"... Ini Aku Banget!"

Anis
Karya Anis  Kategori Motivasi
dipublikasikan 16 Januari 2017

 

Ada kalanya saat berada pada ‘keadaan yang tidak menyenangkan’, kamu mencari ‘pembela’ yang bisa mendukung perasaanmu. Terutama dalam keadaan sedih, kecewa, sebal, sakit hati, galau, pesimis, atau bentuk rasa lain yang membuatmu down.

‘Pembela’ ini kadang gak jauh-jauh dari kutipan-kutipan (quotes) dan lagu-lagu. Quotes biasanya laris manis untuk urusan motivasi. Orang yang semula putus harapan, perlahan mulai tumbuh kembali semangatnya. Entah berapa lama pengaruh quotes bertahan pada diri seseorang, setidaknya ada sesuatu yang bisa membuatnya ‘memantul’ dari kejatuhannya.

Di sisi lain, tidak sedikit yang mencari quotes untuk mendukung apa yang dialaminya. Jika ada yang patah hati karena cinta, barangkali yang dibacanya adalah status-status perihal cinta yang menyakitkan; kekasih yang tak selalu setia, komitmen yang diingkari, hingga yang paling klasik  tentang cinta tak harus memiliki.

Dibanding membaca kutipan, yang paling gampang tentu mendengarkan lagu. Apalagi untuk urusan cinta, berapa banyak lagu yang berkisah tentang sakit hati, kekecewaan, bahkan kebencian pada seseorang yang (pernah) menjadi spesial?

 

Beberapa orang menikmati lagu karena ‘sekadar’ ingin menikmatinya. Sisanya, menikmati karena merasa isi lagu itu mewakili perasaannya. Tepat, saat itulah mungkin kamu berteriak, “Lagu ini aku banget!” Sama juga dengan saat kamu membaca kutipan atau status medsos yang (hampir) sama dengan keadaanmu saat itu.

Beberapa ahli mengatakan mendengarkan lagu sejenis ini tidak baik bagi kondisi psikologis. Karena udah tahu sedih, ditambah lagi sedihnya. Udah galau, berlipat deh galaunya. Meskipun sebenarnya kamu bisa saja mengelak dengan alasan bahwa... lagu yang didengar lebih sedih dibanding dengan kesedihanmu. Jadi kesedihanmu tak seberapa, bukan apa-apa dibanding dengan lagu yang super-sedih itu.

 

Well, gak ada yang salah jika kamu merasa dan mengalami demikian. Itu sebuah hal yang  normal bin wajar, kan? Setiap sesuatu yang datang ke kamu, pasti bakal kamu respons. Jika malah gak ada tanggapan sama sekali, bukankah itu perlu dipertanyakan?

Gak ada yang salah dengan dirimu jika kamu menangis, marah, geram, atau ekspresi apapun sebagai reaksi dari apa yang kamu alami. Hanya saja, pastikan ada jangka waktu. Tentu kamu gak ingin berlarut-larut dalam keadaan seperti itu, kan?

 

Setelah satu peristiwa terjadi, lalu kamu bereaksi, maka selanjutnya adalah melanjutkan hidup. Bukan terus terjebak pada reaksi ‘kejatuhan’ diri. Misalnya gak lulus ujian, trus sedih. Itu wajar. Tapi kalo sedihnya berhari-hari, mingguan, berapa banyak planing ke depan yang tertunda?

Oke, urusan cinta biasanya yang lebih sensitif. Misal setelah putus, lalu kamu berlama-lama dengan kesedihan. Begadang setiap malam sambil baca status dan lagu galau soal cinta. Iya, gak bisa move on dari sang mantan. Ditambah lagi terus mempertanyakan kenapa nasibmu begitu, kenapa dia begitu jahat, hingga kenapa Tuhan menakdirkanmu demikian. Ini yang kumaksudkan dengan terjebak pada ‘kejatuhan’ diri. Mau berapa lama bertahan dalam kondisi kayak gini?

Dan jika jebakan itu belum lepas, berapa banyak hal penting yang tertunda? Studi terganggu, kerjaan gak fokus, bahkan hidup serasa terhenti. Benarkah separah ini?

 

Jadi, apa intinya?

Tak masalah jika sekarang kamu mencari ‘pembela’ dari ‘kejatuhan’-mu. Tak masalah jika kamu menangis. Tak masalah juga jika kamu marah. Itu semua wajar sebagai ekspresi dari reaksi terhadap apa yang datang padamu. Hanya saja, pastikan deadline-nya. Life must go on, katanya.

Jika sudah begitu, suatu saat kamu akan menemukan momen ‘pantulan’ dirimu. Kamu akan memantul layaknya pegas yang ditekan. Semakin ia ditekan, ia akan mampu memantul lebih tinggi. Jika masalah dan segala sesuatu yang membuatmu down adalah tekanan, maka harusnya itu bisa membuatmu memantul makin tinggi (mendewasa).

 

Sby 160117 21.00