Mengambil Semangat Pendidikan dari Tokoh Bangsa; Puan Maharani

Anita Arsy
Karya Anita Arsy Kategori Inspiratif
dipublikasikan 09 September 2017
Mengambil Semangat Pendidikan dari Tokoh Bangsa; Puan Maharani

Puan Maharani merasakan betul betapa pentingnya pendidikan. Sebagai anak dari seorang tokoh dan cucu dari Soekarno, sang proklamator, sejak kecil Puan telah diajarkan betapa pentingnya pendidikan. Di lingkungan keluarganya, dia bisa mendengar cerita-cerita dari ibunya perihal kakeknya. Ibunya yang seorang politisi handal dan kini jadi tokoh tentu banyak memberinya pemahaman tentang pendidikan.

Soekarno, sang kakek, adalah seorang presiden yang memiliki kegemaran membaca dan menulis. Berbagai macam buku dia pelajari. Dan Puan pun menjadi banyak tahu, mungkin dari sejarah, bahwa sang kakek menjadi seorang presiden yang begitu dikagumi bahkan oleh dunia. Dia bukan sekedar berapi-api di mimbar pidato. Bukan sekedar singa podium. Dia seorang yang memiliki keilmuan yang luas. Dia seorang yang mencintai pendidikan.

Dari sang kakek, dan keluarganya, dia mengerti bahwa pendidikan memang merupakan salah satu jalan untuk kemajuan. Masyarakat yang menghargai pendidikan adalah masyarakat yang lebih dekat pada kemajuan ketimbang suatu masyarakat yang tidak mencintai pendidikan.

Sebagaimana sering ditegaskan oleh sang kakek, Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Puan tidak melupakan sejarah. Terutama riwayat orang-orang yang terdidik dan tercerahkan, orang-orang yang mencintai pendidikan. Dalam sejarah kebangkitan kesadara pemuda bangsa ini yang kemudian seolah menjadi virus yang menjalar ke seluruh bangsa di Nusantara, kaum-kaum intelektual, orang-orang yang berilmu, adalah para penggerak penting kesadaran nasional. Dari mereka, matahari perlawanan menuju kemerdekaan terbit.

Puan Maharani tidak melupakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintai pendidikan. Mereka mempelajari berbagai sejarah di Eropa, mereka mempelajari revolusi dan nilai-nilai kemanusiaan yang menggaung di berbagai negara, mereka mempelajari bagaimana negara terjajah akhirnya bisa terlepas dari keterjajahannya. Dan akhirnya mereka mengorganisir diri, mereka menulis dan menyebarkan tulisannya. Jadilah semangat bersama untuk kemerdekaan.

Pasca kemerdekaan, Puan yang tak lupa sejarah, juga memperoleh banyak sejarah penting. Bahwa untuk menata negara ini, untuk menjadi jembatan bagi kesejahteraan rakyatnya, mereka perlu memiliki pengetahuan. Menata negara bukan perkara keajaiban. Orang-orang – yang kemudian kita kenal sebagai para ‘founding fathers’ mesti memiliki perhatian terhadap ilmu pengetahuan untuk turut menata negara ini. Hatta, misalnya, hampir seluruh hidupnya dihabiskan dengan membaca.

Dengan memperhatikan sejarah ini, Puan akhirnya mengambil semangat dari sejarah itu. Puan mesti menegaskan kepada generasi-generasi betapa pentingnya pendidikan. Dan dia mengatakan:

“Anak-anak merupakan masa depan suatu bangsa dan suatu bangsa akan menjadi lebih maju ketika mereka mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan secara optimal dengan fasilitas yang sesuai dengan perkembangan zaman”.

  • view 13