Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (Bukan Review)

Anis
Karya Anis  Kategori Lainnya
dipublikasikan 21 Mei 2016
Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (Bukan Review)

 

Toleransi dalam perbedaan agama barangkali sudah kita pelajari sejak di bangku sekolah. Namun, bagaimana penerapannya dalam kehidupan nyata? Tema inilah yang setidaknya diangkat dalam film yang tayang mulai kemarin lusa (19/5).

Film yang bercerita tentang perjuangan guru di daerah terpencil ini diperankan oleh Laudya C. Bella, sebagai Aisyah. Keinginan untuk berangkat mengajar ini semula ditentang oleh ibunya dengan alasan jarak yang jauh. Aisyah yang tinggal di Bandung harus pindah ke luar Jawa, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sang ibu menganggap Aisyah tidak dewasa karena keputusan tersebut diambil setelah Aisyah merasa kesal dengan Aa Jaya. Tokoh pemuda berkacamata yang disukai ibu guru muda ini diperankan oleh Ge Pamungkas. Sebelumnya, Aa Jaya mengatakan akan pindah ke Aceh dalam tugasnya. Baru sehari mereka bertemu, Aisyah merasa kesal karena Aa Jaya harus pergi jauh.

Ada percakapan saat mereka berboncengan dalam perjalanan.
“Kapan pacarnya dikenalin ke rumah?” tanya Aisyah.
“Kan udah putus. Gimana ngenalinnya. Masa ‘Bu, ini mantan pacar Aa. Sebentar lagi mau nikah sama orang lain’.”
*gak lucu ya? yaudah jangan ketawa :P

 

Dalam ‘perdebatan’ dengan ibunya tadi, ada satu pelajaran yang menurut saya bisa disimpulkan:


Saat kamu merasa sudah besar, sudah dewasa, jangan menganggap bahwa kamu tidak perlu nasihat orangtua lagi.

 

 

Turun dari bus yang ditumpanginya, Aisyah memandang jalanan yang sepi, penuh pepohonan di atas tanah gersang. Dia kemudian harus menunggu Pak Pedro –diperankan oleh Ari Kriting-- yang akan menyusulnya lebih dari satu jam kemudian.

Dusun Derok, Atambua, NTT, merupakan wilayah yang akan menjadi tempat Aisyah mengajar. Pemandangan desa yang gersang akibat kemarau panjang, sulit air, tidak ada listrik, dan berbagai fasilitas yang ada sangat jauh dari kata memadai. Untuk ngecharge baterai ponsel, harus nitip dulu ke tukang sayur. Untuk nyari sinyal? Harus ke hamparan padang ilalang luas!

Bahkan karena tidak ada televisi di sana (gak ada listrik, untuk apa punya tipi?), kepala dusun tidak bisa membedakan mana kerudung Bunda Maria dan kerudung muslimah. Hal ini terekam saat acara penyambutan guru baru itu. Aisyah pingsan setelah kepala suku memanggilnya ‘Suster Maria’.
*padahal bukan karena itu sebabnya

Hari pertama mengajar Aisyah diwarnai dengan penolakan dari para murid. Lordis Defam, yang diperankan oleh Agung Isa Almasie Benu, menjadi provokator sehingga semua murid meninggalkan kelas.

Setelah berembug dengan kepala dusun dan seorang warga, hal yang menjadi masalah adalah perbedaan agama. Yap, Aisyah yang beragama Islam harus mengajar di tengah kehidupan masyarakat yang mayoritas penganut Katolik.

Masalah ini bisa diatasi setelah kepala dusun memberitahu bahwa para warga masih menginginkan kehadiran ibu guru, masih ingin anak mereka sekolah. Esoknya kelas mulai pulih, namun tanpa presensi dari Lordis Defam. Ke manakah ia?

Usut punya usut, ternyata Lordis Defam masih tidak mau menerima kehadiran ibu guru muslimah itu karena menganggap Aisyah adalah musuh. Musuh yang akan menghancurkan gereja-gereja di tempat mereka. Anak sekelas yang kabur pulang kemarin pun termakan akibat provokasi ini.

Mengajar di daerah baru, dengan orang-orang baru, tentu menjadi tantangan bagi setiap pengajar pemula. Aisyah tetep bersiteguh untuk bertahan, dengan segala kemungkinan yang akan dihadapinya –karena ia ingin menjadi sarjana nomor satu, seperti yang dikatakan uwak-nya (lupa sebutannya). Kalimat ini menjadi patokannya saat ibunya, yang diperankan oleh Lydia Kandou, menelepon dan mengkhawatirkan keadaaan putrinya.

