Bukan Penulis

Anis
Karya Anis  Kategori Project
dipublikasikan 03 September 2016
Jeda

Jeda


*belajar nulis :(

Kategori Cerita Pendek

4.7 K Hak Cipta Terlindungi
Bukan Penulis

Kamis, 1 September 2016.
09:05
Di toko buku.

 

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, akhirnya petugas membuka pintu kaca itu. Aku dan beberapa pengunjung sudah tidak sabar untuk segera naik ke lantai dua. Di lantai satu terdapat beberapa pajangan buku dengan harga murah. Maklum, buku-buku itu sudah agak lama. Sepanjang yang ditangkap indera lihatku, tidak ada di antara kami berdelapan yang singgah sebentar di situ. Semua langsung menuju eskalator yang mengantar ke lantai dua.

Kakiku melangkah ke deretan rak. Mataku mencari-cari label ‘Novel Remaja’ ataupun ‘Fiksi’ yang tertempel di bagian atasnya. Dari sekian banyak kategori buku, pilihan ‘Fiksi’ memang selalu membuat kakiku tertahan lama untuk berdiri di situ. Bukan sekadar untuk mencari buku yang kuinginkan, tapi tidak jarang juga untuk menghabiskan barang satu halaman atau satu bab dari buku yang kubaca. Lumayan kan, bisa baca gratis dari buku yang sampul plastiknya sudah lepas. Padahal toko buku bukan perpus, ya...

Aku menemukan sederetan karya dari seorang penulis yang baru kukenal. Beberapa hari sebelumnya, aku pernah membaca tulisannya di sebuah situs online. Kuambil satu buku. Ada logo sebuah penerbit ternama. Kuambil buku lainnya. Sekilas membaca blurb, lalu aku penasaran tentang data diri penulisnya. Kubaca bagian ‘Tentang Penulis’ di akhir halaman buku.

Dia sudah menulis sebelas buku. Dua di antaranya difilmkan. Buku terbaru yang sedang kupegang saat itu, malah sedang proses diangkat ke layar lebar. Ah, keren. Begitu pikirku. Hingga semakin bawah, tertulis bahwa dia sedang menyelesaikan skripsinya. Aaaaaargh...

Apakah aku bisa seperti dia? Mustahil. Nyelesein skripsi setahun aja gak bisa, gimana mau bikin naskah sebuah buku? Pikiran pesimisku muncul. Lebih tepatnya, aku sedang mem-bully diri sendiri.

Ingin rasanya membenturkan kepala ini ke tembok. Barangkali memang tidak perlu sampai berdarah. Cukup sampai terasa sakit hingga ke seluruh bagian tubuh.

Empat tahun yang lalu. Aku sering merasa iri dengan para penulis muda. Muda dilihat dari usianya dibanding usiaku. Mereka aja bisa, kok kamu engga, sih? Ngapain aja?

Selama empat tahun itu pula aku tidak berhenti ‘membenci’ diriku. Benci dengan diri yang membual tentang cita-cita menjadi penulis, namun tidak sungguh-sungguh menulis. Benci dengan orang yang tidak mau merawat impiannya.

Ah, kamu bisa apa. Kamu gak bisa apa-apa. Kamu gak akan bisa keren seperti mereka. Lebih kejam lagi, setan di atas kepalaku menyindir, “Udah sekian tahun, apa yang udah kamu wujudkan dari ucapanmu? Kamu terlalu banyak omong, gak ada bukti.”

Rasanya ingin berteriak di ruangan itu. Biar saja semua pengunjung tahu. Biar saja aku dimarahi petugas toko buku setelah raknya kutinju hingga buku-buku di atasnya berjatuhan.

Berteriaklah, lampiaskan marahmu. Marahi dirimu tentang kebodohanmu, kemalasanmu, kepesimisanmu. Berteriaklah untuk semua yang menyesakkanmu. Berteriaklah hingga terdengar suara hatimu yang berkata, “Cukup, sudah cukup semua ini. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu lagi.”

