Habiskan Saja Sepiring Nasi di Meja Makanmu

Anis
Karya Anis  Kategori Renungan
dipublikasikan 14 Agustus 2016
Catatan Pejalan

Catatan Pejalan


...

Kategori Acak

2 K Hak Cipta Terlindungi
Habiskan Saja Sepiring Nasi di Meja Makanmu

 

Apakah kamu termasuk orang yang resah saat melihat begitu banyak makanan yang terbuang sia-sia dari pengunjung di kantin, kafe, food court, atau restoran?

Seringkali mereka tidak menghabiskan makanannya. Apakah porsinya yang terlalu banyak? Atau menu yang kurang sesuai sehingga enggan menghabiskannya?

Ini bukan tentang seberapa besar kemampuanmu untuk membeli makanan. Ini tentang menghargai makanan. Ini juga bukan renungan tentang melihat kaum yang kelaparan. Ini berbeda. Simaklah nasihat berikut, semoga setelah ini kamu mau 'melahap' semua makanan yang sudah kamu beli, atau yang telah disajikan ibu atau istrimu di rumah.

 

Misalkan sarapan pagimu kali ini adalah nasi goreng. Apa saja bahan untuk membuat nasi goreng?

1. Nasi putih

Asal nasi putih tentu dari beras. Dari mana beras itu diperoleh? Beli di toko atau hasil panen dari sawah milik pribadi? Jika dari toko, berapa lama perjalanan beras itu sampai di tanganmu dari petani yang tinggal di desa? Atau bahkan itu beras impor dari Vietnam atau Thailand. Betapa lamanya perjalanan beras itu hingga kamu membelinya.

2. Telur

Telur ayam tentu diproduksi oleh peternak ayam. Berapa lama perjalanan telur itu sampai ke tanganmu?

3. Bawang Merah

Bagi yang tinggal di Brebes, mungkin punya sawah yang menghasilkan komoditas ini. Bagi yang jauh, berapa lama perjalanan si bawang merah hingga sampai ke tanganmu?

4. Garam

Yang rumahnya dekat dengan laut pasti lebih cepat memperoleh barang asin ini. Nah, bagi yang jauh, berapa lama si garam ini sampai ke tanganmu?

5. Minyak Goreng dan lainnya

Karena akan terlalu banyak jika dijabarkan satu per satu bahan untuk membuat nasi goreng, nomor terakhir ini dibuat ringkas. Minyak goreng, kecap, cabai, sayuran, atau bahan tambahan lainnya. Berapa lama perjalanan semua bahan-bahan ini sampai ke tanganmu?

 

Selanjutnya, kamu akan merenungkan hal ini:

Perjalanan 'rezeki' yang mendatangimu, adalah lebih jauh daripada kamu mendatanginya.

Maka jika pagi ini setelah bangun tidur sudah tersaji sarapan di meja makan, hanya butuh berapa langkah kamu untuk sampai padanya? Bukankah lebih 'jauh' perjalanan makanan itu sampai di hadapanmu? Bahan-bahan dari seluruh pelosok negeri, bahkan dari negeri seberang, sudah 'berkumpul' menjadi satu di depanmu. Masihkah kamu tidak mensyukurinya dengan menyia-nyiakannya, tidak menghabiskannya --yang akhirnya terbuang sia-sia?

Barangkali, nasihat dari Nabi Muhammad ini juga akan membantu kita mengingat, agar tidak menyia-nyiakan makanan: makan jika sudah lapar, berhenti sebelum kenyang.

 

Jadi gimana, masih mau menyisakan makanan dan membuangnya sia-sia setelah membaca tulisan ini? 


 

Surabaya, 14 Agustus 2016 6.53
Terima kasih untuk seorang teman yang pernah menasihatkan tentang ini.


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Done...

    Dah, baca semua tulisan di Project ini,
    Lanjutkan ocehan renungannya, Mba Anis.

    Project ini bagus, dalem dan membumi.

    #salim am super senior.
    Dikit lagi, traktir nasi goreng, pake uang Anis. Salah satu jalan bersyukur adalah mentraktir org yg kelaparan.

    • Lihat 1 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Nasi goyenganya masih menggoda. belum basi ya udah beberapa hari yang lau. pulang pesen nasi goyeng ah

    • Lihat 2 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Selamat sarapan
    *edisi komen baik

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Itulah nikmat tuhan yang seharusnya selalu disyukuri..
    Bahkan oksigen yang masih nyampe ke paru-paru kita pun kadang-kadang hanya kita anggap wajar dan lupa untuk kita syukuri..

    • Lihat 7 Respon