Rindu Tanpa Malu

Anis
Karya Anis  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Oktober 2016
Jeda

Jeda


*belajar nulis :(

Kategori Cerita Pendek

4.9 K Hak Cipta Terlindungi
Rindu Tanpa Malu

Sebuah Fiksi
 

Bayangkan jika kau telah bertahan dua jam dalam gelap, namun matamu tak kunjung terpejam. Ini bukan ulah PLN yang iseng karena pemadaman listrik bergilir. Pun, bukan akibat insomnia seperti beberapa hari lalu saat kau sering dikejar deadline tugas-tugas kuliah. Menyebalkan saat harus mengakui bahwa bayangan lelaki itu yang telah membuatku terjaga hingga lewat tengah malam ini.

Menyebalkan. Rindu ini datang tidak tahu malu. Datang terlampau cepat dari seharusnya.

Tanganku menggapai gelas di atas meja setelah sakelar kuubah dalam posisi on. Sisa air di dalamnya dengan cepat mengaliri kerongkonganku. Basah. Aku bisa menghela napas lebih lega sekarang.

Tubuhku kembali merebah. Niatku berubah. Aku tidak ingin tidur sebelum memutar kembali adegan tadi siang. Aku yakin telah mendokumentasikan detail setiap detiknya dalam otakku.

 

Orang-orang berdesak-desakan memasuki bus kampus yang transit setiap jam itu. Entah acara apa yang telah selesai mereka ikuti. Di tangan beberapa orang, nampak kotak snack bergambar kue-kue. Dikejar cuaca panas dan berebut tempat duduk, aku hampir saja terjungkal lantaran dorongan dari seseorang di belakangku.

Sial. Semua kursi sudah penuh. Kuhela napas sejenak. Kemudian kuayunkan tangan kanan berkali-kali ke arah leher demi mengurangi rasa gerah yang kian menusuk. Meskipun bus ini ber-AC, kecanggihannya tidak akan cukup untuk menjamin kesejukan setiap penumpang yang berjubel di dalamnya.

Kau tahu, dari dulu kota ini terkenal dengan hawa panasnya. Bersiap-siaplah menghadapi dua hal jika kau merantau ke sini. Pertama, kulitmu memang tidak akan gosong atau melepuh, hanya belang. Kedua, bersabarlah menghadapi orang-orang yang mengumpat tidak pada tempatnya. Seperti di traffic light, saat seorang lelaki berteriak ‘Cuk!’ lantaran kendaraan di depannya enggan bergerak. Padahal antrean sedang mengular. Aku menduga, ia bukan sebal karena lampu hijau yang menyala lebih sebentar dibanding lampu merah. Ia pasti sebal karena udara panas yang menjangkiti seluruh badannya. Mungkin akan lain ceritanya jika ia mengendarai mobil yang beruangan dingin. Ah, entah. Aku tidak peduli.

 

Tanpa memamerkan suaranya, lelaki yang duduk di sebelahku berdiri dan memberi isyarat agar aku menggantikan posisinya. Aku tidak membiarkan peluang itu direbut orang lain. Duduk tentu membuatku lebih nyaman karena bisa menikmati langsung lubang-lubang berhawa dingin saat aku mendongak ke atas.

Bus merangkak lambat. Selain panas, kota ini macetnya juga bukan main. Tiba di belokan jalan, terdengar suara jeritan ringan. Para penumpang yang berdiri sempat terhuyung, membuat posisi tubuh mereka miring. Aku melihat ke arah mereka, sekadar mengalihkan pandangan dari smartphone yang tergenggam.

Ah, dia. Lelaki dengan tangan menggelantung dan titik-titik air yang membasahi dahinya. Sebagian keringat yang melewati mata agaknya membuat tidak nyaman kacamata yang dikenakannya. Aku mengamati wajahnya untuk sekian detik. Ada senyum meneduhkan yang tidak bosan untuk terus kupandangi. Entah pada detik keberapa, pandanganku beradu dengan tatapan matanya. Dia mengulum senyum lebih manis dibanding sebelumnya. Tak lama, aku segera menunduk dan memenceti tombol di ponselku. Kau tahu, sebenarnya saat itu aku juga tersenyum lebih indah dari biasanya. Hanya saja aku malu untuk berlama-lama saling bertatapan dengannya.

 

Bus akhirnya sampai di kampus biru ini. Kampus yang masih satu nama dengan kampus sebelumnya. Satu demi satu penumpang keluar tanpa berdesakan seperti saat masuk tadi. Lelaki berkacamata tadi melangkah lebih dulu. Para penumpang yang duduk menunggu hingga habis penumpang yang berdiri. Jangkauanku dengan lelaki itu kian jauh. Ah, andai aku tahu siapa namanya.

Begitu aku turun, masih kudapati punggung lelaki dengan tas warna coklat itu. Sejurus kemudian, dia menoleh ke arahku. Senyum manis itu muncul lagi! Kemudian ia melambaikan tangan. Aku sempat melirik kanan-kiriku, juga belakang. Tidak ada orang lain lagi yang sedang menerima isyarat itu. Lambaian tangan itu untukku, tidak salah lagi. Tapi, apa maksudnya?

Aku ingin menghampirinya, namun suara pesan dari ponsel menahan langkahku. Kurogoh saku kanan dari celanaku untuk mengeluarkan benda mungil itu. Sesaat ketika aku hendak melangkah ke arah lelaki tadi, sosoknya sudah tiada. Kemana ia?

 

Sial, aku kehilangan jejaknya. Aku memukuli kepala tanpa maksud menyakiti diri. Betapa bodoh diriku. Tidak hanya lupa menanyakan nama lelaki itu, aku bahkan lupa tidak menyampaikan terima kasih. Kuambil bantal, kuhantamkan tepat di wajah.

Aaaarrrgh, menyebalkan. Rindu ini datang tanpa punya malu. Datang terlalu dini. Mengapa aku gagal mengusirnya? Mungkinkah ini tahap awal dari 'gila' lantaran aku tengah mengalami hal yang orang-orang sebut sebagai... jatuh cinta?

 


  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    10 bulan yang lalu.
    Waaaah ada yang sedang jatuh cintaaaaaaaa

    • Lihat 7 Respon

  • 31 
    31 
    11 bulan yang lalu.
    Tulisan yang..out of box..
    keren...

    • Lihat 5 Respon

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    11 bulan yang lalu.
    Ciee... Jatuh cinta...
    Nggak galau lg bu? Hihihi...

    • Lihat 8 Respon