Aku lupa pernah membaca nasihat semacam ini dari mana.

 

 

“Mbak, tulisanmu bagus. Kapan bikin novel?”

Novel? Ah, nulis satu cerita aja banyak yang gak diselesein. Gimana mau bikin cerita yang panjang?

Sebenarnya itu bisa menjadi semangat awal yang bagus karena aku memiliki pembaca. Namun...

“Tulisan dia itu jelek, masih kayak sampah...”

Ya, kamu benar. Karena aku bukan penulis, tak mengapa jika kamu menyebutnya sebagai sampah.

Malaikat yang baik di sisi kanan menasihati, “Kenapa kamu harus berfokus pada hal yang melemahkan? Kenapa tidak berfokus pada yang menguatkanmu?”

 

Lebih lama lagi, aku teringat saat masih sekolah menengah dulu. Kubayangkan akan ada sebuah buku dari karyaku terpajang di rak seperti ini. Orang-orang mencarinya, membelinya, membaca, meminjamkan, hingga berdiskusi tentang hikmah cerita yang kutulis.

Ah, itu dulu. Dulu sekali. Bahkan sebelum aku memiliki mesin ketik seperti sekarang. Aku pernah menulis cerita dalam beberapa halaman di buku tulis. Dan sekarang... saat aku sudah diberikan kemudahan mengetik, kenapa terabaikan?

“Iya, kamu bodoh. Kamu tidak menghidupi impianmu di masa sekolah dulu.” Setan itu kembali menghina.

 

Dua jam berlalu. Aku sudah mengitari rak demi rak dengan deretan buku yang beragam. Buku-buku yang membahas tentang apa saja. Dikarang oleh penulis dengan latar belakang apa saja. Pun dengan harga berapa saja, ada di sini. Aku memutuskan pulang.

Mungkin setelah ini rasa benciku masih ada. Mungkin juga setelah ini aku berhenti menulis. Berhenti dari harapan yang terlampau tinggi. Berhenti dari harapan nama yang dikenal banyak orang. Menggunakan nama pena sepertinya cara yang tepat untuk menyembunyikan identitas diri. Pembaca bisa menikmati karya tanpa kepo identitas penulisnya.

Jika toh ada pembaca yang mau membaca tulisanku, silakan. Jika tidak ada, tak mengapa. Aku hanya ingin menulis untuk melepaskan sesak.

Kini, aku ingin memajang tulisan besar di kamarku: Kamu benar, aku memang bukan penulis. Suatu saat akan kubuktikan dengan menghapus kata ‘bukan’ itu.

Kamu tahu di bagian mana aku akan memajangnya? Di bagian dinding yang sering kugunakan sebagai tempat membenturkan kepala.


 

Surabaya, 03 September 2016


  • arka 
    arka 
    11 bulan yang lalu.
    semangatt mbak......
    aamiiin

  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    11 bulan yang lalu.
    Merasa sebagai bukan penulis adalah awal semua penulis, tapi jika merasa sudah menjadi penulis berarti awal dari berakhirnya masa kepenulisan. Maka cukuplah kita katakan, "Aku hobi menulis apa saja!"
    Sisanya biarkan orang yang menilai, kita akan menjadi orang bebas tanpa menisbatkan diri sebagai penulis, penyair, dan sejenisnya.

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    11 bulan yang lalu.
    curhat lanjutan

    • Lihat 5 Respon

  • Fitriane Lestari
    Fitriane Lestari
    11 bulan yang lalu.
    ngetwist mbak, suka deh hehe.. salam kenal

    • Lihat 1 Respon

  • alf 
    alf 
    11 bulan yang lalu.
    bukan penulis tp pinter nulis.
    bukan penulis tapi jadi best seller.
    jangan jadi penulis kak,,. bisa meledak nanti bukumu. kayak elpiji 3 kg itu lho.

    • Lihat 14 Respon