Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 9 Agustus 2016   15:31 WIB
Cermin Kematian

 

 

Dia masih tergeletak di ranjang. Darah segara masih mengalir dari dadanya. Tidak ada lagi rintihan yang kudengar. Aku pikir dia sudah mati. Ya, pasti dia sudah mati. Balasan terbaik bagi seorang yang merendahkan wanita adalah diakhiri hidupnya. Tak pantas ia hidup jika hanya untuk merendahkan wanita. Aku sangsi jika ia tidak merendahkan ibunya. Betapa durhaka anak laki-laki seperti ini.

Pisau masih kupegang. Tanganku sudah tak lagi gemetar. Tidak, ini bukan suatu dosa. Aku tidak perlu menyesal telah mengantarkannya pada kematian. Lelaki ini telah membawa dirinya menuju kematiannya sendiri. Jika saja ia bisa menjaga lidahnya, tidak mungkin pisau itu kupaksa keluar dari tasku. Tidak mungkin tanganku memaksa untuk menusukkan barang tajam ini ke dadanya.

 

“Kau itu hanya wanita jalang. Tidak berharga jika tidak ada lelaki yang tidur bersamamu,” kata lelaki berkumis tipis itu. Ia lalu mematikan rokoknya. Asapnya cukup membuat pernapasanku terganggu. Aku sudah benci pelanggan ini sejak pertama kali tatap muka tadi.

Ia mulai melepas bajunya. Aku mulai tidak betah di kamar ini. Ingin segera pergi.

“Sudah berapa lama kau menjadi budak pria nakal?” tanyanya.

Apa? Apa kau bilang? Budak? Nuraniku merasa tidak terima dengan kata-katanya.

Aku hanya ‘menjual’ apa yang aku miliki. Aku bukan perempuan murahan, karena kau sendiri pun tahu berapa tarifku. Aku termasuk dalam golongan tarif mahal di sini. Tidakkah kau menyadarinya? Jika kau menyebutku budak, itu artinya kau tidak perlu membayar satu rupiah pun atas pelampiasan nafsumu padaku malam ini.

Sayang, kalimat di atas hanya tertahan di tenggorokanku. Mulutku tidak berani terbuka. Aku hanya memandanginya dengan senyum. Senyuman termanis, namun begitu pahit di belakangnya. Seperti yang kau mau, seolah aku bersiap untuk menjadi budak nafsumu.

 

“Baru kali ini aku menemui perempuan pendiam sepertimu. Kemarilah, Sayang, malam ini kau harus menjadi budakku.” Nada kalimatnya mulai merendah. Tangannya mulai menarik tanganku untuk mendekat.

“Aaaaarghhh.”

Dengan cepat pisau itu menembus dadanya. Aku tidak perlu bingung untuk mendekatinya. Ia sendiri yang memintaku untuk datang ke pelukannya. Dan pisau itu… pisau itu mewakili kata-kata yang hendak kuucapkan sedari tadi.

 

Badan lelaki itu masih tergeletak. Masih bertelanjang dada. Aku enggan untuk menyelimutinya.

Tanganku masih memegang pisau itu. Memang tidak lagi gemetar, tapi helaan napasku masih tak menentu. Mungkin ini reaksi kemarahanku.

Tuhan, apakah aku telah berdosa? Apakah aku berdosa karena membuat istri lelaki ini kehilangan suaminya? Apakah aku berdosa karena membuat anak-anak lelaki ini kehilangan ayahnya?

Ah, sejak kapan aku mengadu pada Tuhan atas apa yang telah kulakukan?

 

“Aaaaaarghh…” aku berteriak hingga pisau itu lepas dari genggaman tangan kananku.

Di depanku ada cermin berukuran besar. Kutatap sosok dalam cermin itu. Wanita cantik dengan pengalaman hidup yang getir. Wanita yang melupakan Tuhannya,  menghamba pada kenikmatan duniawi. Aku kini benci dengan sosok yang ada dalam cermin ini.

Kedua tanganku kini mengepal. Ya, aku semakin muak dengan sosok dalam cermin ini. Dia memang wanita jalang. Dia hanya sampah masyarakat. Dia memang tidak berguna.

Tanpa berpikir panjang, kuangkat cermin besar itu. Kuhantamkan wajahku padanya. Seketika cermin itu pecah. Wajah di hadapannya penuh darah. Cermin terlepas. Tubuhku roboh. Tanganku mencari-cari pisau yang masih berlumur darah. Kutancapkan ia tepat di dadaku, sama seperti bagian dada lelaki tadi.

“Aaaaaarghhh...”

Hening.


 

Karya : Anis