Nan yang Jauh

Anis
Karya Anis  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Juli 2016
Jeda

Jeda


*belajar nulis :(

Kategori Cerita Pendek

4.9 K Hak Cipta Terlindungi
Nan yang Jauh

 

Nan, aku ingat, tepat setahun lalu adalah hari pertemuan terakhir kita. Aku tidak bisa menahanmu pergi. Sakit memang, tapi aku berusaha untuk melepas kepergianmu dengan hati lapang. Ada satu hal yang lebih indah dibanding mencintai dan memiliki orang yang kita cintai, yaitu berani melepaskan.

 

“Ris, menurutmu hal apa yang menyakitkan saat kita mencintai seseorang?” tanyamu kala itu.

“Menyakitkan? Yang bikin sakit hati maksudmu?” tanyaku meminta penjabaran. Kamu hanya tersenyum.

“Hal yang menyakitkan adalah…, “aku menahan kalimatku sambil berpikir. “Saat pasangan kita tidak jujur. Saat cinta bertepuk sebelah tangan juga bisa. Atau saat kita tidak segera mengungkapkan perasaan pada dia, dan begitu kita siap menyampaikan rasa itu, dia sudah memiliki kekasih.”

“Kalau hal yang paling membahagiakan?” tanyamu lagi.

“Yang yang membahagiakan saat mencintai seseorang adalah saat dia memiliki rasa yang sama, dan bisa mewujudkan mimpi-mimpi bersama hingga akhir hayat.”

 

Beberapa janji yang pernah kita buat sirna sudah. Mustahil menjadi nyata. Harus kuakui bahwa terkadang aku sulit move on dari keadaan ini. Membayangkan dirimu yang telah pergi, menghancurkan beberapa impianku di masa depan. Kau tahu? Aku harus membangun mimpi baru, menatanya, dan memulai tanpamu.

Aku tidak ingin marah tentang alasan kepergianmu. Mengutuki kepergianmu adalah hal yang tidak ingin kulakukan, meski pada saat kepergiaanmu hari itu aku tidak bisa menahan tangis. Tangisan pertama yang kulakukan karenamu. Sepanjang mengenalmu, hari-hari selalu terasa indah hingga aku lupa cara bersedih. Ya, setidaknya hingga kamu pergi.

 

Angin sore ini berembus lembut. Rerumputan bergoyang-goyang dan bunga-bunga kecil itu seperti menari. Dan senja… Ah, senja selalu indah, katamu. Sayang aku tidak bisa menikmatinya bersamamu lagi. Tapi kamu juga melihat senja saat ini, kan?

 

Nan, sore ini aku datang ke pusaramu. Kutaburkan bunga-bungan nan wangi di atasnya. Semoga kamu bisa tersenyum sebagaimana senyumku saat ini. Kamu lihat kan, aku tidak menangis.

Sebesar apapun cintaku padamu, betapa pun kuatnya rasa ingin memilikimu, ada yang lebih berhak daripada aku atas dirimu. Sang Maha Cinta yang memilikimu. Aku percaya Dia adalah sebaik-baik pengatur.

 

Nan, setahun berlalu dari kepergianmu belum bisa membuatku berpaling. Mungkin Tuhan masih belum mempertemukanku dengan seseorang sebagai penggantimu.

Nanda...
aku mencintaimu, saat kamu masih di sini ataupun sudah jauh di sana.