Qurban itu Dekat

Anis
Karya Anis  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 September 2016
Jeda

Jeda


*belajar nulis :(

Kategori Cerita Pendek

5.5 K Hak Cipta Terlindungi
Qurban itu Dekat

 

Rabu, 7 September 2016 pukul 9.00.
Aula Tirta lantai 2.

 

Tuhan, di mana Kau? Aku butuh bantuan sekarang juga.

Kubuka lagi dompetku. Tetap hanya selembar kertas merah yang nampak. Uang tunai satu-satunya yang kubawa pagi itu. Mungkinkah aku akan melepaskan uang ini? Aku bisa saja meminjam pada teman sebelahku, tapi sungkan. Aku pun bisa berdalih tidak membawa uang tunai atau belum ngambil di ATM, tapi aku malu berbohong.

Tanganku merogoh ponsel di saku. Jari-jariku dengan cepat memilih opsi internet banking. Nihil. Belum ada uang yang ditransfer ke rekeningku. Kuperiksa kotak masuk, kuperhatikan lagi pesan yang masuk semalam.

Fiqa, fee dari project kemarin belum bisa cair. Ada beberapa data yang belum selesai diverifikasi. Fee akan ditransfer setelah semua selesai. Mungkin minggu depan baru bisa ditransfer. Ini info yang bisa Ibu berikan. Harap maklum.

 

Aku menghela napas panjang. Kumasukkan lagi ponsel ke saku. Dompet masih terpegang tangan kiri.

Ukh, mau ikut sedekah juga?” Seorang teman menepuk pundakku, kuarahkan pandangan padanya. “Lagi ngelamun, ya?” tanyanya kemudian.

“Ee... enggak, kok. Oh iya, sebentar.” Aku langsung membuka dompet dan mengambil uang yang ada di dalamnya, lalu kemasukkan ke kotak yang dia bawa.

Aku menghela napas lagi. Rasanya belum ikhlas menyumbang dengan uang tadi. Nilainya memang besar. Seratus ribu, bayangkan. Tapi bukan itu masalahnya. Sebenarnya uang tadi mau aku belikan tiket pulang kampung untuk Idul Adha minggu ini. Aku hanya bisa mengeluh dalam hati. Tak mungkin hal ini ku-curhat-kan pada teman yang duduk di sebelahku.

Ada rasa sesal mengapa aku mengikuti acara ini. Seminar tentang sedekah. Mulanya aku mau ikut karena berharap bisa menghemat. Dapat snack, jadi tidak perlu beli sarapan. Dapat makan siang juga. Hemat dua kali makan. Bagi yang senasib menjadi anak kost sepertiku, perhitungan semacam ini tentu sangat berarti demi kelancaran hidup akhir bulan.

 

Bener sih acaranya gratis, tapi intinya tetap aja butuh ngeluarin duit. Malah tambah banyak lagi. Mending tadi gak usah ikut. Entah setan dari mana yang tiba-tiba membisikiku pemikiran buruk tersebut. Salahku juga sih, kenapa gak sedia uang ‘kecil’ di dompet. Pergolakan batin ini terus saja mengganggu konsentrasiku dari pemateri yang sedang menjelaskan di depan.

“Ini kita sedang investasi kepada Tuhan, lho. Masa pake uang recehan?” sindir pemateri itu. Aku curiga dia punya ilmu khusus sehingga bisa menerawang yang kupikirkan.

Dua orang yang bertugas mengumpulkan sumbangan tadi sudah maju ke depan, berada di dekat sang pemateri. Dia tersenyum begitu melihat dua kardus yang penuh dengan uang. Dan itu bukan uang recehan, tapi uang bernilai jutaan. Aku tadi sempat melihat banyak uang lembar seratus ribu dan lima puluh ribu. Jika peserta seminar ini ada seratus orang, sudah berapa jumlahnya? Mau disalurkan kemana hasilnya?

Ah, kenapa aku jadi suudhon dan tidak ikhlas, ya?

 

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Potongan terjemahan Surat Ali Imron ayat 92. Ayat ini mengandung makna bahwa....”

Dia memulai ceramahnya lagi. Aku menyeruput air mineral di meja. Entah mengapa minuman itu membuat mulutku menguap. Aku sudah tidak fokus mengikuti materi ini. Berharap seminar ini segera berakhir.

 

Kost.

Galau. Malam ini aku sulit tidur. Aku ingin pulang minggu ini. Aku ingin sholat Idul Adha di kampung halaman. Masalahnya, uangku sudah kusumbangkan tadi pagi. Aku bisa saja memaksakan diri untuk pulang. Tujuh puluh ribu, uangku masih cukup untuk membeli tiket pulang seharga itu. Tapi tiket baliknya? Aku pasti harus meminta uang pada ayah. Huft, aku tidak mau merepotkan ayah lagi.

“Ya Allah, kenapa uangnya belum ditransfer juga? Aku pengen pulaaaaang...”

Kurebahkan badanku di kasur. Sejenak tulang-tulang di punggungku terasa nyaman. Namun tetap saja setelah itu aku merasa sesak, membayangkan indahnya sholat id bersama ayah dan adik di rumah...

Tanganku segera menyamber ponsel yang tergeletak di sebelah bantal begitu terdengar getaran.

“Assalamualaikum...” Terdengar salam dari seberang. Itu suara ayah.

“Waalaikumussalam, Yah. Ayah dan adik apa kabar?” Aku langsung bertanya keadaan mereka. Dua orang yang selalu kurindukan di rumah. Jika ibu masih hidup, jadinya tiga orang.

“Alhamdulillah, kami baik, Kak. Kakak jadi pulang minggu ini?” tanya ayah.