 

--

 

Ketegangan mulai muncul saat Aisyah dan para muridnya mendatangi rumah Lordis Defam. Sang Paman, yang hidup serumah dengan Lordis Defam berbadan kekar, tinggi, bertato, dan wajah seram.

Lordis yang nguping percakapan itu, kemudian lari kabur hingga akhirnya terpeleset. Ia dibawa ke rumah sakit. Di sinilah Lordis Defam mulai terenyuh dengan kebaikan Aisyah. Namun, belum sempat ia mengucap sepatah kata untuk berterima kasih atau lainnya, sang paman langsung menarik keponakannya itu untuk pulang.

Satu pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini adalah kita harus bisa berbuat baik pada semua orang, termasuk orang yang ‘disangka’ jahat. Semua perlu proses peradilan. Anak-anak yang ikut mengantar Aisyah ke rumah sakit, tidak ditujukan untuk membantu Lordis Defam, namun meraka berdalih ingin membantu ibu gurunya. Lordis Defam bukan anak ‘jahat’, ia hanya berbeda cara asuh dibanding anak-anak yang lain, begitu penjelasan ibu guru.

 

Toleransi yang kentara di film ini bisa dilihat dari keikutsertaan Aisyah saat membantu para muridnya membuat pohon Natal sederhana. Termasuk juga kesediaan Siku Tavares, yang diperankan oleh Dionisius R. Moruk, untuk membelikan makanan buka puasa untuk Aisyah.

Siku Tavares adalah anak dari ibu dusun, yang rumahnya menjadi tempat Aisyah menginap. Ia juga yang mengenalkan tentang keadaan sosial dusun Derok.

 

Bulan Ramadhan hampir habis, Aisyah ingin merayakan Lebaran di kampung halamannya. Namun, masalah muncul karena uangnya menipis, terlebih akibat membayar biaya administrasi untuk Lordis Defam tempo hari.

Scene yang menyentuh terjadi saat para ibu di dusun tersebut datang menemui Aisyah dan menyerahkan plastik yang berisi uang koin. Mereka berharap dengan uang itu, Aisyah bisa membeli tiket untuk pulang. Awalnya ia menolak, namun setelah nenek Siku Tavares ikut ‘menyumbang’ dari hasil penjualan kain tenun, Aisyah menerimanya. Haru.

Esoknya, selepas pulang dari loket pembelian tiket pesawat, Aisyah merasa beruntung. Bukan karena masih dapat tiket. Bukan. Ia merasa beruntung karena tidak jadi ‘merampas’ hak orang lain. Harga tiket naik lebih hampir seratus persen. Ia tidak jadi beli. Yang artinya juga tidak jadi menggunakan uang ‘patungan’ tersebut.

 

--

 

Di akhir kisah, akhirnya Aa Jaya datang ke dusun tempat Aisyah mengajar. Untuk apa ia datang? Apakah karena cinta, atau yang lainnya?

Sempatkah Lordis Defam ’berdamai’ dengan ibu gurunya itu?

 

Secara garis besar, film garapan Herwin Novianto ini memberikan pelajaran tentang indahnya toleransi antarumat beragama, tentang semangat pengajar, semangat para pelajar, dan keteguhan untuk ‘setia’ pada cita-cita. Termasuk kepatuhan kepada orangtua –terutama ibu— juga kesabaran dalam cinta. (bener gak ya, ini kesimpulannya?)

 

Bagi yang mau nonton, bisa disimak dulu trailer berikut.


*semoga film ini juga bisa menjadi salah satu pengingat untuk 'kembali' bangkit, bahwa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung toleransi.


  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    Kemarin udah nonton, sendiri.
    Bersyukur saya belum baca tulisan ini sama sekali. Karena ternyata lumayan banyak yang diceritain. Ah, padahal saya juga kalau sudah tertarik pengin nonton sebuah film gak bakal ngelirik trailer apalagi reviewnya.

    Btw, Tavares, bukan Taverus.

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Saya dah pernah juga nis..kayak aisyah..tapi bukan di pedalaman..
    Memang ada kerukunan..tapi kadang ada saja gesekan2 kecil yang mudah ditiup jadi bara.

    • Lihat 3 Respon

  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    Waaaah, udah nonton, ya? Saya beluuum.
    Spoiler.

    • Lihat 5 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Spoiler bagi penyuka film seperti saya.

    • Lihat 3 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    *mmm*

    Kalo Anis nanti jadi menteri ekonomi, buat bioskop di hutan terlarang, yah.

    Kalo mau respon tak usah terlalu mancing paya panjang, Nis.

    Oka!