Saya Harus Bagaimana di 31 Mei Ini?

Anis
Karya Anis  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Mei 2016
Saya Harus Bagaimana di 31 Mei Ini?

 

Ibu  saya jualan rokok, saya harus bagaimana?

 

Membicarakan soal rokok, pastinya sebagian besar dari kita akan menolak. Rokok merusak kesehatan. Rokok bikin polusi. Rokok bikin kantong makin kering. Rokok mengurangi belanja dapur.

Saya tidak akan membahas dari sisi kesehatan, apalagi dari sudut agama.

Ibu saya seorang penjual rokok. Tidak banyak memang. Mungkin dalam sebulan hanya menghabiskan sekitar lima sampai tujuh press (1 press = 10 bungkus) rokok. Berapa keuntungan yang diambil? Dibandingkan barang lainnya, barangkali produk hasil olahan tembakau ini cukup menjanjikan. Setiap hari pasti ada saja yang membelinya.

Jika rata-rata per bungkus mengambil untung 500-700 rupiah, maka total dari lima press rokok maksimal adalah 35.000. Ini termasuk besar atau kecil? Pasti lebih besar dibanding keuntungan sabun mandi yang hanya bsia mengambil untung 200-300 rupiah!

Pembeli rokok adalah para tetangga. Dari yang tua hingga yang masih umur belasan tahun. Anak-anak lulusan SMP, atau bahkan yang drop out. Rokok seperti sudah menjadi kebutuhan komplementer dari makanan mereka.

 

 

Ayah saya masih menjadi seorang perokok, saya harus bagaimana?

 

Rokok sudah menjadi ‘sajian’ tetap dalam setiap perkumpulan. Dari acara hajatan nikah sampai obrolan di hari raya Lebaran. Tiap mau menawarkan sesuatu kepada kawan obrolan, pasti bilang “Ngerokok dulu, Mas. Monggo…” Sambil menyerahkan bungkusan kretek dan korek api ke arah lawan bicara.

Di rumah, tidak jarang saya juga melayani pembeli rokok ini. Dari bapak-bapak yang membeli untuk pekerjanya di sawah, hingga adik perempuan kecil yang disuruh ayahnya. Padahal gak boleh memberikan kepada pembeli anak yang berusia di bawah 18 tahun ya?

Kampanye rokok melalui pemasangan gambar-gambar ‘mengerikan’, sepertinya juga masih belum efektif. Sepertinya. Meskipun pernah seorang tetangga saya bilang, “Duh, ini gambarnya gak ada yang lain, ya? Ngeri saya kalo lihat yang ini,” katanya saat saya memberikan bungkus rokok yang bergambar kanker mulut atau tenggorokan itu.

 

Jika boleh jiwa kekanak-kanakan saya bertanya, maka saya ingin mengajukan pertanyaan demikian: Bu, udah tau kalo rokok bisa bikin penyakit kayak gitu, kenapa masih ada pabrik rokok, ya? kenapa pemerintah masih membolehkannya, ya?
Pertanyaan polos. Dan mungkin pertanyaan bodoh jika saya tanyakan saat ini.

Berapa pendapatan negara dari hasil cukai tembakau ini?
Saya tidak akan memaparkan hasil APBN di sini. Sekadar iseng, saya melihat di salah satu pita cukai rokok (lupa merk-nya), ada angka 375/btg. Apa makna nilai ini? Pajak 375 rupiah per batang rokok? 375 x 12 = 4500. Jika benar, maka yang mahal adalah cukainya. Ini masih yang 375/btg, belum lagi yang 400 ke atas.

Abaikan analisa asal-asalan di atas.

 

 

*banner ini 

Oh iya, kemarin saya iseng buka web ini. Benarkah cukai yang membunuh
Sempet juga buka ini. Benarkah ada persaingan usaha antara perusahaan rokok dengan perusahaan farmasi?

Skip. Bukan kapasitas saya membahas tema berat tersebut.

 

 

Tetangga saya karyawan pabrik rokok, saya harus bagaimana?

 

Beberapa tetangga, terutama kelompok ibu-ibu, masih menjadi karyawan di sebuah pabrik rokok di kota asal saya. Pabrik rokok terbesar. Umumnya mereka menjadi karyawan sejak masih single.

Saya berpikir, jika mereka tidak bekerja di sana, akan beralih profesi apa mereka?
Pastinya masih banyak ruang kerja yang bisa dimasuki. Atau kalau kata orang yang idealis, mungkin begini:  panggonan golek rejeki gak trima nang kono. Golek wae sing rada ‘nggenah’.

Kata ‘nggenah’ (jelas) mungkin bisa mewakili kekhawatiran akibat dampak buruk rokok, atau yang paling ekstrem, bagi mereka yang bilang itu masuk barang haram.

 

Omong-omong, bolehkah saya melemparkan pertanyaan aneh lagi?

  1. Apa sih pemanfaatan tembakau yang lebih ‘baik’ selain diolah menjadi rokok?
  2. Apa kabar nasib petani tembakau?
  3. Misalkan pertanian tembakau diubah ke komoditas tanaman lain, apa yang akan terjadi?

Maaf pertanyaan itu terlalu polos dan bodoh.

 

Hingga kini saya belum tahu harus bagaimana menghadapi perihal tembakau-kretek-sigaret-rokok. Saya bukan pendukung perokok, saya juga benci kalau ada yang ‘berbagi’ asap sembarangan di tempat umum -_-

 

Ini adalah perpanjangan dari postingan kemarin. Meskipun belum cukup terwakili, sih.

 

 

Surabaya, 30-31 Mei 2016


  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    @Anis Ekowati......
    .
    .
    Saya hanya bisa memberikan link ini saja => https://www.facebook.com/danikaizen.ardiyanto/videos/1636848006637960/

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Gue perokok dan gue paling benci penjual rokok yg jual rokok kepada anak di bawah umur..

    • Lihat 6 Respon

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    Q : Saya Harus Bagaimana di 31 Mei Ini?
    A : traktir nasi pecel makyem nang TMB Mulyosari, bukan traktir rokok.

    • Lihat 5 Respon

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    Kalo rokok dilarang, beralihlah ke vapor...! Eh!

    • Lihat 7 Respon

  • Anick Ht
    Anick Ht
    1 tahun yang lalu.
    Alhamdulillah, sampai hari ini saya tidak pernah merokok lebih dari satu batang....

    • Lihat 2 Respon