Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 19 Maret 2016   20:00 WIB
Izinkan Semut Hidup

Suatu hari saya berkunjung ke rumah nenek. Jangan bayangkan jika rumahnya berlantai keramik, bertiang kokoh, dan penuh hiasan mewah. Rumah itu sudah tua. Tentu sudah kalah dibanding model rumah-rumah yang dibangun sekarang ini.

Selepas kakek meninggal, nenek pindah kamar tidur. Ada dua kamar baru yang ‘dibangun’ dalam bagian yang dulunya keseluruhan adalah ruang tamu. Space ruang tamu memang tidak luas, namun cukup untuk ditempatkan sebuah meja besar dan kursi-kursi di sekelilingnya.

Saat itu, ada beberapa sisa tulang ayam yang ditaruh dalam piring kecil di atas tempat tidur nenek. Tidak ada ranjang. Bangunan untuk tidur  (apa sih istilahnya?) dibuat lebih tinggi. Jadi, misal ruangan kamar itu dibagi dua bagian: satu bangunan tinggi, sisanya lantai (bawah). Di bangunan tinggi itu ada tumpukan sajadah (lebih dari satu –mayoritas peninggalan kakek, juga pemberian orang), mukena, pakaian, yang saat itu belum dirapikan.

Ada apa dengan tulang ayam tadi?

Di samping saya, ada ibu saya. Ibu bertanya “Belung e kuwi gak diguwak to, Mak?” lalu lanjutnya,”ngko dikerek semut lho.”1)

“Kuwi no tak gawe jatah e semut. Semut sing saben dino ngancani aku turu. Kawit Mbahmu tinggal, Nis, semut-semut kuwi sing kerep ngancani mbahmu iki,” 2) jelasnya dengan pandangan ke arahku.

Walah, Mak, nang omah semut malah tak pateni, ganggu panganan ae kok mestian, 3)jawab ibuku. Ibuku tidak sependapat dengan yang dilakukan nenek.

Aku tidak berkomentar. Mendengar saja percakapan mereka.

Tidak hanya itu, bahkan nenek juga berkata bahwa dia sering menyediakan gula pasir untuk ‘dijatahkan’ pada semut-semut itu. Gula itu ditaruh (ditabur –tidak banyak) di bawah lemari. Selain itu juga di bawah meja (tapi saya lupa lengkapanya gimana, jadi di-skip dulu yang ini :D)

Kamu, bagaimana kamu memperlakukan semut yang ‘mengganggu’ di rumahmu? Diusir, dibunuh, dikasih kapur merek B**us, atau apa? Kalau di kost ini, karena yang diserang sering makanan, maka para semut itu sering saya kasih kapur :( Bukan maksud tidak ber-peri-ke-hewan-an, saya tetap ingin membiarkan mereka hidup, asal tidak menyerang makanan. #ngomongapaini

Selain belajar tentang kegotong-royongan si semut, bertemu selalu salam (tau kan, kalo semut berpapasan pasti cipika-ki dulu :P), kita juga bisa belajar bahwa semut juga butuh hak hidup dari kita. Meskipun gak bisa ngasih makan, seenggaknya kita bisa membiarkannya hidup. #asalsimpul.

Apakah si penulis akan sadar setelah bikin postingan ini?

 

---

1) “Tulangnya itu tidak dibuang ya, Mak? Nanti dikerubungi semut, lho."

2) “Itu kujadikan jatah untuk semut. Semut yang setiap hari menemaniku tidur. Sejak kakekmu tiada, Nis, semut-semut itu yang sering menemani nenekmu ini.”

3) “Walah, Mak, di rumah semut malah saya bunuh, mengganggu makanan melulu sih."

Mak : panggilan dari ibu saya ke nenek.

 

Maaf bahasa jawanya ngoko banget, mungkin daerah lain beda, pokok di rumah saya seperti itu. Semoga anda paham :D


 

PS: Tulang itu didapat karena pada hari sebelumnya, mulai ada persiapan untuk acara peringatan ke-40 hari wafatnya paman. Budaya tahlilan masih melekat di daerah kami. Tempat tinggal saya dan nenek ini terpisah sekitar setengah jam perjalanan dengan sepeda motor.

 

 

Surabaya, 19 Maret 2016

Karya : Anis