Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 1 April 2016   00:53 WIB
Tentang Malam yang Memeluk Air Matamu

 

Malam adalah tempatmu pulang. Memulangkan rasa lelahmu. Entah fisik atau jiwamu yang lelah. Malam selalu menyediakan tempat dan waktu bagimu. Meski kadang kamu membuangnya, menghabiskan malam bukan sebagai peruntukannya.

Kamu biarkan mata itu terjaga di malam hari tanpa melihat sesuatu yang berarti. Mata yang harusnya sudah lelap. Kaki dan tanganmu harusnya sudah ikut rebah bersama punggungmu, diam untuk melemaskan otot-otot tubuhmu.

Malam selalu datang tepat waktu. Tanpa kamu minta. Tanpa ada janjian lebih dulu denganmu. Ia dengan setia memberikan apa yang kamu perlukan. Selain ruang dan waktu, apa yang lebih berharga dari itu? Ruang tempatmu bergerak. Waktu yang membuatmu memiliki kesempatan.

 

Suatu ketika kamu ingin mengutuk malam. Malam yang hitam pekat. Seperti pikiranmu yang keruh. Polusi tak hanya menyesaki dadamu, pikiranmu pun diserangnya. Seolah hari esok tak memiliki warna putih lagi. Hitam yang menghadirkan sesuatu yang buram, suram.

Malam tak benar-benar menjadi tempatmu pulang. Rasa lelahmu masih melekat di tubuhmu. Matamu terjaga. Ada embun di kelopaknya. Dan kamu tak bisa menahannya. Air matamu mulai mengalir diikuti gerak di bibirmu. Entah rapalan doa apa yang terucap.

Kamu terjaga di malam hari. Malam pun menjadi penjaga. Malam memelukmu, juga mengusap air matamu. Malam tahu kapan waktu yang tepat bagimu untuk melampiaskan rasa di dada yang sesak itu.

 

Jadi, mengapa kamu sering menangis sebelum tidur di malam hari?

 

Surabaya, 27 Januari 2016

Karya : Anis