Aku atau Kamu yang Gila?

Anis
Karya Anis  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 April 2016
Aku atau Kamu yang Gila?

 

Di Masjid

 

Kami menempati saf paling depan. Sembari menunggu ikamat, beberapa anak mengobrol. Entahlah, aku tidak tahu mengapa mereka tidak bisa menahan untuk memulai obrolan setelah selesai salat saja. Mengapa mereka tidak lebih mengkhusyukkan diri dalam lantuan pujian pada Ilahi pada pagi yang masih gelap itu.

Aku berada di antara beberapa teman yang sedang mengobrol itu. Mereka tidak mengajakku berbicara. Menyapa pun tidak. Kenapa? Apakah aku ada salah dengan kalian? Dan bodohnya, aku enggan menyapa mereka duluan. Aku hanya diam, mendengarkan setiap kata yang ternyata menyakitkan hati itu.

“Eh, nanti jangan mau duduk deket-deket dengan si Anis ya, dia kan aneh,” ucap seorang teman di sebelah kiriku.

“Iya, aku baru sadar saat dia menjawab pertanyaan dari pemateri. Kok gitu banget sih jawabnya. Aneh.” Tambah teman di sebelahnya.

“Mungkin dia ada kelainan. Mungkin dia punya kecanduan.” Teman di sebelah kananku mulai angkat bicara.

“Hah, kecanduan apa?” tanya teman yang menempati saf belakangku, heran.

“Kecanduan gila. Mungkin udah gak waras dia.” Jawab si penyebut diriku kecanduan tadi.

 

Hei, aku di sini. Tidakkah kalian melihatku? Tidakkah kalian menganggapku? Apa maksud semua perkataan itu?

 

Aku hanya mengucap semua kalimat itu dalam hati. Mulutku tertahan untuk mengeluarkan suara. Sekali lagi aku hanya bisa diam, tanpa respon apapun terhadap mereka. Kucoba fokus untuk mendengarkan lantunan puji-puji Tuhan, berharap sang imam segera datang sehingga semua teman-teman yang menyebalkan ini segera menutup mulutnya.

Saking khusyuknya mendengarkan dan menghayati pujian itu, aku merasa tidak ada suara lain yang terdengar selain semilir angin. Bahkan suara sang muadzin itu lenyap oleh suara angin yang entah dari mana itu. Aku makin larut. Sampai tidak kupedulikan sekitarku. Wajahku menunduk dalam. Hanya jalinan benang pada sajadah yang kupandangi. Warna hijau. Warna damai. Warna surga.

Hingga akhirnya aku mulai menitikkan air mata. Kuseka air mata itu. Daguku mulai terangkat, kupandang apa yang ada di depanku. Hah? Sudah sujud? Aku ketinggalan? Bagaimana bisa? Duh, semoga cuma ketinggalan satu rakaat.

Cepat-cepat aku berdiri. Ternyata benar.  Saat aku berdiri, saat itu pula makmum bangkit dari sujudnya. Fokusku sedikit terganggu karena memikirkan kenapa sampai aku tidak mendengarkan ikamat. Kenapa aku sampai tidak sadar bahwa imam telah takbiratul ihram.

Saat imam dan makmum lainnya salam, aku yakin pasti hanya aku yang mengulang rakaat tertinggal. Padahal aku di saf depan, kenapa bisa? Tuhan, maaf aku tidak khusyuk. Aku berusaha mengurangi hal-hal yang menggangu ini dengan memejamkan mata. Semoga aku bisa fokus. Semoga aku bisa khusyuk.

Selesai salat, aku menyempatkan berdoa dan zikir sejenak. Kulihat teman-teman di sebelahku tadi mulai mempersiapkan diri untuk meninggalkan masjid. Aku tidak peduli apakah mereka mau menungguku atau tidak, untuk kembali bersama ke penginapan.

Ternyata mereka memang kembali duluan. Aku tertinggal dari kelompokku. Kulihat di teras masjid masih ada beberapa teman dari kelompok lain yang entah sedang berdiskusi apa. Aku tidak peduli  dengan perbincangan mereka. Akhirnya aku bergegas meninggalkan masjid.

Saat sudah memakai sendal dan hendak melangkah, ada sesuatu yang membuatku terhenti.
Kacamataku, dimana? Ketinggalan di depan ya?

Kembali aku masuk masjid, mencari barang yang kurasa hilang. Pandanganku menyapu ke beberapa bagian dari saf perempuan.
Loh, kok gak ada?

