Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Buku 15 Desember 2017   13:08 WIB
Buku Sebut Yerussalem Ibukota Israel, Ini Sikap Puan Maharani

Penerbitan buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD/MI kelas 6 terbitan Yudhistira yang mencantumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel, telah mendapat kritik dari berbagai pihak. Salah satunya dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani. Dalam tindakan mengkritik ini, setidaknya membuktikan beberapa hal. Mari kita telaah.

Dalam pencantuman nama Yerussalem sebagai ibukota Israel, Puan menjelaskan bahwa jelas, hal ini merupakan sebuah kekeliruan. Tidak etis jika dalam sebuah penerbitan buku tidak melalui proses seleksi yang mapan. Karenanya, kritik Puan ini lebih kepada keinginan akan kontrol penyebaran buku untuk peserta didik diperketat pengawasannya, khususnya terkait proses penyusunan buku sebelum diedarkan.

Kesalahan dalam penyusunan buku, apalagi menyangkut substansi buku, tentu akan mempengaruhi pemahaman peserta didik. Apalagi buku ini diperuntukkan kepada anak-anak yang masih duduk di bangku SD. Mereka masih perlu penyajian informasi yang benar. Akan fatal sekali dampaknya jika konten dalam suatu buku tidak sesuai dengan pendirian negara yang notabene menolak keras keputusan sepihak AS-Israel yang menetapkan Yerussalem sebagai ibukota.

Puan sangat sependapat dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang menarik tautan buku tersebut dari situs Kemendikbud. Karena bagaimanapun, sebelum diputuskan terbit atau tidaknya sebuah buku, harus dilakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Dan dalam penerbitan buku ini dinilai telah melakukan suatu bentuk pelanggaran dan harus dipertanggungjawabkan.

Penarikan ulang terhadap buku-buku yang telah beredar dan mengganti dengan edisi yang terbaru dengan konten atau substansi buku yang lebih baik, tentu adalah tindakan yang harus segera dilakukan. Sebelum peluncuran buku-buku ini mengakibatkan dampak atau polemik yang lebih besar, masalah ini harus segera diselesaikan. Tentu kita tidak ingin kejadian ini menjadi masalah yang berkepanjangan.

Sangat disayangkan memang buku ini telah terlanjur terbit. Puan menilai kejadian ini sebagai bentuk keteledoran.. Hal ini juga telah diakui Puan akan keterlambatan respon mengenai konten buku yang dianggap tidak sesuai ini. Karenanya, hal ini harus segera ditindaklanjut. Kejadian ini harus dijadikan sebuah pelajaran ke depan agar  dalam sebuah penerbitan buku tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang tidak diinginkan.

Setelah pemerintah mengambil keputusan untuk menarik ulang buku-buku yang sudah beredar, Puan berharap agar ke depan, pengawasan terhadap sistem pendidikan peserta didik, berikut pelajaran atau buku-buku yang menjadi pegangan peserta didik, juga ikut diawasi oleh para orang tua. Pengawasan macam ini juga berdampak pada munculnya korelasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan dan memberikan fasilitas pendidikan yang sebaik-baiknya.

Karya : Anita Arsy