Pembaca yang Baik(?)

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Juli 2016
Pembaca yang Baik(?)

 

Motivasi Membaca

 

Saya bukanlah orang yang gila membaca. Mungkin juga tidak hobi membaca. Membaca barangkali adalah suatu kegiatan di balik istilah ‘daripada nggak ngapa-ngapain’.

Motivasi membaca bagi setiap orang tentunya berbeda. Entah karena membaca membuatnya makin pintar, makin banyak tahu, ataupun makin cerdas secara emosi maupun sosial. Sementara bagi saya, alasan-alasan semacam ini hanya akan saya respon dengan anggukan kepala saja.

Soal membaca karya sastra, saya juga bukan orang yang rajin. Apalagi gila bacaan sastra. Saya belum pengen jadi orang gila, dan semoga gak akan gila.

 

 

Awal Mula Kebiasaan Membaca

 

Barangkali salah satu orang yang berjasa membuat saya mau membaca karya sastra adalah guru Bahasa Indonesia di MA. Beliau menyarankan untuk membaca karya-karya sastra lama, terlebih karena koleksi perpustakaan yang mendukung. Karya-karya para penulis jaman dulu akan terus abadi. Judul novel seperti Siti Nurbaya - Marah Rusli, Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari, Burung-Burung Manyar – YB Mangunwijaya, Robohnya Surau Kami – Hamka, Canting – Arswendo Atmowiloto, ada di sana.

Saat masa MA ini pula saya sudah meng-khatam-­kan Edensor, Maryamah Karpov, Dwilogi Padang Bulan -  Cinta dalam Gelas, AAC, KCB, juga Bumi Cinta. Karena jumlah yang terbatas, maka tidak jarang kami harus mengantre dalam meminjam. Satu teman meminjam, maka beberapa teman lain mendaftarkan diri untuk antre kepada peminjam tadi. Bahkan, saking lamanya antrean, hingga lulus sekolah saya belum membaca novel Perahu Kertas karya Dee!

Sebenarnya ini bukanlah sebuah prestasi, apalagi untuk layak dibanggakan. Tapi, sepertinya dari sinilah kebiasaan membaca bermula.

Saya lebih sering mengunjungi perpus dibanding kantin. Entah karena saya lebih menyukai kesendirian atau enggan berinteraksi dengan banyak kawan, perpus menjadi tempat yang tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Alasan ini tidak pernah ada hubungannya dengan uang saku. Karena kalau ke perpus gak perlu jajan, kan.

Lalu, kenapa saya sering ke perpus? Karena saya bisa numpang tidur. Eh, bukan. Selama dua tahun terakhir di MA, lokasi perpus tepat berada di depan kelas saya, jadi tidak ada kata males jalan untuk ke sana.

Meskipun sebenarnya, saya juga sudah memulai kebiasaan ini (mengunjungi perpus) sejak sekolah menengah pertama.

 

 

Grup Kepenulisan di Facebook

 

Akhir tahun 2011, saya mengenal sebuah grup di facebook tentang kepenulisan, namanya Komunitas Rumah Sungai (KMRS) Lombok Timur. Saat itu ada event lomba menulis puisi. Gratis. Di saat yang bersamaan, atau entah jeda berapa hari, saya kembali menemukan grup yang sama: Lingkar Puisi dan Prosa – Lembaga Bhinneka.

Dari dua grup ini, kemudian saya masuk ke beberapa grup lainnya. Dulu, saya lumayan aktif di beberapa grup ini. Berhaha-hihi dengan sesama anggota maupun para admin. Di sana banyak para penulis yang menurut saya keren –meskipun belum sekeren nama-nama penulis besar. Yang pasti, virus menulis sastra begitu terasa, terutama tentang puisi dan cerpen.

Namun beberapa bulan kemudian, saya mengurangi interaksi, hingga akhirnya menon-aktifkan notifikasi untuk hampir seluruh grup. Saya lupa karena apa, mungkin karena sibuk di dunia nyata atau males melihat notif penuh. Terkadang saya masih menyempatkan diri menjadi silent reader. Kini, intensitas untuk menengok grup-grup itu sudah menurun drastis dibandingkan masa-masa awal.

Jika dibandingkan mereka ini, bacaan saya sama sekali belum ada apa-apanya. Sastra masih menjadi sesuatu yang asing bagi saya. Apalagi saya bukan jurusan sastra. Sama sekali gak tahu seluk-beluknya.

 

 

Pelampiasan dan Khilaf

 

Awal masa kuliah, saat saya merasa bosan melihat buku dari Mankiw, Nicholson, atau Samuelson, saya merasa butuh pelampiasan kepada buku bacaan yang ringan. Saya tidak mengatakan bahwa sastra adalah bacaan yang ‘ringan’. Namun setidaknya, karya sastra bisa menghibur. Maka jika disuruh membaca Gujarati atau Wooldridge, saya akan lebih memilih Negeri van Oranje karya Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, dan Rizki Pandu Permana.

Terkadang saya menyebut kebiasaan membaca ini sebagai pelampiasaan. Kalau saya membeli buku, saya menyebutnya ‘khilaf’. Salah satu bentuk kekhilafan yang saya lakukan adalah membeli buku-buku karya Ippho Santosa. Ada beberapa seri buku dari beliau yang sudah saya miliki.

Moslem Millionaire, Percepatan Rezeki, 13 Wasiat Terlarang, Menjemput Rezeki, bisa dibilang saya beli karena khilaf. Ada juga yang berjudul Marketing is Bullshit, 10 Jurus Terlarang, serta 7 Keajaiban Rezeki.

