Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 4 Mei 2016   00:00 WIB
Arju-na: Kamulah Harapan Kami

“Lapor, Bos, semua barang sudah tersedia. Gudang sudah penuh,” ucap seorang pria berbadan kekar.

“Para warga juga mulai berduyun-duyun ke desa lain, Bos, sepertinya misi kita akan berhasil,” ucap pria  lainnya.

“Bagus. Ini akan jadi salah satu permainan yang menyenangkan!” ujar seorang pria muda yang menjadi pemimpin dalam kelompok itu.

~~~

Ruangan itu dipenuhi beberapa drum minyak yang terjajar rapi. Sebagian disesaki oleh puluhan karung beras dan jagung. Kebutuhan pokok warga terampas. Ikhtikar sudah menjadi kebiasaan orang-orang ini. Hal yang mereka anggap permainan, tanpa peduli berapa banyak manusia yang makin sengsara.

Masalah ekonomi hampir selalu menjadi kambing hitam segala macam kejahatan. Orang mencuri karena terlilit ekonomi. Pedagang berdusta karena ingin ekonomi keluarganya membaik. Bahkan ada yang menggadaikan iman hanya demi ekonomi, terlebih untuk urusan perut!

Tuhan telah menjelma dalam bentuk-bentuk yang kita persepsikan bisa memenuhi keinginan masing-masing. Uang dituhankan. Jabatan dituhankan. Bahkan, gadget pun bisa dituhankan. Banyak hal yang membuat manusia lupa diri akan hal semestinya dia lakukan, hal yang seharusnya ia peluk lebih erat. Mungkin ini terjadi karena manusia sekadar memeluk agamanya, belum sampai pada ‘bersetubuh’ dengan agama.

~~~

Pria muda itu tersenyum memandangi hasil kerja anak buahnya. Senyum penuh ambisi, penuh kelicikan. Baginya, permainan untuk menguasai dunia usaha dan ketergantungan kebutuhan masyarakat adalah target besar yang harus segera dicapai. Pikirannya berkutat pada segala hal yang profit oriented. Pengorbanan apapun akan dilakukan demi mendapatkan hasil yang setara, bahkan melebihi perbandingan. Perbandingan antara cost dan benefit.

Ia berjalan ke meja kerjanya. Matanya tertuju pada daftar kegiatan seminggu ke depan. Banyak acara seminar yang harus ia hadiri. Sebagai seorang entrepreneur muda dan sukses, menjadi pembicara dalam kegiatan publik bukanlah hal yang baru baginya. Di usianya yang belum genap 30 tahun, dua usaha kuliner telah ia rintis. Satu toko sembako, toko paling ramai yang dikunjungi masyarakat satu desa. Satu penerbit, yang mem-publish buku-buku motivasi bisnisnya. Ada juga usaha training bagi calon pengusaha baru.

Punggung pria muda itu telah bersandar pada sebuah kursi. Pandangan matanya kini beralih pada ‘buku tua’ yang sudah lama tidak ia sentuh, berada di tengah tumpukan buku-buku lainnya yang lebih tebal.

Sudah berapa lama kamu tidak membukanya?” Suara hati pria itu mulai berbisik.

~~~

“Harga sembako naik lagi, tapi dicari-cari gak ada yang jualan,” keluh seorang warga.

“Iya. Udah naik, langka lagi,” gerutu yang lain.

Suasana pasar penuh dengan keluhan para pembelinya. Mereka mengeluhkan tentang teori ekonomi kuno yang telah lama dipelajari anak sekolah menengah hingga yang bergelar profesor. Teori permintaan barang yang menjelaskan adanya hubungan berbanding terbalik antara harga barang dengan jumlah yang diminta. Dalam kondisi harga tinggi, jumlah barang akan menjadi lebih sedikit. Pasar, barang, dan harga. Satu-kesatuan yang tidak akan pernah terpisah. Penghalang di antara ketiganya adalah soal kelangkaan.

Momen kelangkaan selalu menjadi kesempatan emas bagi para penimbun barang. Setelah membiarkan masyarakat berhari-hari berkeliaran mencari kebutuhan pokoknya, para penipu ini akan ‘memamerkan karya’ mereka. Menjadi penyelamat di tengah musim paceklik. Penyelamat di balik topeng kemunafikan.

~~~

Sudah berapa lama kamu tidak membukanya?”