Aku terdiam sejenak. Bingung mau menjelaskan dari mana.

“Eee... Anu, Yah. Fiqa kayaknya belum bisa pulang. Ada project yang belum selesai, “ jawabku ragu.

“Penelitian lagi? Kemarin kata Kakak udah selesai akhir bulan.”

Aku menghela napas lagi. Aku tidak bisa berbohong pada ayah. Baiklah, aku akan jujur.

 

“Oh, jadi uang Kakak kepake buat sedekah? Kenapa nyesel gitu, kan sedekah bisa jadi salah satu amal jariyah, “respon ayah setelah aku menceritakan kejadian saat seminar tadi pagi.

“Tapi kan Fiqa mau pake uang itu buat beli tiket pulang, Yah...” jawabku merengek. Aku masih saja menjadi gadis kecil ayah yang manja.

“Gapapa jika Kakak gak bisa pulang. Ayah bisa sholat id ditemenin Adek di sini. Anggap aja sedekah tadi sebagai salah satu bentuk pengorbanan Kakak menjelang hari raya qurban besok.” Aku berusaha mencerna kata-kata ayah barusan.

“Pengorbanan apa, Yah?”

“Kakak pernah banyangin gak, misal Nabi Ismail menolak permintaan ayahnya untuk menyembelih dia? Mungkin jadinya Nabi Ibrahim tidak akan menjadi hamba yang taat sebagaimana yang kita baca dalam Quran. Hamba yang mau mengorbankan apa saja demi kecintaannya pada Allah. Begitu juga Ismail, barangkali dia tidak akan kita kenal sebagai sosok yang berbakti pada orang tua. Barangkali dia menjadi pembangkang dan menuduh ayahnya sebagai orang yang kejam karena tega membunuh anaknya sendiri.”

Aku semakin penasaran dengan cerita ayah.

“Namun nyatanya, Ismail bersedia mengikuti perintah ayahnya. Mengikuti perintah Allah yang diilhamkan lewat mimpi bapak para nabi itu. Allah menguji Ibrahim bukan untuk mengambil Ismail, tapi menguji tentang kerelaan seorang ayah, yang telah begitu lama mendamba kehadiran seorang anak, demi pengorbanan sesuatu yang lebih besar. Adakah harta yang lebih besar dibanding dicintai Allah?”

Ayah menahan ceritanya, seakan meminta konfirmasi dariku.

“Tidak ada, Yah.”

“Nah, di sini intinya. Uang yang kamu keluarkan tadi insyaAllah akan lebih besar manfaatnya jika kamu sedekahkan, bukan untuk membeli tiket pulang kampung. Mungkin kejadian tadi adalah cara Allah agar kamu rela melepaskan harta yang kamu cintai.”

Ayah memberikan penekanan pada empat kata terakhir: harta yang kamu cintai.

“Berapa banyak saudara yang bahagia dengan sedekah yang kamu berikan tadi? Barangkali lebih dari dua orang.”

Ya, aku paham dua orang itu adalah ayah dan adikku. Aku masih terdiam, menunggu cerita ayah selanjutnya.

 

“Kak? Kamu dengerin ayah gak, nih?”

“Dengerin, Yah. Jadi gimana lanjutannya?” tanyaku penasaran.

“Jadi... Eh, sampai mana ya tadi? Ayah lupa.”

“Sampai lebih dari dua orang yang bahagia dari sedekah, Yah...”

“Oh, iya. Intinya itu. Ibrahim berani mengorbankan putra tercintanya, Ismail bersedia dikorbankan ayah tercintanya. Lebih tepatnya, itu bukan tentang korban-mengorbankan, tapi qurban. Qurban artinya dekat, mendekatkan.” Jelas ayah memberi kesimpulan.

Aku berdehem mengiyakan. “Maafin Fiqa ya Yah, gak bisa pulang. Jangan lupain Fiqa kalo ayah dan adik makan daging qurban besok,” ujarku mencoba bercanda.

“Kakak kan selalu dekat di hati.”

“Ayaaaah, jangan ngegombal,” jawabku gemas setengah sebal. Ya, ayahku adalah tipe orang tua humoris.

“Lho, itu kan arti nama Kakak sendiri,” katanya. Aku tidak langsung mengerti. Hingga akhirnya...

“Qo-rib Fi-qal-bi.” Kami mengeja kata ini bersamaan, kemudian tertawa. Mungkin memang benar bahwa nama adalah doa.

 

Ayah menutup teleponnya setelah menasihatiku agar tidak tidur larut. Tak lupa aku menitipkan salam untuk adik. Dia bisa maklum jika aku tidak pulang minggu ini. Akhir bulan, aku bisa pulang sebagai gantinya. Atau setelah fee-ku cair dan tidak ada proyek penelitian lagi.

Aku kembali rebah di kasur, mulai memejamkan mata. Hingga terdengar bunyi ponsel pertanda pesan masuk. Kupikir ayah, pasti dia mau mengucapkan selamat tidur lagi.

Fiqa, fee udah ditransfer ke rekening malam ini. Sebuah pesan singkat yang membuat mataku tidak jadi mengantuk. Aku segera mengecek internet banking. Benar, sudah masuk. Tak lama kemudian, buru-buru kupencet nomor ayah, berharap dia belum tidur. Aku ingin memberitahu bahwa Idul Adha besok kami bisa salat id bersama.


 

  قريب في قلبي : dekat di hatiku.

 

Kediri, malam takbir Idul Adha 1437.


  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Makasih tulisany menginspirasi sekali. Ditunggu karya2 lainya. Salam kenal

    • Lihat 1 Respon

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    Kamu pernah bayangin gak, misal Nabi Ismail adalah dirimu?

    • Lihat 9 Respon