Hal Kecil

Hal Kecil

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Oktober 2016
Hal Kecil

 

Seperti setitik api yang memantik kobaran api besar, mungkin seperti itu juga semangat bermula. Ada hal kecil yang membuatmu berkata ‘Aha!’ kemudian memacu setiap tindakan.

Ada hal kecil yang bisa membuatmu sedih, tak sengaja mengingat masa lampau. Lalu kesedihanmu bertumpuk-tumpuk setelah memutar kembali hal-hal yang telah berlalu. Mengapa seseorang bisa jatuh dalam kesedihan yang sama –bahkan lebih dalam— untuk hal yang sama, sementara dia tidak bisa menertawakan –dengan ‘tingkat tertawa’ lebih tinggi atau minimal sepadan, seperti saat pertama kali— untuk hal lucu yang sama?

Ada hal kecil yang membuatmu ingin berteriak. Sayangnya, sebatas teriakan dalam sepi.

Ada hal-hal kecil yang bisa memicu hal-hal besar. Dari keadaan terburuk yang mengenaskan hingga kejadian yang ‘waw’ dan menakjubkan.

 

Salah satu hal yang menyebalkan adalah saat kau merasa sebal dengan dirimu. Ada rasa geram, ingin menggenggam pecahan kaca, hingga membenturkan kepala. Hal yang bodoh, barangkali. Meskipun jika boleh meminta pemakluman, itu hanyalah pernyataan dari ekspresi kekecewaan.

Ada sesuatu yang harus segera dilepaskan dari tubuh ini. Terlampau banyak keringat yang bikin risih. Banyak noda menempel yang butuh segera ditanggalkan.

Ada juga hal kecil yang mengingatkanmu untuk kembali merasa kecewa. Hal kecil yang menyadarkanmu untuk segera meninggalkan kebiasaan burukmu. Hal kecil yang jika kau kumpulkan, bisa menjadi kumpulan nikmat tak ternilai.

 

Syukuri saja rasa kecewamu. Bukankah dengan itu kau bisa tersadar dari pengabaian tugas-tugasmu yang masih tertunda, untuk sebuah pencapaian?

Syukuri jika karenanya kau sakit hati, patah hati, menangis. Jika dengan itu semua bisa menyadarkanmu, bahwa kau harus kembali ke ‘jalan yang benar’. Kembali pada kebiasaan hidup yang baik. Kembali pada karakter diri yang kau idamkan.

Syukuri saja jika napasmu mulai terengah-engah. Sesak menahan semua ‘simpanan’ di dada. Beban yang barangkali ingin kau simpan dengan rapi tanpa disentuh orang lain. Mungkin dengan napas seperti itu, oksigen akan datang, menggantikan udara-udara penuh polusi di sekitarmu. Bukankah setelah itu kau bisa bernapas dengan lebih lega?

Syukuri saja remah-remah hikmah yang bisa kau pungut.

Syukuri saja dalam heningmu.

Barangkali hening dan sunyi adalah teman terbaik, saat orang-orang masih begitu sulit memahami apa yang kau pikirkan.


 

abaikan thumbnail.


  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Ah seperti saya, "kesal dengan diri sendiri akan tidak tercapainya impian" tulisan nya keren .. Mantap

    • Lihat 1 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Good...two thumbs up

    • Lihat 7 Respon