Pertanyaan itu kembali mengganggu telinga pria muda itu. Pertanyaan yang tidak butuh jawaban. Namun juga tidak diketahui kapan akan terjawab.

Badannya masih tegap di balik jendela. Sisa udara pagi hari masih bisa dihirupnya meski mentari mulai meninggi. Vila di puncak yang ditempatinya ini selalu memberi kesejukan bagi raganya. Entah bagaimana dengan batinnya.

Pria muda itu telah siap dengan penampilan yang perfect, sesempurna bahasan topik yang selalu dibawakannya dalam setiap seminar. Pagi itu pun dia akan kembali mengisi sebuah seminar kewirausahaan.

Mobil melaju dengan pelan. Sang sopir bisa bernapas lebih teratur karena tidak diburu waktu seperti biasanya. Maklum, sang bos sering mendapat ‘panggilan’ mendadak. Berbeda dengan kali ini, masih ada waktu satu jam dari pembukaan acara.

Ssssssttt. Seketika mobil itu mengerem. Laju mobil berhenti mendadak karena iringan pelayat. Lantunan suara tahlil terus terucap sepanjang perjalanan rombongan itu.

Pria muda itu menghela napas. Pandangannya mulai tersita pada keranda jenazah yang tertutup kain hijau. Pandangan yang berbeda. Ia seperti menerawang jauh tanpa batas. Hingga akhirnya muncul setitik embun di kelopak matanya.

Tidak. Tidak. Tidaaaaak.” Suara batinnya berbisik lagi.

 

---

Sungguh, telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, dan yang banyak mengingat Allah.*

“Sekarang kaupaham kan, Nak, kenapa Ayah memberimu nama Arjuna?” tanya lelaki berkumis itu.

“Iya, Ayah. Sekarang Arju paham. Semoga Arju benar-benar bisa menjadi harapan Ayah dan Ibu. Semoga Arju selalu menjadi hamba yang mengharap rahmat-Nya, dan diizinkan memperolehnya.” Jawab anak yang baru saja merayakan ulang tahun kedua belas itu.

Syukuran ulang tahunnya tidak pernah meriah sebagaimana teman-temannya. Hanya berkumpul bersama kedua orangtua, serta keluarga besarnya saja.

---

 

“Woi, bangun!”

Pemuda itu terbangun bukan karena teriakan sahabatnya, tapi karena tepukan tangan yang dilakukan berkali-kali di bahunya.

“Dicariin kemana-mana, gak taunya malah tidur di sekre,” celetuk seorang teman.

“Eh? Aku gak tidur, cuma ketiduran aja tadi.” Sanggah si pemuda yang menjadi salah satu sie acara bedah buku  Satanic Finance itu.

“Jam berapa Pak Riawan Amin bakal dateng? Udah ada konfirmasi dari beliau kan?” tanya teman ketiga.

“Udah, kok. Gak nyampe sejam juga udah tiba di sini.”

“Oke, sip.”

“Eh, aku tadi sempet mimpi aneh. Takut juga sih,” ujar pemuda yang masih mengumpulkan kesadaran itu.

Ia lalu menceritakan perihal mimpinya. Tentang ia yang menjadi pengusaha ‘lupa diri’. Tentang kesadaran saat mengingat kematian. Mimpi yang mengingatkan ia untuk ‘kembali’ pada doa di namanya.

~~~

Demikian, kisah awal yang menjadi sebab idealisme Arjuna. Ia mulai bertekad melakukan hal-hal baik. Konsisten pada kebaikan. Karena sejatinya hidup adalah untuk kebaikan. Untuk berbagi kebaikan, menebar manfaat.

Dalam belajar ekonomi, ia tidak melulu melahap teori-teori dari ekonom Barat. Ia juga mengenal Abu Ubayd yang –diduga- menginspirasi Adam Smith dalam menulis buku The Wealth of Nations. Tidak hanya mengenal karya Keynes, Malthus, dan Richardo saja, namun juga Ihya Ulumuddin karya Al-Ghozali, Al-Kharaj karya Abu Yusuf, dan masih banyak lagi.


ikhtikar (penimbunan): mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi.
*QS. Al-Ahzab: 21
Arju: ana arju (aku berharap: arabic)

 

 

Surabaya, midnight 3-4 Mei 2016.

Karya : Anis