Hadiah 'Baru' untuk Lebaran

Anis
Karya Anis  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Juni 2016
Jeda

Jeda


*belajar nulis :(

Kategori Cerita Pendek

4.8 K Hak Cipta Terlindungi
Hadiah 'Baru' untuk Lebaran

Hati gadis cilik itu hancur. Kelopak matanya masih mengeluarkan butiran air. Dadanya sesak, membuatnya tidak bisa berkata-kata. Biasanya sambil menangis, ia merapal beberapa doa untuk menenangkan hatinya. Namun tidak kali ini. Sakit hatinya kali ini adalah pengulangan dari rasa sakit yang pernah dirasakan sebelumnya.

Ramadan sudah memasuki minggu ketiga. Hitungan jari akan segera menuju pada hari raya. Setiap muslim pasti menunggu hari bahagia itu. Namun tidak dengan Bita. Gadis itu masih ingin Ramadan menetap lebih lama. Lama, entah untuk perpanjangan berapa hari. Mungkin hingga ia merasa ingin berjumpa dengan Idul Fitri. Atau, hingga bekas luka di hatinya hilang.

Di ruangan yang pintunya sudah terkunci dari dalam, Bita masih enggan mengizinkan wanita di luar kamar untuk menemuinya. Telinganya seperti sengaja ia tulikan. Mulutnya membisu, tidak ingin berucap apapun. Dan matanya… Matanya menerawang jauh, entah melihat apa.

“Mau sampai kapan kamu mengururung diri, Ta?” tanya ibunya dengan nada keras.

Bita tak menjawab. Matanya kini melepaskan satu tetes butiran air. Turun ke pipi lalu menuju bibir bagian atas, yang akhirnya ia seka dengan punggung tangannya. Embusan napas gadis itu masih belum teratur menahan rasa pedih.

 

Ia mulai membuka laci di meja belajarnya. Ada kotak kecil berwarna putih. Saat tutup kotak itu dibuka, nampaklah beberapa lembar uang. Sepuluh bulan lebih dia menabungkan uangnya di situ. Sejak Lebaran tahun lalu. Uang Lebaran dari para kerabat dan saudara kemarin sudah ia gunakan untuk membeli tas dan sepatu. Tidak bersisa.

Hasil tabungan yang sekarang ternyata tidak cukup untuk membeli barang yang telah lama diinginkannya. Ia perlu bantuan ibunya untuk menggenapi. Beberapa hari ia menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini, namun ketika kesempatan itu tiba, sakit hati yang ia dapatkan.

Tangan Bita masih memegang kotak itu. Matanya masih berkaca-kaca. Dadanya pun masih naik turun, pertanda belum bisa bernapas lega.

Lebaran tahun lalu ia tidak membeli baju baru. Haruskah tahun ini tanpa baju baru lagi?

Ia bisa melupakan rasa malu saat berkunjung ke rumah saudara ayah atau ibunya, ataupun ke tetangga sekitar rumah. Tapi kepada teman-temannya? Rasanya ia akan malu dengan penampilannya. Bajunya tahun lalu itu sudah terlihat kudet dibanding teman-temannya.

Rasa sebalnya muncul saat ibunya tidak menepati janji. Katanya tahun ini akan ada baju baru. Katanya ibu yang membelikan. Janji tahun lalu. Janji yang dari waktu ke waktu berubah dan terus ditawar. Mulanya akan dibelikan baju dan sepatu. Bulan berikutnya menjadi baju saja. Bulan selanjutnya menjadi baju dengan uang patungan. Bulan kemarin katanya mau beli kain buat dijahitkan. Dan barusan? Tidak akan ada baju baru lagi untuk Lebaran tahun ini!

 

“Kamu masih marah sama ibu, Ta?” Sang ibu memulai percakapan di meja makan saat azan Maghrib menggema di kampung itu.

