Jangan Sebut (Aku) Kutu Buku

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 April 2017
Jangan Sebut (Aku) Kutu Buku

 

Dulu, saat mampu merampungkan membaca sebuah buku, saya sudah merasa senang. Mungkin juga sombong, karena membandingkan diri dengan mereka yang enggan membaca sampai halaman terakhir.

Kini, saya merasa tidak ada apa-apanya. Apa kabar buku-buku yang pernah saya baca? Jika genrenya cerpen atau novel, mungkin saya masih ingat satu-dua kejadian di dalamnya. Namun untuk non-fiksi, apa yang masih bersisa? Menguap begitu saja. Apalagi jika itu buku panduan semacam tips atau motivasi, atau pengembangan diri. Tidak butuh waktu lama, besoknya saya bisa langsung lupa. Kenapa lupa? Karena gak dipraktekin.

Apakah membaca banyak buku merupakan suatu kebanggaan? Mungkin iya. Tapi, dengan input yang segitu banyak, sudah berapa output yang mampu dihasilkan? Apa hasil yang kita peroleh dengan membaca sekian banyak buku. Terlebih, apa yang bisa kita bagikan pada orang lain? Gerakan apa yang sudah kita buat setelah membaca buku?

 

Semakin ke sini, saya mengakui bahwa saya belum menjadi pembaca yang baik. Barangkali membaca tidak lebih dari pelampiasan untuk membunuh sepi. Tidak ada kegiatan yang lebih menyenangkan saat tidak ada kesibukan selain membaca —selain tidur, denger musik, ngemil, melamun, merenung. Meskipun terkadang ada saat membosankan juga, kecuali jika memang menemukan bacaan yang membuat betah. Atau bisa juga memaksa diri untuk betah.

Saya tidak butuh penjelasan lagi tentang manfaat membaca. Menambah pengetahuan, mengajari kebijaksanaan, memenuhi nutrisi otak, atau apalah. Saya yakin itu semua pasti mengenai setiap pembaca. Jika tidak dianggap sebagai tujuan, maka sebut saja manfaat-manfaat itu sebagai efek samping. Yang artinya, tetap saja kan, kita bakal merasakan (manfaat)-nya juga?

Jika dikaitkan soal menulis, maka saya masih sangat jauuuh. Saya malu karena masih miskin bacaan. Saya malu karena malas membaca. Maka jangan bandingkan saya dengan mereka yang sudah menjadikan membaca sebagai aktivitas layaknya makan-minum, atau bahkan seperti bernapas. Pun jangan puji saya dengan sebutan pembaca —orang yang gemar membaca, kutu buku— karena terkadang itu menyakitkan.

Setelah semua ini, saya hanya ingin melakukan segala sesuatu dengan ringan. Tanpa tekanan dan tendensi apa-apa. Bukan untuk berharap pujian atau mengejar level tertentu. Urusan membaca, saya ingin memulainya dengan niatan sendiri. Jadi bukan karena iri, “Dia bisa namatin buku itu, masa saya engga.”

Bukankah saat kita bisa melepaskan diri dari penilaian dan standar orang lain, adalah saat yang mendamaikan bagi diri sendiri?

 


  • Maz 
    Maz 
    4 bulan yang lalu.
    Saya banget ne.

    • Lihat 6 Respon