Ikutan Heboh Soal Dimas Kanjeng

Anis
Karya Anis  Kategori Ekonomi
dipublikasikan 01 Oktober 2016
Ikutan Heboh Soal Dimas Kanjeng

 

Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Mendengar namanya, saya yakin bahwa beliau adalah pribadi yang taat. Setaat tiga istrinya. Juga beberapa pengikutnya yang masih taat dan percaya bahwa sang guru spiritual sedang berhaji di Mekah, sementara yang ditangkap polisi hanyalah ‘bayangan’-nya saja.

Pertama kali melihat sosoknya di televisi, sepertinya beliau ini adalah orang yang agak susah diajak guyon. Bagaimana tidak, perhatikan saja ekspresi wajahnya di beberapa video yang menjamur di Youtube. Diam, tenang, dan seperti tajam saat melihat sesuatu. Dan entah mengapa, menurut saya wajah beliau cocok untuk jadi pemeran film Bollywood.

 

Pengasuh padepokan yang berada di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo ini populer di jejaring sosial Facebook dengan dibicarakan lebih dari lima puluh ribu kali. Angka ini memang belum melampaui jumlah user yang membahas Alan Walker dengan hits Faded-nya yang mencapai 100K, atau menyaingi topik kopi sianida —yang bisa dicari dengan keyword sianida, mirna, ataupun jessica.

 

Heboh soal penggandaan uang yang dilakukan Dimas Kanjeng, kita bisa merenungkan satu hal: Kemiskinan. Masalah yang satu ini sepertinya tidak ada habisnya dibahas oleh para ekonom. Bagi kamu yang mengambil jurusan ekonomi, pasti pernah tahu buku diktat Ekonomi Pembangunan karangan Todaro. Jika kemiskinan sudah teratasi, barangkali buku ini tidak akan diajarkan lagi di dunia pendidikan.

Ada banyak jalan menjadi kaya alias punya banyak uang. Bisa mengikuti panduan dari buku seri karangan Kiyosaki atau Ippho Santosa. Atau kalau ngefans sama Ustadz Yusuf Mansyur, bisa dengan sedekah. Paling cepat, tentu dengan nikah sama anak Pak Walikota sebelah.

Latah menghadapi kemiskinan, masyarakat yang sudah buntu dengan jalan rasional akan menempuh jalur ‘altenatif’. Mungkin memang benar sabda yang menyatakan bahwa kefakiran itu dekat dengan kekufuran. Alhasil, saat ada orang pinter yang bisa ‘mendatangkan kekayaan’ dengan cepat bin instan, kaum ini akan langsung menyerbu sang guru.

Saya tidak akan membahas perihal tindakan syirik atau keterlibatan tokoh cendekiawan yang menjadi ketua yayasan padepokan tersebut.

 

Saat saya masih kecil, saya pernah berpikir demikian. Mengapa negara tidak langsung mencetak uang saat mengalami kesulitan ekonomi? Kenapa harus berhutang ke negara lain? Karena kita punya perusahaan yang mencetak uang, kenapa gak dimanfaatin. Ya, to?

Pertanyaan polos itu semakin terbukti ngasal begitu saya tersesat di jurusan Ekonomi. Meskipun pernah mengulang mata kuliah Teori Ekonomi Makro, setidaknya saya bisa sedikit memahami bahwa pencetakan uang harus didasari berbagai pertimbangan. Ada kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.

Jika boleh mengajukan pertanyaan ngasal lagi, saya ingin bertanya satu hal berikut: uang hasil penggandaan itu, bagaimana penentuan nomor serinya? Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk para magician yang tiba-tiba bisa mengubah uang dua puluh ribu jadi lembar biru. Keren!

 

Omong-omong soal uang, bukankah uang yang beredar ini sudah ditentukan jumlahnya? Jika jumlahnya berlebih, akan terjadi inflasi. Dengan asumsi perputaran dan jumlah transaksi yang tetap, jumlah uang beredar yang berlebih tersebut akan menyebabkan harga barang mengalami kenaikan. Kalau tidak salah ini adalah teori kuantitas uang yang dikemukakan seorang nelayan. Eh, bukan, dari seorang ekonom tentunya. Namanya Irving Fisher.

Balik lagi soal kemiskinan dan kebutuhan akan uang. Siapa sih yang gak butuh uang? Mau ngajak jalan mantan buat balikan, butuh uang. Minimal buat beli Beng Beng. Mau dimakan langsung atau dingin, ending-nya bakal nikah kok, gak perlu takut bakal putus lagi.

 

Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Beliau pasti taat hukum. Guru yang katanya dipanggil ‘Yang Mulia’ masih terus dimuliakan, bahkan perlu ratusan personil polisi saat penjemputannya.

Jika beliau ini memang benar-benar bisa menggandakan uang, dan uang hasil penggandaan itu asli –termasuk soal nomor seri— maka negara ini patut bersyukur memiliki warga negara yang dianugerahi karomah. Mungkin para ekonom bisa mengkaji penggunaan uang ini untuk kebijakan mengatasi kemiskinan atau mengatur anggaran agar tidak defisit terlalu parah, khususnya untuk membantu anak kost yang sering defisit di akhir bulan.

Tapi jika saya boleh usul, sebagian uang itu barangkali bisa di-sedekah-kan untuk stasiun televisi tertentu, utamanya yang kemarin mengundang Alan Walker. Di video yang ternyata sudah tidak dapat diakses, banyak yang berkomentar nyinyir perihal penataan panggung dan lighting yang ‘kurang banget’ untuk seorang AW. Bahkan ada yang berkomentar, ‘Itu konser atau kuburan?’ atau ‘Nonton konser atau ngerekam konser tuh?’ . Semoga saja lelaki berumur 19 tahun asal Norwegia itu bisa memaklumi penonton Indonesia.

Tentu kalah jauh dengan konser yang megah ini.

 gambar thumbnail dari situ.
*harap maklum jika ada salah sebut perihal teori atau istilah ekonomi.


  • Rafi Wisnu
    Rafi Wisnu
    1 tahun yang lalu.
    Wah,ini hebatnya orang indonesia

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Jadi, kesimpulannya;
    sepandai-pandainya tupai melompat, akan tetap menjadi tupai ...

  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    @Anis, Menurut pendapat saya orang yang percaya dengan "menggandakan uang", cuma karena 2 hal saja => 1. Bodoh , 2. Serakah........
    .
    .
    Rahasia Melipatgandakan Uang => https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=717540611726646

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Idem kak soal pencetakan uang. Saya sering mikir gitu kok. Jadi jawabany apa kak?

    Soal Alan Walker saya mulai ketagihan kak tapi masih kalah sama one ok rock ya

    • Lihat 1 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Misterius..mistis dan mis mis yang lain...
    Urusan duit emang sensitif. Kalau dukun penggadaan duit pernah dengar ada banyak dan dimana-mana, tapi yang sedikit heran, dukun yang gandain duit kebanyakan juga ga kaya. Mungkin karena kemampuan hipnotisnya ga bertahan lama, kayaknya sih gitu, karena mungkin uang yang telah tergandakan itu hanya ilusi.

    • Lihat 19 Respon