Bita tidak menjawab. Tangannya kemudian mengambil gelas di depannya. Satu teguk, dua teguk, lalu ia berdiri dan meninggalkan ibunya.

“Hei, ditanya kok malah kabur,” ujar ibunya kesal.

“Mau Maghrib dulu,” jawabnya pelan, sambil terus berjalan. Entah sampai pada pendengaran ibunya atau tidak.

Hanya ada satu orang yang tersisa di meja makan itu. Ayah Bita sudah tiada lima tahun lalu. Ia anak tunggal. Hidup dengan ibunya yang memiliki sifat keras, membuat Bita harus kuat dan tegar. Ia tidak akan mempermasalahkan jika tidak ada sapaan lembut atau wujud kasih sayang ibu yang begitu didamba layaknya dalam cerita-cerita.

 

~~~

 

“Bu, hari ini Bita ikut ke pasar, ya. Udah lama gak nemenin Ibu jualan,” ujar gadis itu penuh semangat. Keceriaan sudah terhias di wajahnya.

“Tumben. Gak sibuk nugas lagi kamu?” tanya ibunya heran.

“Semalem udah selesai. Hari ini pengen keluar rumah pokoknya.”

Pasar selalu ramai di bulan Ramadan ini. Pagi hingga siang, orang-orang selalu berkerumun di lapak penjual sembako, pakaian, kurma dan buah-buahan lainnya, hingga penjual perhiasan imitasi. Ibu Bita berjualan sayur di pasar itu. Pukul tujuh, para pedagang sudah rapi menata barang dagangannya. Tawar-menawar dan gosip para ibu yang sedang berbelanja menjadi pertanda kalau pasar tradisional itu masih hidup.

“Bu…,” Bita menggantung kalimatnya. “Alhamdulillah hasil hari ini lumayan, ya.”

Ibunya yang sedang berberes ketika akan pulang itu hanya menatapnya sekilas, tanpa memberi respon.

Bita sebenarnya ingin menyampaikan hal lain. Entah kenapa kata yang berhasil diungkapkannya menjadi seperti tadi. Ia ingin meminta kembali pada ibunya, mungkin saja mood baik hari ini membuat ibunya mengubah keputusan tempo hari.

“Bu…” Belum selesai ia merangkai kata selanjutnya, ibunya memotong.

“Kamu itu disuruh bantuin malah ngomong aja. Waktu ibu kan bisa terbuang kalo harus dengerin kamu cerewet gitu,” jawabnya ketus.

Bita terdiam sejenak. Ia ingin mengurungkan saja niatnya, tapi keinginannya yang sudah tak tertahan lagi memunculkan keberaniannya.

“Ibu mau kan nambahin uang Bita buat beli baju baru?” tanya gadis itu, wajahnya menunduk tanpa berani mengintip ekspresi wajah sang ibu.

 

Hening. Tidak ada suara yang keluar dari kedua orang itu. Sang ibu ternyata memandangi anaknya selama sekian menit, menunggunya untuk menegakkan kepala.

“Lihat ibu, Ta!” Suara itu terdengar menghentak di telinga Bita. Ia masih saja menunduk. Kuku jari jempolnya diusap bergantian.

Perlahan dagunya terangkat, menatap tangan sang ibu yang masih memegang seikat sawi. Pandangannya merambat ke atas, ada keringat membasahi leher. Hingga tiba di mata ibunya, Bita melihat mata wanita itu melotot, seperti harimau hendak menerkam mangsa.

Badan gadis itu berdiri untuk kemudian berlari secepat mungkin. Ia meninggalkan ibunya tanpa pamit. Memandang satu menit saat ibunya akan marah,  artinya menunggu tingkat kemarahan yang lebih besar lagi.

Jarak pasar dan rumah tidak jauh. Bisa ditempuh 20 menit dengan berjalan kaki. Langkah kaki Bita makin lama makin cepat, efek pelampiasan dari rasa sakit hatinya.

Tubuh gadis kecil itu kini dalam posisi ruku’. Kedua tangannya memegangi lutut sambil menunduk. Ia lelah berlari. Kelopak matanya kembali berembun. Napasnya tidak teratur, sama seperti perasannya yang juga tidak keruan, tidak beraturan.

 

