Sumpah Kita Masih Sama, Kan?

Anis
Karya Anis  Kategori Renungan
dipublikasikan 02 November 2017
Sumpah Kita Masih Sama, Kan?


Sejarah selalu membuat kita merenung. Barangkali juga menciptakan helaan napas panjang saat mengenang kembali perjuangan dan pengorbanan dari mereka yang sering kita sebut sebagai pahlawan. Segala penghormatan yang kita lakukan rasanya tidak akan pernah cukup untuk membalas jasa-jasa mereka.

Peringatan Sumpah Pemuda hanyalah satu dari sekian cara untuk mengenang sejarah. Ikrar para pemuda yang menyatakan bersatu dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Jika saya bayangkan, rasanya semangat mereka saat itu begitu menggebu. Jika saya hidup di zaman saat itu, apakah saya juga akan seantusias mereka? Ataukah saya memilih untuk masa bodoh dan hanya duduk menunggu hasil?

Jika para pemuda yang berikrar itu masih hidup dan bisa melihat perkembangan bangsa ini, apa komentar mereka? Tiap hari kita saling serang di sosial media demi ‘memuja’ idola masing-masing. Kawan yang beda pandangan menjelma jadi lawan. Apa-apa yang berada di kubu lawan dicari kesalahannya. Apakah kita masih satu bangsa? Ataukah kita sendiri yang menciptakan retakan hubungan dan jarak yang menjauhkan dari kata persatuan?

Jika kita punya tujuan yang sama baiknya untuk bangsa ini, mengapa kita tidak saling bahu-membahu untuk sampai pada tujuan itu? Tidakkah kita rindu dengan kedamaian tanpa rasa benci? Tidakkah kita lelah dengan sifat keras kepala kita masing-masing? Mampukah kita menurunkan ego demi mencoba memahami kelompok yang beda pendapat? Cukup ksatriakah kita untuk mengakui bahwa ‘pilihan’ kita tidak selamanya sempurna? Bisakah kita merangkul semua anak bangsa dengan tindakan yang lembut?

Jika para pendahulu kita menunggu persamaan untuk mau bekerja sama, barangkali catatan sejarah akan berbeda. Barangkali nama Indonesia tidak akan ada. Para tokoh pahlawan di masing-masing daerah akan berjuang hanya atas nama tempat mereka dilahirkan dan memproklamasikan daerah itu begitu terlepas dari penjajah. Tidak akan ada Indonesia dengan bentangan pulau yang ribuan.

Mengapa mereka mau berikrar satu?
Jika mereka bukan terkumpul dari banyak perbedaan, barangkali tidak akan ada semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kita memang tidak sama, tapi kita bisa bekerja sama, kan?
Tujuan kita masih sama, kan?
Sumpah kita masih sama, kan?