Dua Kerangka Menangani Stunting; Kerja Efektif Puan Maharani

Anita Arsy
Karya Anita Arsy Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Agustus 2017
Dua Kerangka Menangani Stunting; Kerja Efektif Puan Maharani

“Diharapkan target kasus stunting ini menjadi berkurang bahkan insyaallah kedepannya tidak ada lagi di Indonesia dan kalau presentase nya kecil sekali dan yang terpenting gizi-gizi untuk anak dari ibu hamil, balita dan anak-anak sekolah bisa kita antisipasi makanan yang mereka makan sudah cukup gizinya”. – Puan Maharani

Perihal stunting atau anak kerdil adalah persoalan yang jadi salah satu perhatian pemerintah. Disebutkan di dalam situs kemenkopmk.go.id, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita. Penyebabnya adalah akibat kekurangan gizi kronis yang berakibat pada keberadaan anak yang terlalu pendek. Disebutkan juga bahwa kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, atau dalam 1000 hari pertama kehidupan. Tetapi gejala stunting baru nampak setelah anak berusia dua tahun. 

Dikutip dari Riskedas 2013, Kemenkes, fakta-fakta tentang stunting di Indonesia sangat tinggi. Diketahui bahwa saat ini ada sekitar 37 persen atau kurang lebih sembilan juta anak balita di Indonesia mengalami masalah stunting. Selain itu, Indonesia tergolong sebagai salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya. Data-data ini sangat penting dan mendesak bagi pemerintah untuk segera mengambil tindakan penting dalam upayanya mengatasinya.

Komitmen pemerintah untuk mengatasi masalah stunting diwujudkan dalam upaya serius dengan, salah satunya, memperhatikan pada persoalan makanan yang bergizi. Puan Maharani selaku Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menyampaikan bahwa pada tanggal 9 Agustus 2017, pemerintah mengadakan rapat untuk mengatasi persoalan stunting ini. Dia mengatakan bahwa dalam rapat itu, setidaknya ada dua hal yang menjadi fokus bahasan di dalam rapat.

Pertama, rapat itu membahas laporan perumusan gizi seimbang yang sederhana dengan mempertimbangkan makanan lokal. Perumusan gizi yang seimbang merupakan hal yang penting dalam mengatasi persoalan stunting. Tetapi mengingat masyarakat daerah sudah terbiasa memakan hasil-hasil tanaman di sekitarnya dan akrab dengan makanan khas lokal masing-masing, maka dalam rapat itu juga mempertimbangkan makanan-makanan lokal.

Kedua, rapat itu juga membahas laporan Kementerian/Lembaga (K/L) tentang kegiatan stunting. Terdapat 100 kabupaten prioritas yang dijadikan tempat kegiatan penanganan persoalan stunting.

Menurut Puan Maharani persoalan makanan yang bergizi bagi anak-anak merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. Dia menginginkan seluruh apapun yang dikonsumsi oleh anak-anak Indonesia adalah makanan yang mengandung gizi. Ada ungkapan: “You are what you eat”. Kamu adalah apa yang kamu makan. Memang ungkapan ini tidak selalu mengungkapkan makanan seperti yang kita pahami secara umum. Makanan dalam ungkapan ini seringkali diungkapkan sebagai isyarat kepada hal apapun yang dikonsumsi oleh pikiran.

Tetapi dalam kaitan tulisan ini, ungkapan ini juga penting dibaca sebagai cara kita memperhatikan apapun yang kita makan. Sebab makanan yang kita konsumsi mempengaruhi diri kita. Kita menjadi seperti apapun, sehat atau sakit, itu juga bisa dilihat dari apa yang kita makan. Kita menjadi suka ngantuk atau tidak, itu juga bergantung dari apa yang kita makan. Dengan kata lain, kualitas makanan mempengaruhi diri kita. Bandingkan antara anak-anak yang kualitas makanannya terjaga dengan baik dengan yang tidak. Perbedaan itu jelas menunjukkan betapa pentingnya kita memperhatikan makanan.

Memperhatikan masalah ini, Puan Maharani mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menggalakkan program gizi untuk mengatasi persoalan ini. Diketahui bahkan total anggaran masing-masing dari Kementerian sekitar Rp 60 T. Ada sekitar 12 K/L yang dilibatkan dalam menangani persoalan stuning ini. (kemenkopmk.go.id). Puan Maharani juga menegaskan dua kerangka menangani perihal stunting: yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Kedua hal ini bisa diwujudkan melalui peran dan kerjasama Pemerintah Pusat dan Pemerintah. Kerjasama itu mencakup program edukasi dan sosialisasi, pemberian makanan tambahan, suplemen, imunisasi, infrastruktur air bersih, sanitasi dan bantuan keluarga miskin.

Kita berharap persoalan ini teratasi dan anak-anak terbebas dari gejala stunting.

  • view 228