~~~

 

Malam satu Syawal. Gema takbir terdengar di mana-mana. Masjid dan mushola bersahutan mengagungkan asma Tuhan. Jiwa-jiwa saat itu merasa bahagia. Kenikmatan bagi orang-orang yang berpuasa selain waktu berbuka adalah bisa berjumpa dengan hari raya yang suci. Hari di mana semua jiwa memulai kembali kehidupannya, terlahir seperti bayi tanpa dosa.

“Besok kamu ikut masjid kan, Ta?” tanya wanita itu.

“Kayaknya engga, Bu. Jadwal tamu bulanan mau datang.” Bita beralasan.

“Perasaan awal Ramadan kemarin kamu masih sempet kebagian.”

“Iya, lebih cepet, Bu,” jelasnya pendek.

Bita berbohong. Sakit hatinya masih menyisakan luka hingga takbir malam ini. Ia malas untuk ke masjid karena akan bertemu dengan teman-temannya. Mereka pasti akan membahas soal baju baru, kerudung baru, juga sepatu baru. Juga membahas rencana untuk berkunjung ke guru-guru sekolah mereka. Bita malu dengan penampilannya tanpa baju baru. Ia tidak akan ikut rencana teman-temannya. Pun ia mengorbankan untuk tidak salat Id ke masjid.

Entahlah, sakit hatinya semakin menjadi-jadi. Luka kecil itu seperti sudah menganga. Atau mungkin menjadi bongkahan batu, jika sebelumnya hanya sebesar butiran pasir.

 

“Allah, kenapa aku harus menjalani hari raya esok tanpa baju baru?” Keluhan lirih itu terucap saat ia hendak menutup mata di malam itu.

Lampu kamar sudah mati. Seorang gadis di dalam kamar itu sedang berusaha berdamai lukanya. Kedamaian sudah tercipta sejak tadi jika ia mau menyadarinya. Mendengarkan lidah-lidah yang berucap takbir, bukankah suatu kenikmatan yang besar? Pengeras suara pun dipasang hingga takbir dari masjid mampu menembus dinding kamarnya.

Malam makin gelap. Mata gadis itu sudah terpejam. Suara takbir masih menggema, berusaha menenteramkan jiwa-jiwa yang lelah seperti Bita.

 

Tangan Bita meraba-raba letak sakelar untuk menghilangkan kegelapan di kamarnya. Suara azan berhasil membangunkannya sebelum teriakan sang ibu ia dengar. Ibunya tidak jarang marah-marah  saat ia terlambat bangun saat Subuh.

Samar-samar sambil mengumpulkan nyawa setelah bangun, ia melihat sebuah kotak di mejanya. Sehelai pita warna merah menghiasi kotak coklat itu. Tidak ada pesan tulisan di situ. Bita penasaran dan segera membukanya.

