Tuhan Tidak Butuh Pembelaan

Anis
Karya Anis  Kategori Agama
dipublikasikan 03 November 2016
Tuhan Tidak Butuh Pembelaan

 

Jika aku salat, salatku tidak akan menambah keagungan Tuhan. Jika aku tidak salat, keagungan Tuhan pun tidak berkurang karenanya.

Jika aku bersedekah, sedekahku tidak akan menambah kekayaan Tuhan. Pun jika aku menyimpan hartaku, itu tidak akan membuat Tuhan miskin.

Tuhan tidak butuh apa-apa dariku. Akulah yang butuh Dia.

Ini bukan murni kata-kataku. Aku lupa dari sumber mana seseorang mengutip semua pernyataan itu dan menyampaikannya padaku.

 

Jika bapak-ibumu orang penyabar, lalu seseorang menghina mereka, apa yang akan kau lakukan? Ada baiknya kau diam saja. Tak perlu kau ladeni orang itu. Bapak-ibumu penyabar, kata-kata dari penghina tidak akan membuat mereka sakit hati.

Jika kampungmu yang adem-ayem dicemooh orang, apa yang akan kau lakukan? Ada baiknya kau diam saja. Tak perlu kau tanggapi orang itu. Kampungmu akan selalu adem-ayem dengan atau tanpa pencemooh itu.

Jika kau seorang penulis, lalu aku membanting buku karangan di depanmu, kemudian aku menginjaknya, apa yang akan kau lakukan? Tidak perlu marah. Itu hanya kertas-kertas berjilid, kan? Karyamu tidak akan kehilangan ‘kemuliaan’ karena di tempat lain ada yang membaca bukumu, mendiskusikan, hingga menaruhnya di tempat terbaik.

 

Tapi...

Kau tidak salah jika marah pada orang yang menghina bapak-ibumu lantaran kecewa. Barangkali kau akan menghadapi penghina itu, menjelaskan betapa bapak-ibumu begitu berarti buatmu. Kau tidak rela bapak-ibumu diperlakukan demikian.

Kau tidak salah jika marah pada pencemooh kampungmu. Kampung yang kau banggakan sejak kau bermain layang-layang di belakang rumah, hingga kini kau bermain gadget demi bisnis online.

Kau tidak salah jika marah padaku. Buku yang sudah susah payah kau tulis berhari-hari, keringat memenuhi dahimu, dan rasa letih menyergap punggungmu, begitu jadi... aku malah tidak memperlakukannya dengan baik. Tak apa, marah saja.

 

Quran dihina, tidak akan membuat kemuliaannya berkurang.

Muhammad dibikin karikatur, tidak akan mengurangi kemuliaannya.

Tuhan ditentang, sama sekali tidak akan mengurangi kemahasegalaan-Nya.

Baru-baru ini, seseorang di negeri ini membuat mata kita tertuju padanya. Memikirkan ulang pernyataannya. Mendiskusikannya dalam berbagai forum. Membuat beberapa dari kita terpecah. Juga membuat beberapa dari kita makin menyatu.

Lalu aku meraba diriku sendiri. Meraba keimananku. Mempertanyakan sudah benarkah caraku beragama. Sudahkah tindakanku membuat damai orang-orang di sekitarku.

Kuambil barang pusaka di rumahku. Lusuh dan berdebu. Berapa lama ia tidak dibuka? Ah, aku malu. Kueja rangkaian huruf hijaiyah itu dengan terbata. Betapa tidak tahu malu jika aku minta disebut sebagai pecinta Quran.

Tapi, apakah aku tidak boleh marah jika seseorang menghina kitabku?

Aku pun malu jika ditanya siapa idolaku. Benarkah Muhammad adalah tokoh yang begitu ingin kujumpai? Jauh begitu ingin bertemu dengan beliau dibanding artis film, penulis terkenal, hingga klub sepak bola favorit?

Bahkan saat klub sepak bolamu ‘dikatai’ orang lain, kau naik darah. Sekalipun kau belum pernah bertemu dengannya. Maka, jika aku merasa sebal dengan orang yang ‘mengatai’ Muhammad, salahkah aku?

 

Tuhan memang tidak perlu dibela. Dengan atau tanpa pembelaanku, Dia akan selalu agung.

Tapi, jika aku membela karena ingin menunjukkan bakti dan ketaatanku, apakah aku salah?

Kau pun tidak salah jika hendak membela klub sepak bola favoritmu, membela artis idolamu yang terkena isu tindakan asusila. Atau membela karyamu yang dibilang menyesatkan.

Kau tidak salah jika ingin membuktikan bahwa pernyataanmu benar. Kau tidak salah jika ingin menunjukkan rasa cintamu.

Selama tidak mengganggu ketenangan, selama tidak merugikan pihak lain, tidak ada yang salah.

 

Dan ribuan orang yang bersitegang di media sosial, menganalisis nanti bakal begini-begitu,  menduga tujuannya untuk ini-itu, tak mengapa jika kau mengabaikannya. Karena terkadang menyimak celotehan mereka hanya akan membuatmu kesal sendiri.

Aku sanksi, apakah mereka benar-benar peduli. Peduli dengan bersuara di media. Peduli dengan mengingatkan dan memaparkan hasil analisis yang... entah, tak bisa dipahami orang-orang awam sepertiku.

 

Ajining diri gumantung saka lathi. Kewibawaan seseorang bergantung dari lidahnya, dari kata-katanya. Orang akan dihormati karena kata-katanya, entah itu rakyat jelata atau pemimpin bangsa.

Kata-kata bisa mengubah banyak hal. Menyisakan luka atau terkenang karena dikutip berkali-kali.

Beberapa orang akan memaafkan dan memaklumi kata-kata yang kurang baik, karena ditutupi dengan kehebatan lainnya. Beberapa akan terus berusaha mengingatkan bahwa, jika tidak bisa berkata yang baik, maka lebih baik adalah diam.


Surabaya, 3 November 2016


  • Muhammad Iqbal
    Muhammad Iqbal
    3 bulan yang lalu.
    ahoker

    • Lihat 1 Respon

  • arka 
    arka 
    8 bulan yang lalu.
    aku jadi malu.....

    • Lihat 5 Respon

  • agus geisha
    agus geisha
    8 bulan yang lalu.
    ada apah inih?

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    8 bulan yang lalu.
    Setuju banget ....
    Kita bebas memilih melakukan apa saja yang kita anggap benar, asal itu bisa dipertanggungjawabkan dan tidak mengusik kedamaian atau menyelisihi hak-hak orang lain.

    • Lihat 8 Respon

  • Vera 
    Vera 
    8 bulan yang lalu.
    Saya setuju benget..nget..
    lidah tak bertulang, kalau bertulang gimana ya?

    • Lihat 24 Respon