Jangan Rendahkan Petugas Kebersihan

Anis
Karya Anis  Kategori Renungan
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Catatan Pejalan

Catatan Pejalan


...

Kategori Acak

2.5 K Hak Cipta Terlindungi
Jangan Rendahkan Petugas Kebersihan

 

Sabtu, 27 Agustus 2016. Aku berangkat ke perpus pukul delapan pagi. Jika biasanya jadwal buka perpus mulai pukul 7.30, maka khusus hari Sabtu jadwalnya lebih tiga puluh menit.

Saat hendak sampai, kulihat beberapa pertugas kebersihan masih mengepel lantai dan mengelap kaca pintu masuk. Pikirku, maklum jika mereka belum menyelesaikan tugasnya pagi itu. Papan kuning yang memberi peringatan bahwa lantai masih basah, terpajang di situ.

Memasuki ruangan di lantai tiga, aku kembali disambut seorang mbak yang sedang mengelap pintu kaca. Dia membukakan pintu, diiringi senyum ramah. Petugas kebersihan di perpus ini mayoritas perempuan.

 

Setelah mengambil tempat duduk, aku terpikir tentang satu hal. Jika tanpa mereka (baca: petugas kebersihan), akankah lantai di ruangan ini terlihat bersih dan rapi? Sudah cukupkah ‘penghargaan’ yang kita berikan atas jasa mereka? Barangkali penghargaan bukan melulu soal rupiah yang mereka terima setiap bulan.

Aku teringat saat kuliah di kelas. Saat jam kedua misalnya (jadwal pukul 9.50). Beberapa menit sebelum itu, kami harus menunggu dulu agar petugas kebersihan selesai menyapu. Termasuk memunguti kertas dan botol atau bungkus sisa makanan. Sampah yang harusnya masuk di tong sampah itu berserakan di lantai.

Ah, mahasiswa. Bagaimana mau mengubah dunia kalau mengubah perilaku hidup saja belum bisa? Ini termasuk aku. Malu rasanya. Barangkali kita akan mengeluh saat lantai terlihat kotor, tapi lupa berterima kasih saat lantai itu sudah terlihat bersih.

Melihat hal seperti itu kadang membuatku kangen dengan masa sekolah dulu. Jadwal piket harian. Kami siswa satu kelas harus bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan kelas. Berbeda dengan kuliah yang mengandalkan petugas kebersihan.

 

Omong-omong soal kebersihan, apakah kita sudah membersihkan hati kita untuk tidak meremehkan pekerjaan mereka?

Apakah menjadi office boy, tukang sapu, tukang kebun, adalah pekerjaan rendahan? Jika ada yang menganggap demikian, coba bayangkan jika di dunia ini tidak ada petugas kebersihan, tidak ada yang mau menjadi petugas kebersihan. Apa jadinya? Atau para ilmuwan harus menciptakan alat supercanggih untuk menyedot debu lantai hingga menyapu setiap jalanan sudut kota?

Dan jika berbicara soal pekerjaan yang dianggap rendahan, mungkin kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan seorang office boy di sebuah bank, yang 19 tahun kemudian menjadi Vice President di tempat kerjanya. Sudah pernah membaca kisah beliau?

 


  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Ini bagus..mengingatkan kita akan empati yang mulai hilang..

    • Lihat 5 Respon

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    perihal pekerjaan rendahan, apa ada yang bisa menyebutkan satu saja, cukup satu saja pekerjaan rendahan?

    • Lihat 9 Respon