Saya bukanlah fans  Ippho Santosa, tapi entah kenapa saya bisa khilaf memiliki beberapa judul bukunya. Bahkan saya juga terbius untuk membeli novel Keajaiban Rezeki karya Tasaro GK. Kekhilafan ini berhenti saat judul buku Magnet Rezeki, yang saya tidak mupeng ingin memilikinya. Apa sebabnya? Mungkin karena saya merasa dari buku-buku sebelumnya, banyaaak yang belum saya terapkan.

Gara-gara pengaruh seorang teman juga, saya khilaf membeli buku Rich Dad Poor Dad. Buku karangan Kiyosaki ini sebenarnya ada di perpus kampus, malah tersedia beberapa seri!

Apakah saya menyesal membeli buku-buku itu? Tidak.

 

 

Bacaan Motivasi-Pengembangan Diri

 

Akhir tahun 2011, seorang teman memberikan buku motivasi karangan David J Schwartz dengan judul The Magic of Thinking Big. Sebuah buku yang bagus, banyak poin-poin yang bisa membuat ‘sadar’. Kini setelah empat tahun berlalu, saat saya melihat buku itu kembali, saya kembali termenung. Apa yang sudah saya terapkan dari isi buku ini?

Kebiasaan menonton acara Mario Teguh Golden Ways juga menjadi penyebab saya membaca buku-buku serupa. Saya kemudian mengenal nama Anthony Robbins, Nick Vujicic, James Gwee, Andrie Wongso, Norman Vincent Peale, Stephen R. Covey, Sean Covey, hingga Ronda Byrne. Bahkan hingga Sigmund Freud, yang ternyata adalah tokoh utama dari jurusan sebelah: Psikologi.

Jangan tanya apakah saya sudah membaca karya mereka. Paling banter, saya hanya ingat pernah membaca Life Without Limits, setengah dari Seven Habits of Highly Effective People, dan beberapa potong dari Awaken the Giant Within. Tidak lupa juga dengan Laa Tahzan karangan Aidh Al-Qarni yang hanya saya baca beberapa halaman.

 

 

Bukan Pembaca yang Baik

 

Saya memang bukan pembaca yang baik. Saya hanya seorang pembaca yang menikmati keindahan kata-kata, yang kemudian lupa apa yang harus saya putuskan dari hasil membaca itu. Sejenak sadar, lalu esoknya tidak ingat lagi.

Seperti halnya ketika saya membaca buku motivasi. Saat sedang membacanya, seolah ingin bergumam “Oh iya ya, bener juga” untuk membenarkan apa yang dituliskan oleh sang motivator. Tapi, begitu sampai halaman terakhir, bisa tahan berapa lama motivasi itu pada diri saya? Lagi-lagi, menjalani sebuah konsistensi itu memang tidak mudah.

Pada akhirnya, ada suatu titik dimana saya merasa bosan alias ‘muak’ dengan segala jenis motivasi.

 

 

Epilog

 

Sekali lagi, saya bukan pembaca yang baik. Jika ditanya tentang buku favorit, saya masih bingung untuk menjawabnya. Apalagi jika ditanya penulis idola. Saya masih miskin bacaan. Saya belum ‘mengenal’ tentang siapa Paulo Coelho, Pablo Neruda, Agatha Christie, Dan Brown, bahkan JK Rowling. Meskipun di perpus tersedia beberapa buku dari karangan mereka, saya masih enggan untuk meminjam dan membacanya.

Jika buku motivasi bisa menularkan semangat positif, maka buku karya sastra membuat saya bisa berimajinasi. Saya bisa berimajinasi tentang karakter para tokoh, gambaran fisik tokoh, suasana, juga setting tepat atau waktu.

Akhir tahun kemarin, saya membaca novel Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea. Imajinasi saya sedikit terganggu karena sudah ada bocoran bahwa pemeran utamanya adalah Bunga Citra Lestari, Morgan, dan Giring. Terlepas dari semua itu, saya masih bisa menikmati bab demi bab, karena isinya memang bagus.

 

Sebenarnya, apa definisi pembaca yang baik? Saya masih mengira-ngira sampai saat ini, dan belum menemukan definisi yang tepat.

 

Satu yang pasti, setiap pembaca boleh saja tidak menulis, tapi… setiap penulis pasti dan harus rajin membaca.

 

Link terkait: Bagaimana Cara Menulis Tanpa Tekanan?

 

Kediri, 12 Juli 2016 18.43


  • Fahd Pahdepie
    Fahd Pahdepie
    1 tahun yang lalu.
    Jika ingin tulisan kita dibaca secara sungguh-sungguh oleh orang lain, berlatihlah dengan membaca tulisan orang lain secara sungguh-sungguh.

  • Muis Sunarya
    Muis Sunarya
    1 tahun yang lalu.
    Saya udah membaca tulisan ini (laporan.com) selesai...

    • Lihat 5 Respon

  • Virus Membaca
    Virus Membaca
    1 tahun yang lalu.
    Saya pembaca yang baik......
    .
    .
    *tapi hanya membaca buku-buku yang saya suka saja......hehehee :-)

  • Virus  Menulis
    Virus  Menulis
    1 tahun yang lalu.
    Penulis yang baik adalah pembaca yang baik juga.....

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    sayaa...saya mo komen apa yah ya...udah gitu aja

    • Lihat 11 Respon