Sebab 'Hujan'

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Oktober 2016
Sebab 'Hujan'

 

Aku memastikan sekali lagi bahwa lembaran kertas itu telah masuk dalam tas. Beberapa kalimat dengan goresan Penciltic yang tidak rapi, tercatat di sana. Kalimat yang akan didengarkan sekian orang jika aku diberikan kesempatan untuk membacanya.

Seorang panitia akhirnya menyodorkan microphone padaku. Penanya urutan ketiga. Sebelumnya aku sempat was-was kalau saja dua orang sebelumnya menanyakan hal yang sama denganku. Puji syukur, alam sepertinya berkonspirasi untuk mendukungku hari itu.

Setelah memperkenalkan diri, aku minta izin untuk membacakan sebuah kutipan.*)

Motivasi saya menulis bukanlah untuk berdakwah ataupun royalti.
Saya adalah muslim yang bodoh. Tidak tahu banyak tentang agama.
Amalan saya tidak pernah cukup untuk mengetuk pintu kebaikan akhirat.


Tapi setidaknya, di Padang Mahsyar kelak,
ketika Rasul menimang-nimang siapa yang layak mendapat syafaat,
saya akan berkata,
Saya pernah menuliskan kisah tentangmu dengan lelehan air mata.”

 

Aku membaca kalimat tersebut tidak dengan tempo cepat. Pun tidak lambat. Hanya saja, pada kalimat terakhir seperti agak melemah, ada sesuatu yang tertahan.

Kalimat itu kutulis beberapa menit sebelum berangkat. Pagi itu, kusempatkan untuk mengubek-ubek posts atau links yang pernah kusimpan di Facebook. Memang sudah kuniatkan.

Itu adalah status dari seorang juru cerita –karena beliau enggan disebut penulis. Di-posting sepuluh bulan lalu. Sebuah pernyataan yang membuatku terus dikejar pertanyaan yang menggelisahkan, “Amalan apa yang bisa kamu banggakan di hadapan Nabimu?” Sebuah pertanyaan untuk diri sendiri tentunya.

Niatku untuk mengulik pengalaman juru cerita itu sedikit gagal. Pasalnya, ia merasa kesulitan dengan pertanyaanku. Terlebih, itu adalah hal personal yang ingin ia simpan sendiri. Meskipun demikian, ia tetap berbicara panjang-lebar. Aku tidak mencatat apapun dari penjelasannya, sama dengan ketika sepanjang acara sebelumnya yang tidak kuarsipkan dalam kata-kata.

Tak mengapa, bisa ‘memaksakan diri’ datang ke acara ini lebih dari cukup bagiku. Setidaknya aku sudah tahu maksud kata ”hujan” yang tertulis pada setiap sub judul buku itu.

Selesai acara itu, satu hal yang menggelayut di pikiranku tetaplah tentang itu. Amalan apa yang bisa kuandalkan untuk memperoleh syafaat Muhammad? Sudahkah aku pantas mendapatkannya dengan semua kebaikanku saat ini? Seberapa tinggi level keteladananku terhadap akhlak beliau?

 

Ah, iya. Aku malu. Sangat malu barangkali. Mengaku-ngaku cinta, tapi apa buktinya?

Lalu aku teringat catatanku setahun lalu.

Ummatii, ummatii, ummatii...
Adakah kami termasuk umatmu?
Mengaku-ngaku cinta, tapi apa buktinya?

Bagaimana disebut cinta jika mengabaikan yang kausampaikan,
masihkah disebut cinta jika tidak melakukan yang kauarahkan,
apakah cinta itu masih berarti jika jarang menyebut namamu?

Ummatii, ummatii, ummatii,…
Adakah kami menjadi bagian umat yang kaurindukan?
Mungkin kami harus bertanya pada diri sendiri,
sebesar apa cinta ini padamu,
seberapa kuat langkah kaki, gerak tangan, dan mulut ini mengikuti sunnahmu

--

Apakah nafasmu masih berembus?
Apakah inderamu masih berfungsi?
Apakah hatimu masih yakin pada jalan ini?

Tuhanmu Maha Pengampun
berapa kali Dia memberimu waktu untuk kembali?
Tuhanmu Maha Penyayang
tidakkah kamu malu dengan nikmat-Nya yang terus mengalir,
sementara dosa-dosa juga tertulis setiap harinya?

 

Allaahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad.

 

 *)kutipan ini sedikit berbeda dari redaksi aslinya.
Omong-omong, kamu tahu siapa juru cerita yang kumaksud? Ya, dia penulis tetralogi novel biografi 'Muhammad'.

 

Sby, 171016


  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    hmmm..gaya bahasa yang tidak biasanya. *abaikan

    • Lihat 14 Respon

  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    1 tahun yang lalu.
    Intinya selawat ya.

    • Lihat 1 Respon