Karena Mie Instan pun Tidak Instan

Anis
Karya Anis  Kategori Motivasi
dipublikasikan 15 Maret 2016
Becoming Stronger

Becoming Stronger


Kumpulan artikel (sok) motivasi sebagai self-reminder.

Kategori Non-Fiksi

2.6 K Hak Cipta Terlindungi
Karena Mie Instan pun Tidak Instan

Tiga menit jadi!

Yap, cukup dengan tiga menit menyeduh kita langsung bisa menyantap mie instan dalam kemasan cup. Simple sekali kan? Namun apakah sesimpel itu untuk menyajikan mie itu di hadapan kita? Berapa lama ia berada dalam proses produksi, dalam perjalanan distribusi, hingga terpajang di display toko dan sampai di tangan kita? Berapa tahap yang harus dijalani? Berapa tangan yang terlibat dalam perjalanan itu? *ribet ya? :D

Mungkin yang paling lama adalah perjalanan hingga bisa terciptanya wujud mie instan itu. Seorang lelaki bernama Mamofuku Ando memanfaatkan keadaan di negaranya, Jepang, sebagai salah satu pendorong ide kreatifnya ini. Kesulitan pangan yang membuat pemerintah Jepang menganjurkan rakyatnya untuk mengonsumsi roti gandum dan terigu sebagai pengganti nasi, mendorong Ando untuk membuat mie sebagai salah satu makanan yang disukai penduduk di sana dalam bentuk yang mudah diolah dan mudah untuk didapatkan di semua tempat. Hmm, berapa lama akhirnya hingga mie instan ini bisa berkembang dan menyebar seperti sekarang? Silakan dicari sejarahnya sendiri ya :D

Adakah sesuatu yang bisa kita dapat dengan instan? Tiba-tiba ada uang di hadapan kita. Tiba-tiba ada jodoh di hadapan kita. Tiba-tiba ada rumah dan mobil mewah di hadapan kita. Tiba-tiba kerja di BUMN. Tiba-tiba jadi presiden. Tiba-tiba.... (isi sendiri)

 

Memang, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Apalagi jika kita (masih) percaya pada Tuhan, apa sih yang tidak mungkin bagi Dia? Sekali Dia mengatakan 'Kun', maka terjadilah semua yang dikehendaki-Nya. Tapi untuk mencapai apa yang kita inginkan, apa kita hanya menunggu saja hingga Dia berkata 'Kun'? Mengapa tidak berusaha merayu-Nya agar apa yang kita mau lebih cepat diizinkan terjadi? Bukankah menunggu itu pekerjaan yang membosankan jika tidak kita selingi dengan kesibukan lainnya? Kamu boleh percaya pada keajaiban, tapi jangan bergantung padanya.

Seorang bijak mengatakan bahwa -kurang lebih seperti ini- tugas kita hanyalah berusaha dan berdoa semampu kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Usaha lagi, ikhtiar terus, berdoa lagi, berharap terus. Saat diri sudah berada dalam kepayahan dan kaki tidak kuat lagi melangkah, maka Tuhan akan melakukan apa-apa yang tidak sanggup kita lakukan. Dia tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan kita, kan? Berarti untuk hal lainnya seperti cita-cita, impian, dan sejenisnya yang sudah kita upayakan maksimal namun hasilnya belum maksimal, akan dimaksimalkan oleh Dia. Right? :)

 

Sesekali mungin kita bosan dalam perjalanan ini. Benarkah apa yang kita inginkan bisa tercapai? Apakah usaha selama ini sia-sia? Apakah masih mungkin utuk dipertahankan? Well, yakinilah bahwa sebenarnya Dia ingin melihatmu dalam proses itu. Setiakah kamu dalam menjalani proses ini? Dia ingin melihat kesungguhanmu. Dan bukankah dengan menjaga kesetiaan dalam berproses menjadi salah satu cara untuk merayu-Nya?

Ya sudahlah, inti dari tulisan ini adalah mari kita belajar dari proses mie instan yang tidak instan. Jangan hanya menikmati ke-instan-annya saja, tapi hayati juga proses ribetnya :D. Setialah pada proses. Jika kamu sudah tidak mampu lagi, Dia yang akan memampukanmu :)


 

Kediri, akhir Juni 2014.

PS: Thumbnail-nya bikin laper :(

  • view 246

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    pas banget lagi ujan jadi pengen makan mie instan ((((tapi males bikinnya))))

    • Lihat 1 Respon