Pelajaran dari Ibu

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 September 2016
Pelajaran dari Ibu

 

Lek Pakmu lagi ngono iku, aku wes gak wani ngongkon,”[1] keluh ibu suatu ketika. Saya diam. Menunggu ia mengucap kata-kata selanjutnya.

“Njalukku ki mung siji. Sing sabar. Ngerti sak jane lek dadaku iki kurang sehat.” [2]

 

Saya paham kondisi itu. Saat lelah, tindakan bapak kadang memang kurang menyenangkan hati ibu. Bapak tidak marah, pun tidak berkata kasar. Hanya saja, nada bicaranya kurang mengenakkan. Entah berkata nanti dulu, lagi capek, atau berkata dengan pengucapan yang tidak jelas.

Saat bensin atau beras habis, dan ibu melihat bapak sedang lelah, ia akan diam saja. Ia akan menjawab pertanyaan pembeli bahwa bapak atau ibu belum sempat kulakan barang lagi. Kami punya sebuah warung kecil di rumah. Salah satu sumber penghidupan.

Saya pun paham jika bapak merasa lelah. Beban kerjanya mungkin boleh dibilang tidak ringan. Dia pekerja kasar. Kamu tahu bata bata merah yang biasanya digunakan untuk membangun rumah? Ya, pekerjaan bapakku adalah membuat bahan material bangunan itu.

Jika sedang masa pembakaran atau pembongkaran batu bata setelah dibakar, bapak pasti lelah. Banyak tenaga yang harus dikerahkan untuk dua tahapan tersebut. Ibu paham betul keadaan ini. Karenanya, jika bukan karena hal yang sangat mendesak, ia tidak akan mengajak bapak bicara.

Suatu ketika ibu pernah memeriksakan diri ke dokter. Saat ditanya, “Apakah ibu bekerja dengan tekanan yang berat?” tentu ibu menjawab tidak. Dia ‘hanya’ di rumah, bukan bekeja seperti karyawan pabrik yang memiliki banyak beban atau tekanan kerja yang berat. Dokter menyarankan agar ibu bisa lebih rileks dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Jangan memikirkan masalah yang berat. Intinya, harus bisa menjaga agar pikiran dan hati menjadi adem ayem. Jika tidak, maka kemungkinan tekanan darahnya bisa naik, atau mengalami sesak.

Ibu adalah wanita penyabar. Dia tidak pernah ‘berani’ kepada suaminya. Tidak pernah ia melawan bapak dengan kata-kata kasar. Saya tidak pernah melihat mereka bertengkar. 

 

Barangkali jika kamu bertanya tentang hal indah yang bisa dicontoh dari keluarga saya adalah tentang ini. Tentang kesabaran seorang ibu, seorang istri. Tentang menahan diri agar tidak terjadi pertengkaran dalam rumah tangganya. Tentang menciptakan kedamaian dalam sebuah keluarga.

Lagi, jika boleh membandingkan, ada tetangga kami yang dulu hampir setiap minggu selalu ribut, selalu bertengkar. Sang suami dan istri sama-sama ‘keras’, tidak ada yang mau mengalah setiap tersulut amarahnya. Hasilnya? Menjadi buah bibir bagi para tetangga, sudah pasti. Dan yang disayangkan, rumah tangga itu harus retak. Mereka resmi bercerai setahun lalu.

Siapa yang ingin perpisahan dalam sebuah rumah tangganya? Pasti tidak ada. Dan ibu saya, tentu juga tidak menginginkan hal itu. Usia pernikahan orangtua saya sudah di angka 29. Selama itu pula, saya yakin banyak tantangan yang harus ibu hadapi tentang bapak. Dan ia berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangga itu hingga kini.

 

Saya bangga memiliki ibu. Wanita paling hebat dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Meski hanya lulusan sekolah menengah, barangkali ibu lebih visioner dibanding saya. Jika boleh dikata, dia tidak hanya berharap tentang kebahagiaan kami di dunia, tapi juga di akhirat. Tidak hanya repot mempersiapkan sarapan pagi sebagai rutinitas kami selama sehidup sedunia, tapi juga memulai merancang kisah sehidup sesurga kelak.

Ya, kisah sehidup sesurga itu berawal dari rumah. Ibu saya telah memulai kisah perjalanan panjang untuk sampai ke sana (surga) dengan sifat penyabarnya, dengan kekuatan menahan amarahnya.

Semoga saja.


 

 [1] Kalau bapakmu lagi kayak gitu (capek), aku sudah gak berani menyuruhnya. 
 [2]Permintaanku itu cuma satu. Yang sabar. Paham sebenarnya (dia) kalau dadaku ini kurang sehat.

 

Surabaya, 6 September 2016.
gambar dipinjam dari sini.


  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    njaluku ki mung siji = permintaanku itu cuma satu

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    ini apaan yah?

    Gagal fokus...

  • alf 
    alf 
    1 tahun yang lalu.
    ... tapi juga mulai merancang kisah sehidup sesurga kelak.

    Uapiiik kak. Very inspired..!!
    Btw, ini hasil dari jedotin kepala ke tembok kemaren ta??. #siul

    • Lihat 5 Respon

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Akhirnya terbit juga...
    Good luck!

    • Lihat 17 Respon

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    good luck ! bacanya nanti