Topeng (2)

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Mei 2017
Topeng (2)

Siapa orang di dunia ini yang benar-benar menampakkan wajah aslinya? Ah, kurasa tak ada. Semuanya tak bisa terlepas dari yang namanya topeng. Bukan sebagai penyamaran, namun topeng membuat kita bertahan hidup dengan masih adanya pengakuan dari orang-orang sekitar. Mengapa demikian? Karena mereka sama-sama memakai topeng!

 

Kita tidak akan benar-benar tahu ‘wajah’ asli seseorang. Kita hanya bisa melihat dari yang mereka tampilkan. Raut wajah saat bertatap muka, gaya berbicara, dan pilihan kata yang digunakan. Kadang kita juga bisa menilai dari diksi dan penggunaan emoticon saat berbalas pesan.

Apakah wajah ceria selalu menggambarkan hidup seseorang bahagia? Belum pasti. Apakah orang yang selalu chat dengan ‘haha’ tidak pernah memiliki kesedihan? Bukan jaminan.

Ada sebuah ungkapan, ‘Seseorang yang tertawa paling keras, sebenarnya memiliki kesedihan yang paling dalam’. Benarkah? Bisa jadi. Mungkin dengan cara itu seseorang bisa menutupi kesedihan –bahkan melupakannya.

 

Saat pertama kali melihat seseorang (entah asing atau sudah akrab), spontan pasti kita berprasangka. Ingin berkomentar tentang penampilannya –gaya berpakaian, gaya bicara, cara berjalan, koleksi barang-barangnya, dan seabrek hal lainnya. Kita tidak butuh waktu lama untuk membuat kesan pertama. Kesan pertama memang penting, namun itu tidak bisa menyimpulkan segalanya.

Kita pasti pernah salah duga. Entah orang yang sebelumnya kita anggap baik, eh, ternyata di kemudian hari ketahuan busuknya. Atau sebaliknya, kita terburu-buru memandang negatif, padahal dia memiliki daftar kebaikan yang lebih banyak dibanding kta.

Kita tidak akan benar-benar tahu ‘wajah’ asli seseorang. Kita tidak pernah bisa tahu topeng apa yang sebenarnya sedang mereka pakai, tapi kita bisa memilih untuk berprasangka baik. Jika sama-sama berprasangkanya, mengapa tidak memilih prasangka baik saja –dibanding prasangka buruk yang hanya bikin sesak diri.

Kita tidak akan benar-benar tahu ‘wajah’ asli seseorang. Bahkan kepada sahabat yang kita sudah mengenalnya lama. Hanya diri sendiri yang tahu bentuk topeng apa yang sedang dikenakan.

Apakah topeng semacam bentuk kepura-puraan? Bisa jadi. Pura-pura mengaku ‘orang baik’ –berusaha melakukan yang baik – terbiasa melakukan kebaikan – sampai akhirnya menjadi ‘orang baik’ sungguhan. Dan yang semacamnya...

 

Kesimpulannya, terapkan kesan pertama yang baik pada diri sendiri. Untuk orang lain, gunakan prasangka positif. Kita harus pandai memilih topeng seperti apa yang hendak kita kenakan, “demi” membuat citra diri yang baik. Namun jika kita menjumpai orang dengan topeng yang tidak sesuai dengan kita, jangan langsung menghakimi. Besar kemungkinan penilaian kita salah, karena kita tidak benar-benar tahu ‘wajah’ orang lain. Sekali lagi, lebih baik berprasangka positif.

 

  • view 166