May dan Al

Anis
Karya Anis  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 April 2016
Jeda

Jeda


*belajar nulis :(

Kategori Cerita Pendek

5.3 K Hak Cipta Terlindungi
May dan Al

edited on April 26th 2016 8.30


Benarkah Senin adalah hari yang menyebalkan?
Mungkin beberapa orang akan berucap "I hate Monday", tak terkecuali May. Ia seharusnya bisa melakukan perjalanan dengan kereta api menuju kampusnya di Surabaya. Hari itu membuatnya sebal. Hari Senin. Ia ketinggalan kereta! Harusnya dia memesan seminggu sebelum jadwal keberangkatan. Namun karena memang tipikal perempuan yang suka mendadak bin tergesa-gesa dan terburu-buru, ia yakin bahwa di hari H masih ada tiket yang tersisa untuknya.

Tidak mau membuang waktu untuk berpikir lama, ia segera menuju terminal terdekat. Diantar oleh bapaknya. Sang bapak sudah bisa mafhum dengan kebiasaan anaknya sejak lama. Maka dituruti saja permintaan si anak.

 

Ruangan bus Harapan Jaya sesak oleh bau keringat para penumpangnya. Termasuk dari asap rokok beberapa lelaki yang tidak sadar akan kesalahan mereka. Tidak ada yang berani menegur. Sang kondektur yang menarik uang karcis saja juga merokok. Beberapa penumpang wanita hanya menutup mulut mereka dengan masker. Seorang ibu nampak semakin erat memeluk bayinya.

May duduk di sebelah pemuda yang tidak merokok. Ia bersyukur karena hal ini. Namun ia masih saja sebal. Si pemuda itu tidur mendengkur keras! Berisik.

"Ini masih pagi, kok udah ada yang tidur kayak gini. Semalem begadang kali, ya,” gumamnya dalam hati.

Sepanjang perjalanan ditahannya perasaan sebal itu. Ia kuatkan hati demi tujuan mulia: mencari ilmu. Nasihat dari guru madrasahnya dulu masih teringat dalam benaknya: barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga. Ia memang lupa itu hadits dari perawi siapa, namun inti matan hadits itu selalu ia ingat, selalu ia jalankan.

 

Terminal Joyoboyo nampak ramai. Beberapa orang lalu lalang. Ada yang berebut naik ke dalam bus. Ada yang tak sabar turun dari bus. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

May hendak turun dari bus. Sebuah ransel menggantung di punggungnya. Dua tangannya memegang tas jinjing berisi makanan dan entah apa lagi. Ibunya selalu khawatir, hingga begitu banyak barang bawaan yang harus dibawa May setiap kali pulang kampung. Mungkin mirip orang mudik lebaran!

 

Tiba-tiba…

Buk! Saat kakinya hendak menuruni tangga, seorang pemuda dari belakang mendesaknya. Sebenarnya juga didesak oleh penumpang-penumpang di belakangnya. Tubuh gadis berjaket itu hampir terjatuh, sebelum sebuah tangan membantu mencegah tubuhnya agar tidak jatuh.

Mirip adegan film dengan efek slow motion, May menatap wajah seseorang yang membuatnya tidak jatuh itu. Tidak jatuh ke tanah, memang. Namun dia merasa ada ke-jatuh-an lain. Rasa sebalnya terhadap hari Senin kali itu menjadi rasa syukur. Seolah alam sudah merencanakan semua ini. Seolah kereta api yang kehabisan tiket dan bus yang sesak dengan asap sudah menjalankan skenario dari alam. Skenario yang akhirnya membuat dia bertemu pada sosok penolongnya hari ini.

Alam seperti memiliki konspirasi atas semua ini.

 

 

 

Entah berapa lama dia terdiam, sebelum akhirnya sapaan sang pemuda yang menolongnya itu terucap.

“Mbak gak apa-apa, kan?”

“Eh.. enggak, kok. Gak apa-apa, Mas,” jawabnya dengan gugup.

Basa-basi percakapan itupun berlanjut hingga mereka menemukan tempat berteduh. Bercakap seputar dari mana, mau kemana, sibuk apa, nama siapa, hingga status apa. Ups, yang terakhir itu gak masuk ya  :P

 

“Eh, mau makan gak? Temenmu masih lama kan jemputnya?” tanya si pemuda yang ternyata bernama Al.

“Makan apa? Aku tadi udah makan, kok.”

“Yakin? Tapi kok tadi lemes mau jatuh. Makan hati atau makan nasi?” canda Al.

May seketika seperti tersedak terong pada nasi penyetan. Apakah Al tahu bahwa dirinya sedang patah hati? Bagaimana dia bisa tahu?

“Hei, kok malah bengong.”

Sambil pura-pura sibuk menyeka keringat di wajahnya, gadis itu hanya mengulum senyum. Mereka akhirnya memutuskan makan di warung terdekat.

 

 

Pemutar lagu masih menyajikan lagu-lagu galau. May sedang menikmati kegalauannya malam itu. Berteman satu pack tisu berisi 250 lembar, ia duduk di meja belajarnya. Air matanya mulai menetes. Tisu mulai berguna dalam keadaan ‘genting’ seperti itu. Meskipun setelahnya, ia menyesal karena sudah menangis tiada guna. Lebih menyesal lagi karena tidak sayang hutan dengan menyia-nyiakan tisu hanya demi air mata yang tidak berguna. Air mata demi seseorang yang tidak memikirkannya.

