Berbuat Baik Itu Perlu Proses

Anis
Karya Anis  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 Mei 2016
Berbuat Baik Itu Perlu Proses

 

Seminggu yang lalu, ketika saya membereskan isi di loker perpustakaan, sebuah panggilan dari nomor tanpa nama menggetarkan ponsel saya. Ada salam dan sapaan dari suara seberang, yang kemudian bertanya.

“Dek, aku lagi di perjalanan. Kamu udah di mana?”
“Ini mau berangkat kok, Mbak. Kita ketemu langsung di sana aja, ya, “ jelasku.

Siang itu, saya hendak memenuhi janji dengan seseorang. Seorang kenalan dari dunia maya.

Pukul 14.20 saya sudah sampai di tempat tujuan. Kami merencanakan pertemuan di lantai lima sebuah mall. Dia sudah berada di sana, lengkap dengan tiket nonton film yang akan tayang pada pukul 14.30. Tidak sulit menemukan sosoknya, karena sebelumnya saya sudah dua kali bertemu (bertatap muka langsung). Hanya saja sedikit agak lupa, barangkali ada yang berubah karena penampilannya atau sebab lainnya.

Akhirnya ketemu. Salam. Sapa. Tanpa banyak obrolan, kami menuju ruang theater. Layar sudah menyala dan ruangan gelap. Terlihat hanya sedikit penonton di dalamnya. Mungkin karena saat itu akhir pekan masih siang setengah sore, atau karena ada saingan dari film sebelah.

Kami menempati kursi sesuai yang  tertera di tiket. Berbincang sejenak lagi, sambil menikmati iklan sebelum film dimulai. Dia kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan dari tas coklatnya. Bungkusan yang diselimuti amplop coklat pula. Berisi buku, sebuah hadiah yang sudah dijanjikannya.

Kami menikmati film sepanjang sekitar sembilan puluh menit tersebut. Tidak banyak berbincang lagi karena takut mengganggu kenyamanan penonton lainnya.

Film selesai. Kami keluar. Langsung bersiap menuju pulang.

 

 

Dalam perjalanan di taksi, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya kepada dia. Pertanyaan yang sangat ingin dan ingin sekali saya ketahui jawabannya.

“Mbak, apa sih yang membuat sampeyan begitu ‘rela melepaskan’ buku-buku sebanyak itu?”
Dia tersenyum. Masih sibuk dengan ponsel di tangannya.

“Semua itu ada proses panjangnya, Dek.” Jawabnya pendek. “Nanti kamu juga akan mengalami proses itu.”

“Jadi, gimana proses sampai Mbak ‘rela’ memberikan buku-buku sebanyak itu kepada orang lain?” tanyaku lagi, penasaran.

 

Tidak ada jawaban to the point. Dia kemudian bercerita tentang masa SMA-nya yang suka jahil dan ‘nakal’. Dia sudah suka buku sedari masa sekolah.

“Mulai kapan Mbak berbagi buku? Apakah yang sedekah buku tahun 2013 kemarin adalah yang pertama kalinya?” tanyaku lagi, semakin penasaran.

 

Sekitar tiga tahun lalu, saya pernah mendapat sepaket buku darinya. Bukan buku baru memang, karena itu adalah koleksi pribadinya. Kami juga bertemu langsung, kopdar dengan beberapa orang. Hanya saja, saat itu tidak ada kesempatan yang tepat untuk menanyakan hal ini.

“Gak, Dek. Sebelumnya aku kan udah sering jadi sponsor buat lomba nulis gitu. Hadiahnya buku,” jelasnya.

Oh iya, saya tahu bahwa Mbak ini memang bergiat di salah satu grup kepenulisan di Facebook.

“Eh, tadi nanya proses, ya?”

Saya mengangguk.

