Memberi 'Selamat' untuk Bumi

Anis
Karya Anis  Kategori Renungan
dipublikasikan 22 April 2017
Memberi 'Selamat' untuk Bumi

 

Saya tidak bisa membayangkan berapa pahala yang telah ditabung oleh para aktivis lingkungan. Terlebih jika mereka gemar menanam pohon. Kita pasti sudah hafal sejak sekolah dasar bahwa pohon-pohon, terutama yang menjelma menjadi hutan, ibarat sebuah paru-paru. Di sana ada oksigen yang mau tidak mau selalu kita butuhkan. Bahkan jika harus membelinya pun, kita tetap akan melakukannya bukan? Asalkan bisa memenuhi kebutuhan bernapas. Kabar bahagianya, semua itu disediakan gratis.

Selain urusan suplai udara yang membuat manusia bisa menarik-embuskan napasnya, pohon juga memiliki banyak manfaat. Entah dari daun, buah, atau batangnya. Entah dimanfaatkan oleh manusia seorang atau bersama hewan peliharaannya.

Sebuah hadis shahih menyebutkan, “Tidak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya, atau manusia, atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.”

Ibarat struktur MLM yang terus menerus tanpa henti, urusan menanam pohon ini juga memiliki hierarki yang panjaaang. Yap, bisa menjadi amal jariyah. Terus mengalir selama memberi kemanfaatan. Sekarang menanam pohon, lalu berbuah, berbiji. Biji ditanam hingga menghasilkan tunas-tunas lain.

Sepertinya manusia di bumi akan mampu menghirup napas lega jika alam benar-benar terurus. Ini tentu di luar urusan ‘menghirup’ sesaknya persoalan politik atau ekonomi yang tak kunjung habis. Jadi sebenarnya yang bikin sesak itu polusi udara atau ‘polusi’ berita hoax dan provokatif?

 

Berbicara soal Hari Bumi, tentu juga membahas perilaku para penghuninya. Sebagai khalifah yang ditunjuk langsung oleh Tuhan, manusia berkewajiban menjadi pemimpin dan mengelola apa-apa yang telah dititipkan padanya di bumi ini. Jika seorang pemimpin mau disebut visioner, harusnya dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Akan ada generasi penerus yang juga butuh hidup nyaman di bumi ini.

Fakta yang kita lihat kadang tidak seideal yang kita harapkan. Kita tentu masih ingat tentang kebakaran (pembakaran) hutan demi pembukaan pabrik baru. Siapa yang harus bertanggung jawab atas sekian jumlah penduduk yang terpapar asap? Belum lagi soal banjir –ah, ini masalah klasik banget, ya.

Barangkali bumi memang sudah tua. Alam tak ramah lagi pada kita. Atau memang ini semua akibat ulah kita sendiri?

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki mereka agar merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 40)

 

Jadi apa yang akan kita lakukan untuk menyelamatkan bumi? Sekadar memberi ‘selamat’ untuk bumi? Atau bikin foto trus kasih caption yang ada Earth Day-nya lalu sebar di sosmed? Atau bikin tulisan gak jelas kayak saya ini? *eh

Ya sudah, sebaiknya tanyakan pada diri sendiri: Apa yang bakal aku lakuin untuk (nyelametin) bumi?

Katanya sih, perubahan itu kudu dimulai dari diri sendiri. mungkin kamu juga penasaran apa yang saya lakukan untuk hal ini. Setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang, yang akan saya lakukan untuk memperingati hari bumi kali ini adalah...

Menghemat tisu!

Berapa banyak tisu yang kita sia-siakan setiap harinya? Berapa banyak pohon yang sia-sia ditebang hanya demi memuaskan nafsu kita akan sebuah tisu? Apalagi cuma buat ngelap air mata pas galau.

Aduh, ini awalnya mau nulis serius kok malah endingnya nyebelin. Yaudah, cukup segini aja ya.


 *maaf kalo thumbnail-nya gak nyambung, males gugling.

  • view 160