Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 7 April 2016   11:42 WIB
Air Mata yang Tidak Kamu Tahu

 

Entah kenapa hari ini aku merasa sangat malas. Pagi bukanlah sesuatu yang kutunggu. Pagi menjadi sesuatu yang menjemukan semenjak perbincangan kita sore itu. Banyak kata yang kita ucap kala itu. Maaf jika ada nada bicaraku yang terlalu keras, pun melukai hatimu.

Senja kala itu tidak seindah seperti yang pernah kita nikmati sebelumnya. Air matamu telah merusaknya. Semburat mentari tidak mampu menyeka embun yang mengalir di kelopak matamu. Dan tanganku… juga tak bisa menyentuh pipimu, agar tak membiarkan air mata semakin deras membasahinya.

 

Maaf aku sudah membuatmu menangis.

Maaf jika aku sudah egois dengan berpura-pura ‘tegar’, sementara kubiarkan dirimu terluka.

 

Kamu tahu kenapa? Aku hanya tidak ingin menangis di hadapanmu. Andai saja kamu tahu, sebenarnya aku juga ingin menangis saat itu. Aku juga ingin menghabiskan berlembar-lembar tisu seperti kebiasaanmu itu. Lebay memang.

Ternyata senja memang tidak selalu indah. Senja menjadi pemisah bagi kita. Sesuatu yang kamu benci. Aku pun membenci perpisahan. Tapi kita bisa apa? Menuruti permintaan orangtua adalah lebih penting bagimu, dibanding menuruti keinginanku. Iya, dibanding mempertahankan cinta kita.

Tiba-tiba saja kamu pergi dengan mata sembab tanpa mau aku antar pulang. Aku hanya ingin memastikanmu baik-baik saja hingga sampai rumahmu. Kamu tidak menjawab tawaranku. Bahkan membalikkan badan untuk sekadar menengokku pun tidak. Kamu malah makin mempercepat langkah kaki.

Aku tahu kamu kecewa dengan keputusanku untuk mengakhiri kisah ini. Andai kamu tahu bahwa aku ingin mengakhiri kisah ini dengan happy ending. Andai kamu tahu bahwa aku juga sakit dengan keadaan ini. Sayangnya kamu tidak tahu. Sayangnya aku terlalu lemah untuk menunjukkan rasa luka ini.

Dan andai kamu tahu bahwa air mataku tumpah mengingat pertemuan terakhir kita. Apalagi sekarang gerimis mulai turun. Ah, melankolis sekali suasana ini. Tapi setidaknya hujan bisa menyamarkan tangisanku.

 Entah, apakah masih ada harapan untuk kita membuat kisah ini  berakhir bahagia?


 

 

Surabaya, 7 April 2016

Karya : Anis