Untukmu, 4 Hal Agar Tidak Berucap ‘I Hate Monday’

Anis
Karya Anis  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Untukmu, 4 Hal Agar Tidak Berucap ‘I Hate Monday’

Untukmu, ada empat hal agar tidak berucap ‘I Hate Monday’ (setidaknya hari ini).

Apakah kamu sering berkata I hate Monday? Jangan-jangan ini adalah ucapan mereka yang malas menjalani hari. Malas menghadapi kenyataan. Atau, masih terpaku dengan masa lalu hingga sulit move on?

Beberapa hal ini saya tulis utamanya untuk mengingatkan diri sendiri. Saya membagikan di sini dengan tujuan, barangkali ada yang senasib. #eh

 

1. Kamu harus bahagia di hari Senin

Senin adalah saat kamu memulai hari. Jika di awal saja kamu tidak semangat, gimana dengan seminggu ke depan? Bagi yang sekolah, kalo di hari Senin aja udah males, palingan besoknya suka ngabur pas lagi pelajaran. Bagi yang udah kerja, kalo Seninnya gak semangat, kemungkinan Selasa-Rabu-Kamis-Jumat-nya jadi ngebosenin.

Untuk itu, kamu harus yakin kalo Senin itu gak ngebo-senin. Kalo bagi bisnisman sih, katanya Monday is Money Day.

Bagi kamu yang muslim, pasti pernah melakukan puasa sunnah Senin-Kamis. Aisyah, istri Rasulullah, mengatakan bahwa beliau suka berpuasa pada kedua hari itu karena amal-amal manusia diperiksa pada hari Senin dan Kamis. Beliau suka ketika amalnya diperiksa, sedang dalam keadaan puasa.

 

2. Awal bulan

Awal bulan alias tanggal muda pasti bikin banyak orang tersenyum. Yang kerja pada gajian, anak kost pada nerima transferan. Para pemilik warteg dan ibu kost? Mereka juga senang, karena utang makan akan segera dibayar. Tunggakan kost tiga bulan pun bakal dilunasi. Huaaaaa.

 

3. Tahun baru

Hai, kamu tau kan kalo ini tanggal udah tanggal 2 Muharram? Kemarin adalah awal tahun baru Hijriyah. Ya, memang, gak perlu semarak dan rame-rame untuk merayakan pergantian tahun ini. Tanya kenapa? Daripada niup terompet, mending dengerin petuah Gus Mus dalam syair berikut. Mari merenung.

 

Selamat Tahun Baru, Kawan

Kawan, sudah tahun baru lagi.
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?
Memandang diri sendiri, bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisab-Nya.
Kawan, siapakah kita ini sebenarnya,
musliminkah, mukminin, muttaqin, Khalifah Allah?

Umat Muhammad-kah kita?
Khaira ummatin
 kah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain, atau bahkan lebih rendah lagi?
Hanya budak-budak perut dan kelamin.

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan. Lebih pipih dari kain rok perempuan.
Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan massa dan tiba-tiba buas dan binal justru di saat sendiri bersama-Nya.

Syahadat kita rasanya seperti perut bedug, atau pernyataan setia pegawai rendah saja. Kosong tak berdaya.
Salat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu. Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas,
dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.
Do’a kita sesudahnya justru lebih serius, kita memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga.

Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat tanpa menggeser acara buat syahwat.
Ketika datang lapar atau haus, kitapun menggut-manggut “Oh, beginikah rasanya”
dan kita sudah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.

Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia-sia.
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, upaya-upaya Tuhan menggantinya beripat ganda.
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material.
Membuang uang kecil dan dosa besar, lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi: Haji.

Kawan, lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita bersama-Nya?
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya.
Menyiasati dunia sebagai khalifahnya.

Kawan, tak terasa kita semakin pintar.
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita, paling tidak kita semakin pintar berdalih.
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan. Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran.
Melacur dan menipu demi keselamatan. Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan. Memukul dan mencaci demi pendidikan.

Berbuat semuanya demi kemerdekaan. Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman. Membiarkan kemungkaran demi kedamaian.
Pendek kata, demi semua yang baik, halallah semua sampaipun yang paling tidak baik.

Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman? Para mubaligh dan kiai penyambung lidah Nabi? 
Jangan ganggu mereka.
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya. Para seniman sedang merenungkan apa saja.  
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana. Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya. 
Biarkan mereka di atas sana. Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.

Kawan, selamat tahun baru.
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk, memandang diri sendiri?

     

4. Reborn

Kenapa harus bahagia di hari Senin? Karena setiap hari adalah kehidupan baru bagimu. Dan sesuatu yang baru harus dimulai dengan semangat baru, niat yang baik, dan rasa optimis (kutipan dari sini). Ini tentunya juga berlaku untuk hari-hari lainnya.

 

Surabaya, dini hari 3 Oktober 2016.

So, how ready you to begin this Monday?