Budaya Bermartabat dan Berkemajuan; Kerja Mulia Revolusi Mental Puan Maharani

Anita Arsy
Karya Anita Arsy Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Agustus 2017
Budaya Bermartabat dan Berkemajuan; Kerja Mulia Revolusi Mental Puan Maharani

Bagi Puan, keteladanan aparat harus ditunjukkan lewat pelayanan publik. Sebab menurutnya:

“Dengan semakin meningkatnya pelayanan publik, akan semakin terbangun budaya bermartabat dan berkemajuan”.

Ada ungkapan lisanul hal afsahu min lisaanil maqaal. Terjemahan bebasnya: ungkapan lewat wujud nyata sikap atau tindakan lebih absah (lebih kuat, lebih menggugah, lebih terlihat dan diterima oleh orang lain) daripada sekedar ungkapan lewat ujaran kata-kata. Pernyataan ini juga bisa dijelaskan dengan cara begini: jika seseorang ingin diteladani atau ditiru oleh orang lain, maka yang terpenting adalah keteladanan diri yang mewujud dalam perilaku, sikap atau tindakan nyata bukan sekadar ungkapan kata-kata.

Hal ini menjelaskan satu fakta bahwa orang-orang lebih tertarik pada apa yang tampak nyata lewat tindakan nyata daripada ujaran kata-kata. Sebanyak apapun keteladanan moral yang diajarkan oleh seseorang kepada orang lain jika dia sendiri tak mampu menunjukkan lewat tindakan nyata, maka jangan berharap banyak bahwa mereka yang mendengarkan mau mengikuti kata-katanya.

Ungkapan bijaksana ini berlaku sepanjang masa. Dalam hubungannya antara pemerintah dan rakyat, posisi pemerintah (mencakup di dalamnya elit-elitnya, pejabat-pejabat atas hingga yang terbawah) adalah orang-orang yang dilihat dan disoroti segala aspeknya. Mereka semua mewakili citra dari pemerintahan. Jika mereka bekerja dengan baik, menunjukkan keteladanan yang baik dalam menyelenggarakan pemerintahan dan melayani rakyat, maka rakyat tak perlu dibisiki berkali-kali untuk meyakini bahwa pemerintah benar-benar melayani rakyatnya.

Tetapi sebaliknya, seberapapun ditegaskannya peran dan fungsi pemerintahan dalam melayani rakyatnya, jika pada kenyataannya yang tampak dan dirasakan nyata oleh rakyat adalah sesuatu yang sebaliknya, yakni mereka tidak melihat kenyataan kerja optimal dari aparat pemerintah, maka mereka pasti melihat negara atau pemerintah tidak serius. Tingkat kepercayaan rakyat kepada pemerintah mempengaruhi cara mereka bertindak. Mereka bisa mematuhi apapun yang dikehendaki pemerintah sejauh mereka percaya bahwa mereka serius menjalankan negara dan melayani mereka. Di sinilah poin dari relasi pemerintah dengan rakyat dalam konteks keteladanan.

Dalam konteks ini, gerakan revolusi mental dapat dibaca sebagai upaya menerjemahkan ungkapan di atas. Setidaknya prinsip-prinsip ungkapan bijaksana di atas disadari sebagai hal yang penting sehingga sasaran dari gerakan revolusi mental adalah pertama-tama para aparat pemerintah.  Di dalam gerakan revolusi mental, aparat pemerintah harus menunjukkan hal-hal yang baik, yang positif dan menunjukkan citra yang baik sebagai pelayan negara. Bila mereka bekerja dengan baik sejalan dengan fungsinya, maka rakyat bisa melihat keseriusan negara dalam bekerja. Sebaliknya jika pada tataran pelayanan saja tidak beres, maka dipastikan kepercayaan publik kepada negara kian berkurang.

Puan Maharani menangkap sinyal ini. Maka ketika diberikan kepercayaan mengawal gerakan nasional revolusi mental, tak lain yang dilakukannya adalah bagaimana mendidik mentalitas para aparat negara agar mampu berkomitmen pada tugas mereka sebagai pelayan rakyat. Dan sebagai pelayan rakyat, etos kerja, kedisiplinan, integritas dan komitmen moral lainnya mutlak diperlukan muncul dalam tindakan nyata mereka.

  • view 23