Serasa putus asa, kukepalkan tanganku seperti hendak marah.
Eh, kok? Ternyata dari tadi sudah aku pegang kacamatanya. Astaghfirullah.

 

Di Jalan

 

Akhirnya kulangkahkan kali meninggalkan masjid. Jarak masjid dan penginapan sekitar 100 meter. Aku berjalan sendiri. Pagi itu masih gelap dan dingin. Di tengah jalan, kulihat di ujung sana ada tiga orang pemuda yang entah sedang apa. Mereka terlihat duduk di tepi jalan, di sebuah bangku. Satu di sebelah kiri jalan, sisanya di kanan jalan. Duh, mau ngapain sih mereka? Masa abis jamaah malah ngumpul gak jelas gitu di tengah jalan?

Semakin dekat langkahku dengan jarak mereka, aku semakin takut. Langkahku makin pelan, namun jantung semakin cepat berdetak. Semakin dekat, kuperhatikan mereka tidak berbincang apapun satu sama lain. Mereka diam dan senyum-senyum sendiri.

Aku semakin takut. Kenapa dunia semakin aneh gini?

Satu langkah sebelum tepat aku sejajar dengan posisi pemuda pertama, dia menyapaku singkat, “Hai, Mbak.”

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Kemudian kupercepat langkah kakiku. Tidak kupedulikan lagi mereka bertiga, meskipun setelah tiga langkah melewati mereka, ada tawa yang diciptakan oleh ketiga pemuda itu. Entahlah, apa yang mereka tertawakan. Mungkin menertawakan aku yang polos ini. Mungkin menertawakan hal lainnya. Sekali lagi, aku tidak peduli.

 

Di Penginapan

 

Dari beberapa anggota kelompokku yang menyebalkan itu, masih ada satu orang yang mau bertegur sapa denganku. Jangan pikir dia lembut dan penyabar, dia cuek seperti yang lain. Hanya saja dia masih mau berbincang meskipun dengan muka sebal dan enggan melihat wajahku. Dia mengatakan bahwa teman-teman lain menganggapku aneh saat aku menjawab pertanyaan dari pemateri kepenulisan kemarin.

“Kamu masih ingat pertanyaan pemateri tentang dari mana ide untuk karyamu yang menjadi pilihan kemarin?” tanya temanku ini.

“Iya, ingat. Aku membayangkan diriku sebagai seorang anak yang ditinggalkan ibunya, sementara sang bapak pun telah tiada, karena cerai saat aku umur lima tahun. Aku merasa hampa hidup sendiri tanpa kedua orang tua,” jelasku.

“Nah, itu. Mereka menganggapmu aneh karena alasan macam itu.”

Hah? Apa yang salah dengan ide semacam itu? Aku hendak bertanya pada temanku itu, namun dia keburu pergi. Oh, ternyata itu yang menjadi awal mereka menganggapku gila, seperti yang juga mereka ucapkan tadi subuh di masjid.

 

Di Kelas

 

Sambil menunggu pemateri datang, para peserta diizinkan makan snack dalam kelas. Habis makan pagi, dikasih snack, siap-siap tidur deh pas materi.

Aku menuju kelas. Kau tahu apa yang kubawa? Aku membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Tanpa sendok. Nasi dalam piring itu tinggal setengahnya. Sebagian sudah kumakan di meja makan, tanganku pun masih berminyak oleh ayam goreng dan sambal saat memasuki kelas.

Aku duduk di bangku paling depan bersama teman-teman kelompokku. Iya, teman-teman yang menyebalkan itu. Dan aku tidak peduli apa kata mereka, aku mulai meneruskan untuk menghabiskan sisa makananku.

“Hei, udah dulu makannya. Pemateri udah dateng, tuh. Nih, buku catatanmu,” kata temanku yang cuek tadi sambil menyerahkan sebuah blocknote dan pen. Lalu secara paksa ia mengambil piringku, menyembunyikannya di laci mejaku.

 

Di Rumah

 

Setelah acara pelatihan itu resmi ditutup, aku pulang ke rumah. Di depan rumah ada seorang pemuda yang mengantar undangan pernikahan. Anehnya, dia menyertakan tiga strip obat untuk masing-masing undangan itu. Satu undangan untuk orang tuaku, satu untuk nenekku, satu lagi untuk pamanku. Ya, rumah kami bertiga memang terpisah, jadi ada tiga undangan.

