KurinduITD-Indonesia Tanpa Diskriminasi, Mungkinkah?

St Anisia
Karya St Anisia Kategori Motivasi
dipublikasikan 10 Desember 2016
KurinduITD-Indonesia Tanpa Diskriminasi, Mungkinkah?

Adakah harapan terwujudnya Indonesia tanpa diskriminasi? Mari kita lihat kemungkinannya.

Membaca Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi karya Denny JA mau tidak mau membuat kening kita berkerut. Betapa tidak? Dalam buku ini, kita akan lihat betapa jauhnya kelas bangsa ini untuk disebut sebagai negara demokratis, apalagi untuk menyebut negara zero diskriminasi.

Bayangkan, pada survei LSI tahun 2010, 22% warga Indonesia tidak bisa menerima bertatangga dengan orang di luar agamanya. 42% tidak bisa menerima orang yang berbeda agama mendirikan rumah ibadah di lingkungan tempat ia tingal. Dan 38.8% tidak bisa menerima pemimpin dari agama yang berbeda. Sementara itu, pada survei yang sama, 31.2% setuju atau sangat setuju terhadap tindak kekerasan kepada warga Jemaat Ahmadiyah di Indonesia.

Itu dalam konteks isu agama. Mari kita lihat isu terjauhnya, yakni isu homoseksual atau LGBT. 66.7% warga Indonesia tidak menerima jika bertetangga dengan kelompok homoseksual. 74.5% tidak bisa menerima jika komunitas homoseksual mendirikan tempat pertemuan atau kantor di lingkungannya, dan 74.8% tidak menerima jika kelompok homoseksual menjadi pemimpin pemerintahan.

Dari dua data di atas, kita bisa melihat bahwa pekerjaan rumah kita untuk membuat diskriminasi menjadi nol, masih sangat panjang. Dalam isu homoseksual yang menjadi titik terjauh alat ukur, mayoritas masyarakat kita masih tidak bisa menerima mereka. Dan membalikkan yang mayoritas menjadi minoritas, aplaagi menjadi nol, adalah pekerjaan peradaban yang sangat berat dan panjang.

 

Membangun optimisme

Lalu, haruskah kita pesimis melihat data itu? Tentu itu tergantung pada bagaimana kita menyikapinya.

Di luar data yang pesimistis itu, kita masih melihat ketahanan ideologi Pancasila yang sedemikian kuatnya. Kita masih bisa percaya bahwa arah kebijakan negara ini menuju kepada jaminan pemenuhan Hak Asasi Manusia yang cukup tinggi. Berbagai kovenan internasional terkait hak-hak warga negara sudah diratifikasi. Dan pelan-pelan, implementasinya juga terlihat nampak mengarah kepada pengelolaan negara yang lebih baik. Ini harapan penting bagi tereliminasinya diskriminasi.

Yang kedua, kita percaya bahwa hukum besi zaman memiliki logikanya sendiri. Dan logikanya, zaman menuju ke era yang lebih terbuka, demokratis, dan moderen. Kebangkitan generasi milenial menunjukkan kepada kita bahwa karakter dominan yang menonjol saat ini pada generasi muda kita adalah kolaborasi, bukan persaingan. Kolaborasi meniscayakan penghargaan terhadap profesi dan kemampuan orang lain. Kolaborasi juga memungkinan proses kerja bersama tanpa sekat-sekat primordial.

Terakhir, tentu bisa kita rasakan bersama, banyak sekali kelompok masyarakat yang bekerja untuk Indonesia yang lebih baik. Inovasi-inovasi baru bermunculan, yang menunjukkan bahwa masih banyak manusia Indonesia yang berpikir waras, dan tidak terjebak kepada kampanye kebencian dan sentimen-sentimen primordial.

[St Anisia]

  • view 53