Saya, Mario Teguh, dan Setumpuk Rasa Sebal

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 September 2016
Saya, Mario Teguh, dan Setumpuk Rasa Sebal

thumbnail

 

Sahabat saya yang baik hatinya...

Barusan saya ngubek-ngubek dokumen. Ada file berjudul 'My Story about MT’. Date modified 20/09/2012 19.47.

Ya, empat tahun lalu saya sudah memulai menuliskan tentang saya dan Mario Teguh. Baru empat halaman, dan gak lanjut. Ketauan kan kalo saya males nulis :P

Dan karena kemarin muncul kabar yang itu... Iya, yang itu. Ditambah lagi tantangan dari redaksi minggu ini adalah soal MT, saya ‘terpaksa’ menulis ini.

~~~

Jumat, 9 September 2016. Saya chat dengan seorang teman di Facebook. Dia menyebut nama Ario Kisminar di tengah candaan. Saya baru pertama tahu nama itu. Di saat yang bersamaan, saya sedang buka Youtube. Di bagian kanan –tempat munculnya berderet-deret video lain— ada satu-dua video dengan judul Ario Kisminar. Penasaran, saya klik salah satunya. Dari Hitam Putih Trans 7.

Selesai menyimak. Wew! *bingung komen gimana*

Rasa penasaran saya kemudian terarah pada klarifikasi yang ditayangkan di Kompas TV. Oh, begitu ceritanya. Baiklah, saya pura-pura paham.

Salah satu hal yang saya peroleh adalah terjawabnya rasa penasaran beberapa tahun lalu. Saya sempat mikir, MT kan umurnya sudah sekian, kok anak-anaknya masih terlalu muda? Saya kira beliau 'telat' nikah. Hehe. Ternyata karena itu ....

 

Flashback

Saya masih ingat betul pernah menuliskan kalimat pendek di halaman terakhir dari buku catatan Ekonomi saat SMP. Bunyinya, ‘Hormatilah perbedaan, lalu perhatikan apa yang terjadi’. Ini adalah kalimat pertama yang saya ingat setelah nonton acara Mario Teguh Golden Ways (MTGW, Metro TV).

Sayangnya, di buku itu saya tidak menuliskan tanggal. Lebih sial lagi, saya lupa naruh buku itu di mana. Saya agak ragu, saat itu saya masih SMP atau sudah masuk SMA.

Kesan pertama untuk MTGW adalah... bahasa yang dipakai MT terlalu tinggi –setidaknya untuk ukuran umur saya saat itu. Namun, saya yakin bahwa acara itu bagus: motivasi, semangat, inspirasi, kedamaian, dsb. Lebih-lebih kita disapa dengan ‘Sahabat saya yang baik hatinya...’, juga tidak lupa dengan Salam Super-nya.

Entah sihir apa yang membuat saya begitu rajin menyaksikan acara itu tiap minggunya. Minggu malam, pukul tujuh, saya menyudahi belajar. Demi apa? Demi lihat MT!

Padahal aslinya juga bukan gitu. Jaman sekolah, jam belajar saya di rumah memang ‘hanya’ sejam: selepas maghrib sekitar pukul enam sampai pukul tujuh malam.

Ibu-bapak saya mafhum jika di hari Minggu itu saya menguasai TV. Lalu ibu berkata, “Wes, senengane pak buthak. Wong ngomong ngono tok ae sing ndelok kok yo akeh.” (artikan sendiri) Saya hanya tersenyum sambil bersikeras bahwa acara itu bagus, dan mereka harus ikut menontonnya.

Selain dari MTGW, saya menyimak petuah MT dari fanspage-nya. Saat SMA saya masih memanfaatkan warnet untuk mengakses internet. Dari situ juga saya sempatkan untuk membaca status-statusnya.

Entahlah, saya seperti merasa terilhami dengan nasihat dan kalimat motivasinya. Lebay memang. Mungkin karena saat itu masa rentan bagi saya. Rasa pesimis dan pikiran negatif sering menghampiri. Terlebih juga karena sifat tertutup dan suka memendam perasaan. Jadi dengan setiap minggu ‘rajin’ nyimak MTGW, saya merasa ada yang meredam kemarahan dan konflik batin ini. *halah, ngomong apa ini* Maklum efek tengah malam.

 

Saking demamnya, kadang saya buang-buang bonusan sms dengan ngutip kata-kata Mario Teguh. Atau nginfoin kalo malam itu ada MTGW dengan tema ini-itu. Entah, apa yang dipikirkan oleh teman yang menerima sms itu. Haha. Maaf ya bagi yang pernah saya giniin.

Hal ini berlanjut hingga saya masuk kuliah. Saya semakin rajin menyimak status-status MT di fesbuk. Karena demamnya belum sembuh, saya juga sering share status dan ngutip kalimat untuk saya copas sebagai status. Ada seorang teman fb yang bilang saya fanatik terhadap MT. Aaaaargh!

Bukti demam yang lain adalah saya suka ‘nyampah’ komentar di status MT. Entah itu komen ‘Aamiin’, mengiyakan kalimatnya, atau sekadar basa-basi bertanya.

Usaha itu ternyata tidak sia-sia. Suatu ketika saya dikejutkan dengan postingan ini.

 

sumber capture.

 

Ada penjelasan Jika Anda berada di luar Jakarta dan berhalangan untuk hadir, mohon Anda sampaikan pesan kepada Ibu Elisa, agar beliau dapat mengirimkan sebuah hadiah pengganti kehadiran Anda di Jakarta”.

Saya sudah mengirimkan konfirmasi tentang identitas. Hasilnya, admin yang saya hubungi membenarkan bahwa itu nama saya, dan jika saya berniat hadir, beliau akan mengirimkan detail rangkaian acaranya. Tidak ada follow up soal hadiah. *eh :D

