Bolehkah Aku Merindukanmu?

Anis
Karya Anis  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Maret 2016
Jeda

Jeda


*belajar nulis :(

Kategori Cerita Pendek

6.8 K Hak Cipta Terlindungi
Bolehkah Aku Merindukanmu?

 

Aku rindu dengan obrolan kecil kita. Membicarakan hal apa saja. Entah penting atau tanpa arti. Mulai dari bahasan sok tau politik, kurs mata uang yang terdepresiasi, tarif kereta yang naik, harga makanan di kantin kampus yang juga naik, termasuk juga menggosip soal selebriti yang entah mereka hobi bikin sensasi atau prestasi. 

Saat itu, aku menemukanmu sedang memeluk sedih. Apa yang sedang mengganjal di matamu? Apakah seseorang telah membuat air matamu jatuh dan melukai hatimu?

Kamu menjelaskan semuanya. Aku paham. Wanita wajar jika merasa sakit hati jika merasakan pengkhianatan cinta. Ah, mengapa cinta sering menjadi penyebab terlukanya hati? Meskipun di sisi lain, cinta selalu  menawarkan kebahagiaan, membuat hatimu seperti taman bunga yang ramai didatangi para kupu-kupu nan cantik.

Aku berusaha menghiburmu, memberimu harapan baru. Hidup terlalu sia-sia untuk disesali jika setelahnya tidak ada perbaikan. Hingga suatu hari, kamu menyatakan perasaan itu. Kamu, seorang wanita, menyatakan cinta kepadaku yang seorang lelaki? Aku sedikit canggung dalam keadaan itu.

Waktu berlalu.

Kita semakin akrab. Beberapa rencana telah kita tulis dalam sebuah catatan milik bersama. Aku tidak tahu mengapa kamu sering berucap janji. Mungkin kamu takut kisahmu terdahulu terulang lagi. Mungkin janji akan membuat dirimu dan diriku untuk setia menjaga komitmen bersama. Kuharap begitu. Aku selalu mengiyakan setiap janjimu. Berharap aku juga bisa menjaga janji itu.

Kini...

Aku hanya bisa memandangi kumpulan kenangan kita. Beberapa album foto, pesan, dan catatan di buku kecil ini. Kamu yang menciptakan kenangan abadi ini. Aku masih menyimpannya.

Apa kabarmu? Sudah berhasilkah melupakanku? Aku masih berharap dirimu kembali. Tidakkah kau ingat dengan janjimu, untuk tidak akan meninggalkanku tanpa alasan?

Apakah aku keras kepala jika masih berharap padamu? Apakah pengorbananku sia-sia sejak perjumpaan-perjumpaan awal saat kita memeluk sedihmu, hingga kau sudah merasa bahagia kini? Tidak ada lagi kesedihan seperti sebelumnya. Oh, maaf. Aku sebenarnya tidak ingin membahas soal pengorbanan. Aku tidak berharap balasan atas pengorbanan itu. Mengantarkanmu pada senyum dan tawa dari air mata sudah membuatku bahagia. Setidaknya aku pernah berguna untukmu. Setidaknya, sesederhana itu.

Adakah kau menemukan orang yang 'lebih baik' dariku? Aku pernah mendengar seorang teman berkata bahwa kau sedang bersama lelaki lain. Aku ingin mendengar pengakuanmu. Aku lelah menerka setiap tanya dari pikiranku sendiri.

Apakah kita sudah seperti orang asing yang tidak saling kenal? Tidak pernah ada kabar lagi tentangmu. Menghilang tanpa jejak. 

Jadi, bolehkah aku merindukanmu? Berharap kamu akan kembali.

 

 

Surabaya, 18 Maret 2016


  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    2 tahun yang lalu.
    eheeeeemmmmmm glek glek glek

    udah ketemu langsung aja samperin ke rumahnya *kabuuuurrrrr otw mimpi 00.28

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    2 tahun yang lalu.
    Mulai lebay dirimu ya

    • Lihat 3 Respon

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    2 tahun yang lalu.
    Semakin kaupeluk rindu itu, semakin tersayat sisa hidupmu...

    • Lihat 5 Respon