Puan; Nama yang ‘Melawan’ pada Kekerasan

Anita Arsy
Karya Anita Arsy Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 Maret 2017
Puan; Nama yang ‘Melawan’ pada Kekerasan

Puan adalah sebuah ‘nama’ untuk perempuan cantik yang mungkin orang-orang yang hanya mengenalnya sepintas akan terjebak pada penilaian yang terburu-buru. Deskripsi mereka atas Puan mungkin tak bakal jauh-jauh: ia anak perempuan yang memiliki segala kebutuhan untuk bermanja ria, absen dari kehidupan yang keras dan jauh lebih lembut kesehariannya.

Penilaian yang terburu-buru. Puan tidak begitu. Memang, dia memiliki banyak hal yang bisa membuatnya nyaman. Anak dari seorang politisi tenar. Cucu dari seorang tokoh besar. Tapi segala kebanggaan itu ia tempatkan di masa lalu, sebagai kenangan. Kemegahan dan kebanggaan akan kebesaran kakek atau orang tuanya memang membuatnya bangga. Tapi tak membuatnya lupa. Puan hidup di masa sekarang.

Puan adalah seperti perempuan lain. Dia merasakan gejolak sebagaimana dirasakan oleh perempuan lain. Terlebih lagi, dia terdidik untuk menjadi pemimpin. Telinga dan hati Puan terdidik untuk memiliki kepekaan mendengarkan jerit-derita yang dirasakan oleh rakyat-rakyat kecil yang membutuhkan pertolongan. Telinga dan hatinya jeli mendengar suara rintih kecil anak-anak yang tidur di kolong jembatan dan mengalami kekerasan. Juga ia merasakan perempuan-perempuan mudah yang tak memperoleh pendidikan, hidupnya penuh penderitaan atau kadang dilahirkan untuk sekedar menanggung nasib malang sebagai perempuan yang lemah dan butuh pertolongan.

Puan dilahirkan untuk mendengar segenap jerit penderitaan. Dengan hati dan segenap perasaan. Dengan akal dan segenap pemikiran. Puan dilahirkan untuk melawan atas setiap bentuk kekerasan.

***

Selasa, 14 Maret 2017. Cuaca terlihat cerah. Kuala Lumpur, kota kebanggaan orang-orang Malaysia, tengah bergairah.

Hari itu juga, di gedung Putra World Trade Center, Puan Maharani, Megawati Soekarnoputri dan Datin Paduka Seri Rosmah Mansor, istri Perdana Menteri (PM) Malaysia, Najib Razak duduk berdampingan mengisi sebuah seminar. Sebuah spanduk besar yang membentang di ruangan itu segera memberitahu: ini seminar tentang ‘Kerjasama Wilayah ASEAN bertema “Hentikan Kekerasan Seksual Terhadap Anak-Anak”.

Sebagai perempuan muda yang biasa mendengarkan persoalan kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan, Puan tahu apa yang akan dibicarakannya. Di Indonesia, dia terbiasa mendengar keluh-kesah, duduk bersama, memberi solusi dan utamanya memberi harapan kepada mereka yang mengalami kekerasan. Entah sudah kali ke sekian.

Selepas ibu Rosmah mengakhiri sesi pembicaraan, giliran Puan yang berbicara. Puan setuju dengan Rosmah dalam beberapa aspek, misalnya kerja negara-negara Asean dalam mengentaskan persoalan kekerasan terhadap anak. Persoalan perjuangan pemberantasan dan pencegahan terhadap perempuan dan anak di Indonesia sesungguhnya sudah terbilang maju. Ada Komnas  Perampuan. Ada Komnas Anak. Kedua-duanya telah bekerja dengan sungguh-sungguh melakukan advokasi melalui regulasi atau penanganan langsung pencegahan atau pemberantasan kekerasan atas anak dan perempuan. Hal itu diakui oleh Malaysia.

Namun Puan mengaku pemberantasan dan pencegahan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak dinilainya dari tahun ke tahun di beberapa tempat memang tidak semuanya berjalan sesuai harapan. Ada yang sudah mulai membaik, tetapi juga ada yang justru menurun.

Tapi tak puan tak patah arang. Puan menegaskan bahwa yang terpenting adalah bagaimana perjuangan ini terus diperkuat dan melibatkan banyak pihak dan banyak kalangan.

“Tidak bisa sendiri-sendiri. Dan juga yang harus dilakukan bagaimana pendidikan bagi ibu-ibu termasuk untuk memperkuat pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” pungkasnya.

  • view 169