Bahkan ada teman fb –yang sebelumnya kami gak pernah menyapa sepatah katapun, tiba-tiba...

 

abaikan soal kata yang sok baku dan formal.

 

Intinya saya sudah melewatkan kesempatan bertemu Pak Mario Teguh.

Kepanjangan ya ceritanya? Saya juga udah capek sih ngetiknya :D

 
Mario Tengil, Mario Tegang, Anti-Jonru, hingga Felix Kwetiau

Maaf ini agak melompat. Salah satu hal menjengkelkan bagi saya adalah melihat perdebatan, pembullyan, atau penghinaan di dunia maya. Yang satu bilang gini, yang sebelah bilang gitu. Hoaaam, mending tidur ya, gak usah nyimak mereka.

Hidup memang gak semudah kata-kata Mario Teguh. Tapi apa hidup para haters itu lebih baik dari orang yang di-bully-nya?

Lagian, bukankah mem-bully di medsos semacam itu juga menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya? Saya ragu, jangan-jangan meraka kurang kerjaan. Kalau toh mereka orang hebat, pastinya gak ada waktu buat ngurusi hal ‘remeh-temeh’ macam ini. Mending diam dan fokus pada hal produktif yang sedang dikerjakan.

Well, saya gak mau terlibat dalam riuh komentar para haters dan pem-bully ini. Menyimak komentar mereka aja udah bikin pusing, apalagi kalo nimbrung -_-

 

Mengidolakan Mario Teguh?

Saya tidak pernah menyebutkan bahwa saya mengidolakan MT. Tidak pernah memiliki poster besar yang terpajang di dinding kamar. Tidak pernah menggunakan wallpaper foto atau kutipan kalimatnya. Sepertinya pernah satu kali sampul profil fesbuk pakai gambar dengan kutipan kalimat motivasinya.

 

Over motivated, less action

Saya tidak ingat mulai kapan terpikir istilah ini. Mungkin sekitar Oktober 2013. Terlalu banyak kapsul motivasi yang masuk ke otak, tapi tidak ada output yang berarti. Aduh, kok ketinggian ngomongnya. Gampangnya begini. Saya rajin baca status, lihat MTGW, video-video dan buku-buku tentang motivasi, namun saya ‘tidak bergerak’.

Ada rasa muak saat menyimak kalimat motivasi. Bukan salah sang motivator, tapi salah saya. Iya, salah saya. Barangkali ini yang membuat saya ingin membenturkan kepala ke tembok. Perwujudan rasa sebal pada diri sendiri.

 

Jadi, jangan heran jika di kamar saya tidak ada tempelan tentang motivasi mengerjakan skripsi atau kejar target ini-itu. Atau tidak ada notes yang bertuliskan kata-kata penyemangat. Gak perlu motivasi lagi, cukup buktikan!

Memotivasi orang lain (memang) gampang. Kita tinggal ngomong, buka mulut. Tapi menjalankannya? Itu yang sulit. Saya akui bahwa kadang saya mendadak sok jadi motivator. Bisa ngomong dan bikin kata-kata sok bijak. Hal yang dilematis, saat ada teman curhat dan dia butuh  motivasi.

Mungkin inilah yang menjadi penyebab mereka yang mengatakan bahwa ‘hidup gak semudah omongan Mario Teguh’. Karena di mana-mana, ngomong emang lebih mudah dibanding take action. Tiap orang pasti punya cara pandang yang berbeda dalam menghadapi masalahnya, menjalani kehidupannya. Tiap orang bisa memutuskan untuk bergerak atau diam saja. Orang lain hanya perantara, keputusan besarnya ada pada diri sendiri. Duh, mendadak sok bijak gak ini jadinya?

 

mungkin hidup sesederhana goreng  kerupuk kali ya...

 

Terakhir, hidup gak semudah kata-kata Mario Teguh tentu juga gak semudah kata Andri Wongso, gak semudah kata Merry Riana. Gak semudah kata Anthony Robbins dan Nick Vujicic juga(?) Atau sekalian hidup gak semudah firman Tuhan (?)

Sekali lagi, hidup memang gak semudah kata-kata para motivator. Coba berikan saya satu contoh hal yang mudah dilakukan. Ketemu? Perhatikanlah bahwa segala hal yang kini dimudahkan dengan adanya teknologi, dulunya juga tidak mudah.

Itu! (sengaja penutupnya pake sok bijak gini)


 

Surabaya, 15-16 September 2016


  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    @Anis, Salam Super.... :-)

    • Lihat 3 Respon

  • Muhammad Fatkhul Aziz
    Muhammad Fatkhul Aziz
    1 tahun yang lalu.
    Hidup sesederhana goreng gorengan. Iya. Simpel prosesnya. Tapi puaannnaasss minyaknyaaa.

    • Lihat 2 Respon

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    'Jadi, jangan heran jika di kamar saya tidak ada tempelan tentang motivasi mengerjakan skripsi atau kejar target ini-itu' yang ada goresan tembok hasil jedot kepala

    • Lihat 3 Respon

  • Harmawati 
    Harmawati 
    1 tahun yang lalu.
    Jangan benturin kepala ketmbok lg yg mba

    • Lihat 7 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Yang baik diambil..yang buruk dibuang...
    Kalau kata motivasi baik..ambil saja ..
    Kalau masa lalunya bukan hak kita mengadili..
    Eh..maaf komen sok bijak saya..
    Yok sarapan

    • Lihat 5 Respon