Memberi Tanpa Dikenal

Anis
Karya Anis  Kategori Project
dipublikasikan 11 Agustus 2016
Catatan Pejalan

Catatan Pejalan


...

Kategori Acak

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Memberi Tanpa Dikenal

 

Kali ini aku sedang menunggu di tempat fotokopian. Ada materi presentasi yang harus kuperbanyak untuk beberapa kelompok. Sambil duduk, kulihat jalanan yang tidak begitu ramai. Maklum, masih siang. Berbeda dengan pagi atau sore menjelang malam saat para pekerja berangkat dan pulang.

Pandanganku terarah pada seorang pemuda yang hilir mudik mengitari jalan di seberang. Sepeda motor terparkir tak jauh darinya. Terlihat wajah kebingungan, meski aku tidak melihatnya secara jelas. Dugaanku, ia sedang mencari barang yang terjatuh di sekitar situ.

Dari arah berlawanan, seorang wanita berjalan ke arahnya. Tentu bukan untuk menyapa si pemuda tadi. Aku tahu banyak anak kuliah yang lewat jalan itu.

Si pemuda menghentikan langkah kaki si wanita. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Selang kemudian, wanita itu dibonceng pemuda tadi. Entah kemana, aku juga tidak tahu.

 

Tidak sampai lima menit, mereka kembali melintasi jalan itu. Wanita turun di situ. Mereka berpapasan setelah sebelumnya si pemuda hendak memberikan sesuatu pada si wanita, namun si wanita menolaknya.

Pemuda itu pergi dengan sepeda motornya. Si wanita menyebrang jalan, menuju tempat fotokopian yang sama denganku.

Karena penasaran, aku terdorong untuk segera bertanya.

“Mbak, yang sama mbak tadi siapa, sih? Tadi saya lihat dia bingung nyari sesuatu di sana, trus nganter mbak, trus kok balik lagi ke sini.” Tanyaku sambil menunjuk seberang jalan tadi.

“Saya juga gak kenal kok Mbak, hehe.”

“Loh, kok gak kenal?” selidikku makin penasaran.

“Iya, tadi dia cerita katanya kehilangan dompet. Mau pulang kampung, gak ada uang sama sekali. Butuh uang dua puluh ribu buat beli bensin. Lalu saya bantu…”

“Dan Mbak yakin gitu aja sama dia?”

“Saya lihat dari raut wajahnya, sepertinya serius,” dia menjeda kalimatnya, “semoga firasat saya benar. Tadi dia juga mau memberikan hape-nya sebagai jaminan, tapi saya tolak.”

“Kenapa ditolak, Mbak?” tanyaku lagi.

“Takutnya nanti malah ribet. Dia udah kehilangan barang, trus setelah balik ke sini harus ngurus barang yang dijaminkan ke saya. Apalagi hape, pasti dia membutuhkannya setiap waktu.”

“Jadi Mbak gak kenal dia, dan dia juga gak kenal Mbak?” tanyaku terakhir kalinya.

“Iya. Saya lupa nanya namanya. Hehe.”

 

Siang itu, aku belajar tentang makna memberi. Kita tidak harus dikenal untuk mau membantu orang lain. Orang lain tidak harus tahu tentang identitas kita. Meski orang yang kita tolong tidak mengenal kita, pastikan bantuan yang kita berikan padanya bermanfaat. Mungkin ini juga alasan beberapa orang menyumbang tanpa nama: NN.

Begitu juga sebaliknya, kadang kita tidak harus mengenal orang atau kelompok orang yang akan kita tolong. Jika hendak menyumbang ke lembaga tertentu --yang sudah terpercaya tentunya, maka kita tidak perlu menyelidiki ulang tentang latar belakang penerima bantuan kita.

 

Allaahu a’lam. Tuhan lebih tahu isi hati manusia. Semoga para pemberi sedekah itu mendapat balasan yang barokah. Begitu juga dengan penerimanya, semoga benar-benar digunakan untuk kemanfaatan.

 


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    mmm... "Aku" nya kepo sekali.
    Hihi...
    *pesannya dapet.

  • Choke J.S
    Choke J.S
    1 tahun yang lalu.
    suka - suka

    • Lihat 3 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    mana kok dilepas lagi label projectnya?

    • Lihat 8 Respon