Dua Arti Bahagia

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Juli 2017
Dua Arti Bahagia

Siapa orang di dunia ini yang tidak ingin bahagia? Bahkan orang yang mengutuki dirinya penuh dengan masalah, pasti tetap terbersit di pikirannya untuk memperoleh kebahagiaan.

Seberapa penting sih rasa bahagia? Apa yang bisa menjamin sebuah kebahagiaan? Di mana letak kebahagiaan? Harta, kekuasaan, kepandaian, atau apa?

Saat masih kecil, kebahagiaan bagi saya adalah memiliki sesuatu seperti yang dimiliki teman-teman. Teman punya tas, saya meminta ibu membelikan tas. Saya bahagia memiliki tas baru. Bahagia karena bisa ‘setara’ dengan teman-teman lain yang memiliki tas.

Hingga ada saatnya, saya kecewa ketika permintaan saya tidak dituruti. Saya meminta ibu membelikan tas baru lagi. Tas lama sudah rusak, resletingnya tidak berfungsi sempurna. Ibu menolak permintaan saya. Saya tidak bahagia. Arti kebahagiaan berdasarkan 'kesetaraan' menurut saya tidak tepat.


Kebahagiaan kedua menurut saya adalah saat saya diberi hadiah oleh orang lain. Saat lebaran misalnya. Masih banyak kerabat dan tetangga yang memberi angpau. Menginjak usia sekolah menengah, tentu ‘pendapatan’ saya di hari raya semakin berkurang. Saya tidak kecewa karena saya sadar umur. *eh


Saya bahagia menerima hadiah dari orang lain. Sebahagia saat saya dibelikan tas baru saat masih kecil. Saya bahagia karena ada orang yang peduli dengan saya. Sesimpel itu.

Perlahan, pemahaman saya berubah. Saya mengira-ngira bagaimana perasaan orang yang memberi hadiah atau barang atau jasa apapun kepada saya. Apakah dia juga bahagia, atau keberatan, atau... biasa saja?

Saya pernah membaca beberapa tulisan tentang manfaat sedekah. Jika boleh diartikan secara luas, saya mengartikannya sebagai memberikan apapun kepada orang lain –asal positif. Siapa yang tidak tergiur dengan janji Tuhan bahwa balasan sedekah akan mampu dilipatkan hingga 700 kali? Iya, tujuh-ratus-kali.

Mulanya, itung-itungan saya ketika hendak memberikan ‘hadiah’ kepada orang lain adalah tentang balasan semacam itu. Tidak salah kan, lha wong Tuhan sendiri yang berjanji. Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya, bukan? :)

Sampai suatu ketika, saya menemukan pandangan seperti ini:
Biar Tuhan yang menilai niat saya, apakah saya ikhlas atau tidak dalam memberi. Biar Tuhan yang menilai juga, apakah amalan semacam ini bisa menjadi perantara untuk mencapai keinginan saya atau tidak. Satu hal yang saya fokuskan adalah... saya ingin melihat orang lain bahagia dengan pemberian itu. Sama seperti saya yang bahagia menerima hadiah dari orang lain.

Ini bocoran tentang  sesuatu yang telah sekian lama mengendap di pikiran saya. Sesuatu yang membuat saya harus bertahan. Sesuatu yang, barangkali selalu menjadi motivasi saya. Itu adalah... saya ingin menjadi perantara bagi senyum orang lain. Saya ingin menjadi penyampai kebahagiaan orang lain.


Selain itu, kebahagiaan menurut saya adalah soal ‘nerima ing pandum’. Menerima apa yang sudah menjadi jatah masing-masing. Bersyukur. Mengurangi keluhan.

Terkadang, kurang bahagianya kita bukan karena tidak bisa memiliki apa-apa yang orang lain miliki, tapi sebab tidak mau berhenti membanding-bandingkan. Minta ini, lalu Tuhan kasih. Lalu nggak bersyukur, minta yang lain lagi. Sengaja Tuhan ngasih, buat diuji. Eh, masih aja dia merasa kurang. Begitu aja seterusnya kalau kekayaan duniawi yang dikejar.

Nerima ing pandum bukan berarti pasrah begitu aja tanpa mau melakukan usaha lagi. Nilai jelek, gak mau belajar. Hidup miskin, gak mau kerja. Bukan begitu. Selalu diperlukan usaha untuk mencapai kebahagiaan. Untuk masalah hasil, Tuhan adalah seadil-adilnya hakim.


Jadi, arti kebahagiaan menurut saya bisa diringkas dalam dua hal. Pertama, memberi kebahagiaan untuk orang lain. Kedua,  bersyukur menerima jatah yang sudah diberikan Tuhan.



PUA, 21 Juli 2017 11:25

  • view 78