Renungan Sepi

Renungan Sepi

Anis
Karya Anis  Kategori Renungan
dipublikasikan 11 Juni 2016
Renungan Sepi

 

Sepi selalu memberi ruang untuk mengurai kembali makna dari yang telah berlalu.
Sepi memberi keleluasaan bagi kita untuk fokus pada satu hal tanpa memedulikan keramaian di sekitarnya.
Bukankah seringkali kita hanya bisa fokus saat keadaan hening dan tanpa ada yang mengganggu?

Dalam hening aku bisa menceritakan banyak hal. Entah siapa yang mendengarku. Segala kata bisa keluar dari mulut yang tak selalu berucap pujian. Kata yang keluar dari hati yang tidak selalu suci. Pikiran yang tak selalu jernih. Jiwa yang tak selalu damai. Lalu tumbuh sebagai apakah segala titipan ini? Seberapa baik tanggung jawab yang sudah aku jalankan untuk menjaga titipan-Nya? Masih banyak ingkar. Kufur nikmat.

 

Apa gunanya mata jika bukan untuk melihat kuasa-Nya? Tapi masih saja melihat yang terlarang.
Apa gunanya telinga jika bukan untuk mendengar ayat-Nya? Tapi masih saja mendengar yang sia-sia.
Apa gunanya tangan dan kaki jika bukan untuk bekerja di jalan-Nya? Tapi masih saja  melakukan kemalasan, kemaksiatan,...
Apa gunanya pikiran dan hati? Tidakkah kamu berpikir? Sudah keraskah hatimu?
Apa gunanya ....
Banyak hal yang mungkin masih kita salahgunakan.

Dalam keadaan tertentu kita memang harus berada di titik terlemah.
Agar kita sadar bahwa kita butuh Yang Maha Menguatkan.
Berada pada titik terhina, dan kita butuh Yang Maha Memuliakan.
Berada pada kemiskinan, karena kita bergantung pada Yang Maha Kaya.
Menjadi orang terbodoh, agar kita sadar hanya Dia Yang Maha Mengetahui,
yang akan memberikan pemahaman tentang ilmunya yang begitu luas.

 

 

Sepi. Hanya aku dan Dia.

Sepi bisa membuka segala hal yang kita sembunyikan.
Menyesali dosa-dosa, merasa takut dan berharap, berpasrah dan merasa tak berdaya apapun.
Kepada siapa kita harus bergantung?
Kepada siapa kita serahkan semua pelampiasan rasa ini?
Dalam kesendirian pun kita tak bisa sendiri.

 

Masa kemarin memang tak bisa diapa-apakan lagi.
Apa yang bisa dilakukan dengan apa yang sudah terjadi?
Ini bukan seperti menulis di komputer yang kalau salah bisa dikembalikan seperti sebelumnya dengan tombol undo. Kita bisa belajar dari masa kemarin. Memastikan bahwa kesalahan itu tidak berulang lagi, tidak membuat menyesal lagi. Seberapa lama waktu yang akan kita ulur untuk sampai pada tujuan kita jika kita tetap pada kesalahan-kesalahan yang sama itu? Masih punya tujuan hidup, kan? Punya sesuatu yang ingin dicapai? Punya deadline? Yah, aku pun terkadang merasa belum jelas tentang hidup ini. Pencarian jati diri dan makna kehidupan sepertinya menjadi sesuatu yang akan terus berjalan.

 

Katanya, hitunglah amalmu sebelum kamu dihitung. Kebaikan apa yang sudah aku lakukan? Keburukan apa yang sudah kita kerjakan? Berapa orang yang sudah kita bahagiakan? Berapa yang tersakiti?

Kau tentu tahu bahwa sosok ibu selalu saja membuat kita merenung. Mengingati perjuangannya. Membayangkan betapa cintanya ia kepada kita. Tentu tidak membuatnya sedih karena kelakuan kita.

Berapa banyak orang yang sudah berperan dalam hidup kita hingga saat ini? Keluarga, sahabat, guru, tetangga? Sudahkah kita mengucapkan terima kasih pada mereka? Atau minimal kita minta maaf atas kesalahan tindakan kita? Dua hal itu mungkin menjadi yang terlemah saat kita belum bisa memberikan sesuatu yang terbaik untuk mereka. Yang terparah adalah jika kita menyakiti, mengecewakan mereka...

 

Sepi. Hening.
Dalam kesendirian pun kita disadarkan bahwa kita butuh Dia. Tempat bergantung dan berharap segala pinta. Pasti selalu ada cara untuk kita saat Dia ingin kita mendekat. Apakah kita sering merasa? Atau menganggapnya angin lalu saja?

Merenung memang menjadi hal terindah dalam sepi, dalam hening. Membodohkan diri sendiri, menasihati diri sendiri, menertawakan kesalahan, juga berharap dalam takut.

 

Surabaya, 21 September 2014
diposting pada malam ketujuh Ramadhan 1437 23.39


  • Nisrina S Nissinero
    Nisrina S Nissinero
    2 tahun yang lalu.
    dalam hening, sepi...kita semakin tahu siapa diri kita, termasuk semesta ^_^

    Salaam, Mbak Anis

    • Lihat 3 Respon