 

“Berbuat baik itu prosesnya panjang, Dek. Dulu aku sering berburu buku, ke pameran, ke diskonan buku, dan lain-lain. Pernah juga ada event ngeborong buku, yang kita bisa ngambil bertumpuk buku yang sanggup kita bawa, itu aku juga pernah ngalamin. Emang gitu kalo udah gila sama buku.”

Cerita bermula. Masih belum ke inti.

“Dulu aku juga susah kalo ada temen yang pinjam, takut gak bener dia minjamnya (red: mungkin takut lecek, sobek, dll). Tapi, seiring waktu, rasanya ada yang kurang ‘sempurna’. Apalagi kalo ngeliat temen-temen yang sulit nyari buku. Khususnya yang punya taman baca atau perpustakaan umum. Melihat mereka rasanya akan lebih tepat jika buku-buku itu bisa dibaca oleh mereka.”

 

Saya masih setia menunggu cerita selanjutnya.

“Ya, perlu proses panjang. Dan sedekah buku kemarin adalah puncaknya.”

FYI, #SedekahBuku pada bulan Ramadhan 1434 H diadakan dengan berbagi buku sekitar 170 judul. Saya ‘iseng’ mendaftar. Tinggal ingin buku yang mana dan menyebutkan alasannya, maka Mbak ini akan melakukan ‘seleksi’ calon penerima.  

Saya pun masih ingat, saat itu saya membaca sebuah twit dari Pak Ippho Santosa tentang #SedekahEkstrem. Kayaknya Mbak ini salah satunya terinspirasi dari sini :)

 

“Jadi, seberapa lama Mbak mengalami proses sampai akhirnya ‘rela melepaskan’ buku sebanyak itu?” tanyaku untuk kesekian kalinya.

“Nanti kamu akan mengalaminya sendiri, Dek. Agak susah kalo dijelasin. Intinya Mbak ngebayangin mereka yang kesulitan nyari buku gitu tadi, terus ada rasa bahagia saat mereka juga bahagia menerima buku itu.” Jawabnya dengan mengulas senyum.

“Aku selama ini paling masih bisa minjemin aja, Mbak. Kalo buat ngasih buku bagus gitu kayaknya belum rela, hehe.”

 

Laju taksi sebentar lagi sampai di tempat tujuan saya.

“Gitu masih ada yang merespon negatif  gak, Mbak?” kataku. Entah pertanyaan yang keberapa ini.

“Hmmm… Sekalipun kita berbuat baik, pasti akan selalu ada yang berkomentar negatif, Dek.”

“Iya sih, Mbak, tapi kalo aku ngeliatnya berusaha husnudhon aja. Semoga tujuan yang ngelakuin itu memang baik.”

“Gak sedikit yang berkomentar negatif. Gak cuma di dunia maya, di dunia nyata juga, “tambahnya.

 

Taksi sudah sampai di depan gang menuju kost saya. Percakapan itu berakhir dengan ucapan terima kasih dan ‘salam perpisahan’.
“Sampai ketemu lagi di dunia maya ya, Mbak.”

Kami tertawa sebelum berpisah.


*ditulis berdasarkan kisah nyata, dengan beberapa ingatan yang sedikit amnesia.

 

Surabaya, 280516

 


  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    Ibu @Anis Ekowati, kamu sukanya jenis buku apa?

    • Lihat 1 Respon

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    aku pernah seperti ini. membeli buku (rasanya senang ketika trilogi terlengkapi), meminjamkannya (rasanya was was khawatir tak kembali), memberikannya (rasanya senang dikali seribu kali). sekarang sudah kujual semua buku koleksiku. semuanya. aku tak lagi membaca buku. rasanya terbebas dari rasa senang dan was was.

    • Lihat 7 Respon

  • upri on
    upri on
    1 tahun yang lalu.
    Kapan mau pinjemkan buku kesaya lagi?

  • Aini Latifah
    Aini Latifah
    1 tahun yang lalu.
    sama mba saya juga hanya baru sebatas meminjamkan sering juga bukunya g balik hhe

    • Lihat 1 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    jUST