Masalah cinta masih menjadi penyebab nomor satu kegalauan May. Menjalin cinta sejak kelas tiga SMA dengan teman sekelasnya, membuat dia harus bersiap-siap dengan LDR jika sang kekasih berbeda tempat kuliah kelak. Itulah yang terjadi. Beberapa kali pertengkaran kecil terjadi. Biasanya seputar masalah telat balas chat, telat ngabarin keadaan, telat laporan kegiatan, telat bayar tagihan utang. Eh, jadi ngelantur gini.

Sebagai perempuan yang perasa dan mudah baper, dia pun mudah cemburu. Pertengkaran terakhir mereka adalah tentang kecurigaan May bahwa si Upil, panggilan cowoknya itu, memiliki gebetan baru. Klasik memang. Pertengkaran itu tidak memiliki mediasi apapun, yang akhirnya terucaplah kata yang menyakitkan itu. Bukan putus. Hanya break alias jeda.

Meskipun terasa sakit, May masih belum bisa move on. Dia masih sulit melangkah tanpa lelaki itu.

 

 

Pagi yang murung. Tanpa matahari. Tanpa kicau burung. Pun tanpa kupu-kupu lucu yang hinggap di bunga-bunga.  Hari yang murung, seperti hati May.

Di kantin kampus, gadis itu melamun. Sendiri. Hanya sepiring nasi bakso bakar yang menemaninya. Makanan yang sekian menit dibiarkannya demi mengizinkan pikirannya mengembara entah kemana. Galau selalu membuatnya memilih tempat dan waktu untuk menyendiri.

“Hei, ngapain ngelamun aja?”

Suara pemuda itu lagi yang mengagetkannya. Tanpa dipersilakan duduk, dia langsung mengambil tempat di depan gadis yang bermuka sendu itu.

May lalu menceritakan semua tentang penyebab kegalauannya. Tentang berapa tisu yang dia habiskan tiap malam. Berapa budget anggaran tisu yang dia sediakan tiap bulan. Aaaaaarrgh, kok?

“May, hidup itu akan indah jika kamu mampu mengikhlaskan apa yang harus dilepaskan,” ucap Al sok bijak, lalu dia melanjutkan dengan pertanyaan, “masa kamu kalah sih sama masalah ini?”

 

 

Senyum mulai terkembang di bibis gadis itu. Ia tidak menjawab apapun, tapi dia mengiyakan apa yang dikatakan Al. Ada bahagia di hatinya, meskipun ada embun yang keluar dari kelopak matanya. Itu bukan tangisan sedih, semoga.

“Ciee yang senyum,” goda Al.

“Apaan cie-cie?” respon May, malu.

"Hehe gak papa, kok," jawab Al pendek sambil cengengesan.

 

Minggu pagi yang biasanya digunakan untuk pergi bersama, kini tidak berlaku lagi bagi May. Ia sudah bisa melupakan si Upil. Hari itu dia gunakan untuk menonton kartun kesayangannya sejak masa kecil: Doraemon.

  *versi yang ini bagus gak?  :D

 

Waktu demi waktu semakin membuat May dewasa. Dia tumbuh menjadi perempuan yang tidak melulu mengedepankan perasaan. Logikanya mulai sejalan dengan setiap apa yang dirasakannya. Deskripsi ini sepertinya agak ribet ya. Maaf deh :D

Kebersamaan May dengan Al telah mengubah jalan hidup gadis itu. Dia tidak serapuh dulu. Dia sudah menjadi wanita yang tegar. Hingga datang suatu kabar yang membuatnya kembali takut…

“Aku harus pergi ke Makassar sebulan, ngikutin training itu. Kuharap kamu bisa ngerti, May,” jelas Al di telepon.

“Selama itu ya?” tanya May.

“Iya, itu sudah ditentukan sama perusahaannya.”

“Aku takut …”

“Kamu takut terhadap jarak yang memisahkan kita? Jarak yang membuatmu sedih?”

“Iya…”

“Percayalah May, aku tidak takut melewati semua ini. Aku tidak takut dengan jarak ini. Asal…” Al menggantungkan kalimatnya.

“Asal apa?”

“Asal kamu jadi tempat aku pulang. Kamu yang jadi tujuanku nanti. Sepulang dari tugas ini, aku akan melamar kamu.”

 

 

Begitulah, cerita cinta May dan Al. Cerita yang biasa-biasa saja. Tidak semanis dongeng, tidak seperti drama sinetron. Mereka tidak membutuhkan apa-apa, selain keberadaan satu sama lain, keberadaan pasangannya. Sesederhana itu.

Maaf jika kisah ini kacau. Ditulis dalam keadaan khilaf oleh pengarangnya :D

 



 

 

Beberapa bulan lalu, saya secara tidak sengaja menemukan lagu berjudul April yang dinyanyikan oleh Fiersa Besari. Lelaki yang kerap disapa 'Bung' ini juga pandai menulis sastra --karena memang lulusan jurusan tersebut. Beberapa waktu ini, dia berbagi 'bocoran' yang berisi tentang cerita dari lagu-lagunya di Ruangan Imajinasi, Ruangan Raungan Inspirasi.

 

Surabaya, 18-19 April 2016


  • Polisi Bahasa Bayangan
    Polisi Bahasa Bayangan
    1 tahun yang lalu.
    Sayang sekali di artikel ini tidak ada salah ketik. Artikel yang mebmosankan.

    • Lihat 11 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Untuk tulisan ini saya tak bisa banyak komentar.

    Selamat kepada Pop May ... *_*

    • Lihat 7 Respon

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    Cintaku Kepentok Ndek Pop - May, apik rek alur e...promote ah...

    • Lihat 18 Respon

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Cowok emang gitu....

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Akal" an bengkel,