. Dia tertawa hebat, kuyakin karang-karang di belakang gigi nya sampai mengikis terkena liur tawa nya. Dia terus tertawa, terbatuk-batuk pun tetap tertawa. Mampus kau setan alas, tersedak air liur kali ini ku tertawakan dia sampai-sampai satu ruangan memperhatikan aku.

                Ku katakanan padanya, aku jatuh cinta pada seorang gadis sales mobil. Jatuh cinta dengan cara nya membalas pesan ku. Jatuh cinta pada foto profile nya yang bergambar promo mobil TDP 12 juta. Jatuh cinta pada rasa penasaran kenapa dia tak langsung membalas pesan-pesan ku. Awalnya Ken tak percaya tapi dengan suara terpaksa ku tahu dia sekuat tenaga menenangkan ku. Baiklah Bim, aku percaya kau jatuh cinta, itu bukan tentang jenis sakit jiwa itu bisa kau simpulkan dengan Filasofi Jatuh Cinta.

 

 

               

 










  • view 116