Kisah yang Bisa Kau Tentukan Sendiri Endingnya...

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Februari 2016
Kisah yang Bisa Kau Tentukan Sendiri Endingnya...

 

Sudah hampir tiga puluh menit kursor berkedip-kedip. Ia menunggu huruf-huruf berikutnya yang akan membentuk kata dan kalimat baru. Ada cerita yang belum lengkap. Ada yang harus diselesaikan dari kisah ini. Namun, jari tak bisa menari lagi. Ada sesuatu yang membuatnya tertahan untuk menuliskan potongan kisah selanjutnya.

Tidak hanya satu kisah yang tertulis tanpa penyelesaian. Ada beberapa kisah yang lahir namun tak berkembang. Ibarat tunas yang tumbuh namun tak cukup mendapat sinar matahari, pupuk, air, atau zat hara lainnya. Atau ibarat janin yang berada di masa kritis, antara hidup dan mati. Tidak ada potongan kisah lagi, ending menggantung. Kemungkinan yang lebih tepat, kisah itu akan lahir prematur. Terpaksa dilahirkan, jika tidak mau merawat ulang.

Pemutar lagu masih menyajikan lagu-lagu melankolis. Lagu rindu. Lagu penyesalan. Lagu yang bisa menyeretmu ke siluet masa lampau. Tidak ada lagu dengan nada keras. Sudah lebih dari delapan lagu kudengarkan tanpa menyentuh papan ketik di depanku. Tanganku diam. Kakiku diam. Mulutku bungkam. Sesekali mataku terpejam menghayati irama lagu yang sedang di-play.

Jika tulisan cerita bisa diabaikan dengan meninggalkannya --entah tanpa penyelesaian atau dengan berpindah ke cerita yang baru, maka bisakah 'cerita' hidup di dunia nyata ditinggalkan seperti itu?

Memang, hidup harus selalu berubah. Hidup yang begitu-begitu saja tentu akan membosankan. Rutinitas akan membosankan. Harus ada selingan atau hal baru dalam sebuah rutinitas. Pun sama, pasti ada kisah hidup yang selalu berpindah dari satu hal ke hal yang lain. Namun, bisakah satu bagian kisah hidup terlewati dengan ending yang dipaksakan? Mengapa tidak berusaha mengakhiri dengan happy ending? Setelah satu kisah selesai, maka tulislah kisah hidup selanjutnya. Satu pekerjaan selesai, lalu berpindah ke pekerjaan selanjutnya. Bukankah begitu?

Aku masih terdiam. Kursor masih bertahan dengan kedipannya. Lagu demi lagu masih setia menemani. Apa yang hendak kutuliskan untuk mengakhiri satu kisah ini dengan sempurna?

Sayangnya, ada satu hal yag tidak bisa kusamakan antara cerita yang kutulis dengan cerita hidup yang kujalani. Jika tulisan bisa kubaca ulang lalu ku-edit, maka bisakah kisah hidup yang telah berlalu itu dilakukan editing? Mustahil. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah memastikan bahwa perjalanan hidup yang akan dijalani tidaklah seperti kemarin. Harus lebih baik, harus ada target di atas masa lampau. Dengan adanya target, tentu seseorang bisa memperkirakan kisah apa yang akan tertulis dalam buku kehidupan-nya kelak.


 

 

Surabaya, 1 Oktober 2015

  • view 181