 

~~~

 

Malam ke-7 Ramadan.

“Tujuan berpuasa adalah untuk menjadikan kita taqwa. Surat Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan hal tersebut. La’allakum tattaquun.” Imam masjid membuka ceramah pada malam itu.

Bita dan ibunya salat tarawih di mushola terdekat. Bilangan rakaatnya hanya delapan, tambah tiga witir jadi sebelas. Sebenarnya bisa saja sang imam menggunakan bilangan 23 rakaat, hanya saja jumlah makmum akan menyusut dari hari ke hari. Belum lagi jika ada ceramah, lamanya waktu akan membuat beberapa orang banyak mengeluh. Maklum, keimanan para pemeluk Islam di kampung itu belum setinggi level ‘orang-orang besar’.

Taqwa terdiri dari empat huruf jika ditulis dalam bahasa Arab. Ta’, Qaf, Wau, dan Ya’.” Imam melanjutkan ceramahnya.

 “Ta’ adalah tawadhu. Tawadhu artinya sikap rendah hati, tunduk. Tawadhu pada manusia bisa berupa saling menghargai, sedang tawadhu kepada Allah adalah ketundukan dengan menjalankan perintah dan menghindari larangan-Nya. Lawan tawadhu adalah takabbur, alias sombong. Orang yang sombong akan menganggap dirinya selalu lebih dibanding orang lain. Bahkan, kesombongan pada Allah akan membuat seseorang bermaksiat.

Qaf adalah qana’ah. Qana’ah artinya cukup, yakni sikap menerima dan ikhlas terhadap pemberian Allah. Diberi segini, alhamdulillah. Diberi segitu, alhamdulillah. Kita kadang sering mengeluh dengan pemberian Allah. Lupa tidak bersyukur. Padahal jika mau bersyukur, pasti Allah akan menambah nikmat itu. Janjinya jelas pada surat Ibrahim ayat tujuh. Jika kamu bersyukur, maka akan ditambah nikmatmu. Jika kamu mengingkari, maka balasannya adalah azab yang pedih.

“Kita juga sering kali tidak sabaran menunggu nikmat Allah. Terkadang Allah memberikan suatu nikmat setelah menguji kita, setelah melihat seberapa pantas diri kita untuk menerimanya…”

Bita tidak menyimak ceramah itu lagi. Mulutnya mulai menguap. Mungkin karena ia kebanyakan makan saat berbuka tadi, atau karena penceramahnya seorang bapak tua yang terdengar membosankan.

 

~~~

 

“Ibuuu…”. Gadis itu segera menghambur ke pelukan sang ibu.

Dipeluknya sosok wanita terhebat itu hingga dadanya terguncang karena tangis. Kali ini bukan tangis sakit hati, tapi bahagia dan haru. Sang ibu juga memeluknya erat, membelai lembut rambut anaknya.

“Puasa itu bukan soal Lebaran pake baju baru apa atau gimana, Ta. Lebaran itu soal jiwa kamu yang baru,” nasihat ibunya. Wanita yang keras itu ternyata juga menyimpan sisi kelembutan.

Bita melepaskan tubuhnya. Dilihatnya mata yang penuh kasih sayang itu. Mata yang dulu pernah mendelik saat ia bertanya minta uang tambahan buat beli baju baru. Mata yang sebelumnya tak pernah seteduh pagi itu.

“Maafkan Bita, Bu. Mulai tahun ini, Bita akan belajar memaknai puasa dan Lebaran yang sesungguhnya. Bita gak akan merengek minta baju baru lagi, gak akan memaksa ibu buat nambahin lagi,” ujar gadis itu dengan mata masih berkaca-kaca.

“Jadi kamu gak mau baju baru dari Ibu, nih? Sini balikin,” goda sang ibu.

“Ah, Ibu. Bita suka bajunya. Pasti dipake buat salat Id nanti.” Gadis itu kembali memeluk sang ibu, syahdu.


 

thumbnail 

Surabaya, 16-17 Juni 2016


  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    Bita itu umurnya berapa tahun? Sudah dapat mens kan ya? Latar belakang keluarganya gimana?

    Kalau boleh saya tebak, Bita itu gadis yang sudah dapat menstruasi, artinya sudah remaja jika tidak bisa disebut dewasa. Latar belakang keluarganya baik. Memiliki dasar agama yang tidak sekedarnya.

    Jika tebakan saya benar, buat saya cerpen ini aneh.

    • Lihat 1 Respon

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Cerita yang menyentuh...

    Meski panjang tapi rasanya tak mau berhenti, hmm...
    Lagi lagi pengen minta ajarin bikin cerpen...

    • Lihat 1 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    apa tuh?? Nastar??

    • Lihat 5 Respon