Sempat kutanyakan untuk apa obat itu kepada orang yang mengantar undangan, katanya, “Iya, Mbak. Sekarang kan musim hujan, jadi dengan itu diharapkan para tamu undangan tidak ada halangan sakit untuk menghadiri resepsi nanti. Jangan lupa diminum ya Mbak.”

Aku tidak paham. Dunia makin aneh. Entahlah, badanku sudah lelah dan ingin segera beristirahat, tidak ada waktu untuk menanyakan perihal obat itu.

Masuk ke rumah.
Menuju kamar ibu. Aku kaget. Kulihat ibuku dengan berselimut sambil menangis di atas tempat tidur. Mirip orang sedang sakit.

Belum sempat aku berucap salam, ibu sudah mulai berbicara, “Kamu kenapa, Anis? Kamu tega ya, bikin keluarga kita jadi gini,” kata ibuku dengan sesenggukan.

“Ha? Maksud Ibu gimana?” tanyaku singkat. Aku makin tidak mengerti dengan semua keanehan ini. Ini bukan tanggal  1 April. Ini juga bukan hari ulang tahunku. Mengapa semua orang aneh gini? Mereka mau ngasih kejutan apa, sih?

Nih, lihat. Apa ini?” Ibuku berkata dengan nada sedikit keras, sambil menunjukkan selembar kertas.

Kuamati dengan seksama kertas itu. Ukurannya seperti ukuran uang kertas. Di situ ada pernyataan bahwa beberapa teman bersaksi bahwa telah terjadi keanehan padaku, telah terjadi kelainan padaku. Dan sebuah pernyataan yang ditulis dengan huruf kapital membuat kepalaku penuh dengan tanya:

Maka dengan ini kami menyatakan bahwa saudara/i Anis telah mengalami KELAINAN.

“Ibu dapat ini dari mana? Aku gak paham maksudnya. Aku baik-baik saja, Bu. Aku normal.” Kataku sambil menahan air mata yang ingin menetes. Tiga lembar undangan dan tiga strip obat tadi tiba-tiba terjatuh dari tanganku.

“Kamu lihat aja tuh dari mana. Ada tanda tangan dari pihak yang bersangkutan juga,” jelas ibuku, dengan nada masih keras. Mungkin ia tidak terima anaknya dikatakan memiliki kelainan.

Aku tidak bisa berkata-kata. Tangisku mulai pecah. Kudekati ibuku dan kupeluk dia. Ibu pun ikut menangis. Ia semakin memelukku erat.

Entahlah, aku tidak tahu kenapa dunia semakin aneh. Aku tidak tahu kenapa semua orang itu bersekongkol untuk membuatku seperti ini. Aku tidak tahu. Aku hanya ingin menangis sekarang, di pelukan ibuku.

 


KBBI: saf, salat, ikamat, zikir, khusyuk.

  

PS: Cerita aneh ini terinspirasi dari mimpi di siang hari kemarin. Meskipun gak persis, tapi intinya seperti itu.
Sebenarnya gak niat tidur, cuma mau rebahan sambil nunggu Dhuhur, eh, malah bablas sekitar setengah jam.
Mungkin mimpi itu efek dari gak baca doa tidur, juga peringatan akibat tidur gak pada waktunya.
Harusnya kan betahin melek dulu, trus salat, baru tidur. Bukannya malah ketiduran.


Entahlah, maaf itu hanya kesimpulan ngasal :D
Semoga kamu yang baca gak niru kebiasaan ini :D
 

Depan Koleksi Referens PUA, 11 April 2016


  • Fatio Yosando
    Fatio Yosando
    1 tahun yang lalu.
    GILA... Gak Ingin Lelap Aja (tidurnya)..
    mantep mba.. josh yang ini.

    • Lihat 7 Respon

  • Novi asih
    Novi asih
    1 tahun yang lalu.
    Dari awal baca serius ngikutin alurnya. Pas sampai endingnya, diluar dugaan. Haha

    • Lihat 11 Respon

  • Agung Pangestu 
    Agung Pangestu 
    1 tahun yang lalu.
    Haha... keren. Sudut pandangnya tidak terduga.

    • Lihat 1 Respon

  • Ujank Ahmad Solihin  
    Ujank Ahmad Solihin  
    1 tahun yang lalu.
    Bukan Aku atau Kamu tapi Kita semua gila

    • Lihat 8 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Judulnya ajib... ^_