Kereta dan Rel Kehidupan

Anis
Karya Anis  Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Agustus 2016
Catatan Pejalan

Catatan Pejalan


...

Kategori Acak

2.1 K Hak Cipta Terlindungi
Kereta dan Rel Kehidupan

 

Aku suka duduk di tepi jalan sambil memandangi lalu lalang orang berjalan. Kaki-kaki yang melangkah menuju tujuan masing-masing. Kaki-kaki yang beradu dengan ketepatan waktu. Kaki-kaki yang menandakan bahwa rutinitas hidup masih berjalan.

Di stasiun ini, kesibukan tidak pernah terhenti. Setiap hari gerbong selalu penuh dengan penumpang yang berganti-ganti. Setiap hari kaki-kaki itu memenuhi tempat duduk tunggu dan peron stasiun. Pemandangan yang tidak pernah sepi.

Setiap penumpang memiliki tujuan yang berbeda. Berangkat dari mana, hendak kemana, dan jam berapa. Semua sudah direncanakan.

Apa jadinya jika penumpang kereta api tidak memiliki tujuan? Bagaimana ia akan membeli tiket? Tentu petugas yang melayani pembelian tiket akan bingung.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jam keberangkatan. Salah melihat waktu, yang ada adalah tertinggal kereta. Konsekuensinya harus menunggu jadwal keberangkatan selanjutnya, atau beralih ke moda transportasi lainnya.

 

Barangkali seperti itulah hidup. Kita harus tahu posisi saat ini dan tujuan yang ingin dicapai. Untuk apa kita di sini? Akan kemana kita nanti? Atau sekarang kita masih seperti calon penumpang kereta api yang tidak tahu posisinya?

Jika sudah tahu dari mana mau berangkat dan kemana tujuannya, jangan lupakan tentang waktu. Waktu yang berlalu memang tidak akan bisa terulang, kan? Salah menentukan strategi untuk mencapai tujuan bisa-bisa menjadikan waktu terbuang sia-sia. Kecuali kita sedang bereksprerimen. Melakukan percobaan yang membutuhkan waktu berulang.

 

Hidup kadang dibatasi waktu yang tidak bisa kita nego. Penyesalan selalu hadir saat kita melalaikan prosedur. Kereta api punya aturan tentang jadwal keberangkatan. Jika satu kereta memaksa berangkat pada waktu yang bukan jadwalnya –sementara jadwal kereta lainnya tetap, dan ada rel yang digunakan bersamaan – apa yang akan terjadi? Kekacauan, bukan? Semua memiliki waktu berjalan pada rel masing-masing.

Pun kehidupan manusia, memiliki aturan-aturan. Aturan itu yang membuat hidup terlihat ‘rapi’ dan membentuk harmoni.

 

Bukankah kerusakan yang terjadi di bumi (kebanyakan) karena ulah manusia itu sendiri? Siapa yang menebang hutan dan membakar lahan? Siapa yang menciptakan kendaraan yang menimbulkan polusi? Siapa yang membiarkan sampah menggunung? Lalu sebagian manusia harus menanggung adanya kabut asap, udara tak sehat, banjir, tanah longsor, apa lagi?

Saat satu kereta tidak berjalan pada relnya, maka kacaulah semua perjalanan kereta lainnya. Saat satu atau sekelompok manusia bertindak di luar aturan, (si)apa saja yang akan mengalami kekacauan itu?


 

thumbnail
Surabaya, 5 Agustus 2016.

 


  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    7 bulan yang lalu.
    Sebaikny ini project jadi judul S dan I

    • Lihat 1 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Baru baca.

    Saya suka.

    • Lihat 1 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Dari tadi..kesana..ntar..
    *belum baca..mau ngerossi dulu..saya nulis kapan?

    • Lihat 5 Respon