Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 8 Desember 2017   13:50 WIB
Membincangkan Tetes 'Rahmat' Hujan


Kata orang, Desember itu akronim dari ‘Gedhe-gedhene sumber’. Mata air membesar. Sekarang, tengah hari yang biasanya matahari begitu terik, kita dihujani rahmat. Begitu kata orang-orang yang sering berdoa saat hujan turun, ‘Allahumma shoyyiban nafia’.

Kita diberi dua musim: kemarau dan penghujan. Jika harus memilih, kamu akan memilih panas atau hujan? Seorang teman pernah menanyakan hal itu padaku. Dia sendiri memilih panas. Alasannya sederhana. Hujan membuatnya terhambat untuk melakukan beberapa aktivitas. Mau keluar rumah, mau jalan, tidak seperti saat tidak hujan. Hujan butuh payung, jas hujan, atau perlengkapan lain untuk melindungi diri. Alasan yang logis dan aku tidak menyangkalnya.

Lalu, di mana nikmat turunnya hujan? Hanya bagi mereka yang tinggal di tanah kekeringan? Bagi pepohonan dan tetumbuhan yang hampir mati? Sementara bagi mereka yang ‘langganan’ banjir, nikmat hujan menjelma menjadi musibah? Apa saja yang menyebabkan sesuatu layak disebut nikmat dan musibah? Ataukah kita pernah mengingat teguran dari-Nya bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat ulah manusia itu sendiri?


Barangkali setelah ini kita mau berusaha memaknai turunnya hujan dengan cara berbeda. Hujan bukan lagi menjadi sesuatu yang harus dikeluhkan.

Pohon dan tumbuhan menjadi basah. Airnya diserap tanah, menguatkan akar-akar. Mereka menjadi segar. Kita yang memandangnya, menjadi lebih indah. Berapa tetes air yang turun demi menyegarkan pohon dan tumbuhan itu? Mampukah kita menghitungnya?

Mungkin seperti tetes-tetes air hujan yang tidak akan mampu kita hitung, seperti itu pula limpahan nikmat Tuhan. Tak akan sanggup kita menghitungnya. Jika pun bisa, coba teliti lagi, tidak adakah yang terlewatkan dari hitungan kita?
 
Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa hujan harus turun setetes demi setetes, bukan langsung banyak seperti guyuran :)


Barangkali kita akan merenungkan ini sembari menikmati teh panas. Menikmati hujan yang turun dengan syahdu tanpa peduli kapan akan reda. Membiarkan Sang Pengatur Hujan untuk membagikan rahmat-Nya.

Dan kau tahu, apa yang lebih romantis dari diskusi tentang hujan dengan satu atau dua cangkir teh panas?

Yaitu orang-orang yang sedang ‘berteduh’ dari air hujan, namun mendoakan sesiapa yang sedang di perjalanan agar bisa sampai di tujuan tanpa ‘dihalangi’ sang hujan. Atau setidaknya bisa berteduh sementara waktu.



*mulai diketik saat gerimis, 081217

Karya : Anis